Duka atas Mims perlahan berubah menjadi tekad. Razi tahu apa yang harus ia lakukan.
Selama berbulan-bulan ia merencanakan proyek terbesar dalam hidupnya: mengdigitalkan seluruh koleksi Pondok Indah dengan standar internasional. Bukan sekadar memindai dokumen lalu menumpuknya di server. Razi ingin sesuatu yang lebih layak, lebih dihormati.
"Aku tidak mau ini menjadi seperti kesalahanku dulu," katanya kepada tim yang ia kumpulkan — arsiparis profesional, sejarawan, ahli teknologi. "Dulu aku membuka pintu dengan mendobraknya. Kali ini, aku ingin membuka pintu dengan benar. Dengan struktur. Dengan rasa hormat."
Proyek itu raksasa. Ribuan dokumen, foto, surat, catatan harian, naskah teater Mims, gambar arsitektur Cara, manuskrip novel Sara. Setiap lembar dipindai dengan resolusi tinggi. Tapi yang membuatnya berbeda adalah lapisan-lapisan di atasnya.
Setiap dokumen diberi konteks: kapan ditulis, oleh siapa, dalam situasi apa, mengapa penting. Setiap foto diberi metadata yang teliti. Dan yang paling penting bagi Razi — sistem perizinan yang berlapis.
Dokumen yang memang ditujukan untuk publik, dibuka penuh. Tapi dokumen yang bersifat pribadi — seperti surat-surat Aira yang dulu nyaris ia salahgunakan — diberi penjaga digital. Hanya keluarga inti yang bisa mengaksesnya, dengan catatan jelas tentang keinginan pemiliknya untuk dirahasiakan.
"Transparansi bukan berarti telanjang," jelas Razi kepada keluarga dalam pertemuan daring. "Transparansi yang benar adalah ketika orang tahu apa yang ada, tahu mengapa sebagian dijaga, dan mempercayai bahwa penjagaan itu dilakukan dengan integritas, bukan untuk menutupi sesuatu yang memalukan."
Generasi tua yang dulu marah padanya kini mengangguk setuju. Salah seorang nenek menulis di grup keluarga: "Razi kecil yang dulu keras kepala sudah jadi penjaga yang bijak. Mims pasti bangga."
Membaca pesan itu, Razi harus menahan air matanya.
Berbulan-bulan tim bekerja. Razi sendiri sering bermalam di ruang arsip, ditemani secangkir kopi dan suara jangkrik dari pekarangan. Ia membaca setiap dokumen sebelum mendigitalkannya, memutuskan dengan hati-hati mana yang dibuka, mana yang dijaga.
Suatu malam, ia memegang surat Aira yang dulu ia unggah. Ia tidak akan mempublikasikannya lagi. Tapi ia memindainya, menyimpannya dengan aman untuk keluarga, dengan catatan: "Permintaan penulis: jangan dipublikasikan. Dihormati selamanya."
Ia menutup kotak kaleng biskuit itu pelan. Untuk pertama kalinya sejak skandal itu, ia merasa benar-benar berdamai dengan dirinya sendiri.
Proyek ini bukan hanya arsip. Ini permintaan maafnya, ditulis bukan dengan kata, melainkan dengan kerja yang dilakukan dengan benar.