Sebulan kemudian, ketika tanah sudah kembali kering dan langit kembali biru, Pondok Indah mengadakan upacara penanaman.
Keluarga datang dari mana-mana. Dari Bandung, dari Yogyakarta, dari pelosok-pelosok tempat keturunan Razka dan Aira tersebar. Yang tua datang dengan tongkat, dipapah cucu. Yang muda datang membawa anak-anak balita yang belum mengerti apa-apa, tapi kelak akan menceritakan hari ini.
Di tengah pekarangan belakang, di titik yang tak jauh dari tempat pohon lama berdiri, sebuah lubang telah digali. Di sampingnya, dalam pot kecil, sebuah bibit mangga — generasi ketujuh — menunggu. Tingginya baru sebatas lutut, daunnya masih muda dan kemerahan, rapuh tapi hidup.
Razi berlutut di tepi lubang. Tangannya, tangan seorang peneliti yang lebih terbiasa memegang dokumen daripada cangkul, kini berlumur tanah. Tapi ia ingin melakukannya sendiri.
"Sebelum kita menanam," katanya kepada keluarga yang melingkar, "izinkan aku bercerita sedikit."
Ia menunjuk ke berbagai arah di pekarangan, menyebut pohon-pohon yang pernah ada. "Pohon pertama ditanam oleh Razka dan Aira sendiri, ketika mereka masih muda, masih belajar mencintai satu sama lain. Pohon kedua ditanam Reza. Pohon ketiga di masa Sara, yang menulis kisah kita. Yang keempat, kelima, keenam — masing-masing ditanam oleh generasi yang menerima rumah ini, lalu merawatnya, lalu menyerahkannya."
"Setiap pohon tumbuh, menua, dan akhirnya jatuh. Tapi sebelum jatuh, selalu ada bibit baru yang disimpan. Itulah cara keluarga kita melawan kehilangan — bukan dengan menolaknya, tapi dengan selalu menyiapkan kehidupan berikutnya."
Ia mengangkat bibit dari pot dengan hati-hati, seakan menggendong bayi. Ia turunkan ke dalam lubang. Lalu, satu per satu, setiap anggota keluarga maju — dari yang tertua hingga yang termuda — menaburkan segenggam tanah.
Seorang anak kecil, mungkin berusia lima tahun, menaburkan tanahnya lalu menatap Razi. "Om, pohon ini akan jadi besar?"
Razi tersenyum, kalimat itu menggema dari masa lalunya sendiri. "Iya, Sayang. Suatu hari pohon ini akan setua pohon yang kemarin jatuh. Dan kamu akan jadi tua, dan kamu akan menceritakan hari ini ke cucu-cucumu."
Anak itu memandang bibit kecil itu dengan mata berbinar, seakan melihat masa depan.
Ketika lubang sudah penuh dan disiram air, keluarga berdiri mengelilingi pohon muda itu dalam diam. Angin lembut bertiup. Daun-daun kecil bergetar.
Kehilangan tetap menjadi bagian dari pertumbuhan. Dan pertumbuhan, hari itu mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, terus berlanjut.