Badai paling dahsyat datang di malam ketiga.
Angin mengaum seperti sesuatu yang hidup dan marah. Penyangga baja berderit. Razi dan keluarga berjaga di dalam rumah, tidak ada yang tidur, mendengarkan setiap hantaman angin pada dinding tua.
Lalu, tepat sebelum fajar, terdengar suara itu. Suara yang akan diingat seluruh keluarga seumur hidup mereka. Retakan panjang, dalam, seperti tulang raksasa yang patah — diikuti debam yang mengguncang tanah.
Razi tahu sebelum ia melihatnya.
Pagi datang kelabu dan basah. Hujan akhirnya mereda menjadi gerimis. Satu per satu, keluarga keluar ke pekarangan belakang, dan berhenti.
Pohon mangga generasi keenam tergeletak. Akarnya tercabut dari bumi, mencuat ke udara seperti tangan-tangan tua yang melepaskan genggaman. Batang yang dulu menjulang kini berbaring di lumpur, daun-daunnya berserakan, beberapa cabang patah menimpa pagar.
Tidak ada yang berbicara. Hanya suara gerimis dan isak tertahan.
Seorang nenek tua berlutut di samping batang yang tumbang, menyentuhnya seakan menyentuh wajah sahabat yang baru meninggal. "Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih sudah menaungi kami sekian lama."
Razi merasa matanya panas. Pohon ini lebih tua darinya. Lebih tua dari ayahnya. Ia menyaksikan begitu banyak kelahiran, pernikahan, kematian, cerita. Dan kini ia pergi, sama seperti semua yang pernah berteduh di bawahnya.
Anak-anak kecil menangis, tidak sepenuhnya mengerti, tapi merasakan kesedihan orang dewasa. Seorang ibu menggendong putrinya, berbisik, "Tidak apa-apa, Sayang. Pohon juga punya usia, seperti kita."
Mereka berkumpul melingkari pohon yang tumbang. Seseorang memulai doa. Suara-suara bergabung, lirih, dalam berbagai bahasa daerah dan bahasa hati. Bukan doa kesedihan saja, tapi doa syukur — atas tahun-tahun naungan, atas buah yang pernah dipetik, atas tempat berteduh yang pernah diberikan.
Lalu Razi berdiri. Wajahnya basah oleh hujan dan air mata, tapi suaranya mantap.
"Ini bukan akhir," katanya kepada keluarga. "Bertahun-tahun lalu, leluhur kita sudah memikirkan hari ini. Mereka menyimpan bibit dari pohon ini — anak-anaknya. Aku menyimpannya. Cara menyimpannya. Mims menyimpannya."
Ia menarik napas.
"Pohon generasi keenam telah jatuh. Tapi generasi ketujuh sudah menunggu. Seperti keluarga kita — sebelum yang tua pergi, yang muda sudah lahir. Begitu terus. Tidak pernah putus."
Mereka menatap batang yang tumbang dengan duka, tapi kini ada sesuatu yang lain di mata mereka. Bukan keputusasaan. Melainkan tekad yang tenang — janji untuk menanam kembali.