Tahun itu, langit Jakarta seakan tak mau berhenti menangis.
Musim hujan datang lebih awal dan jauh lebih ganas. Berhari-hari hujan turun tanpa jeda, mengubah jalanan menjadi sungai cokelat. Berita penuh laporan banjir: rumah-rumah tenggelam, warga mengungsi, tanggul jebol. Kawasan sekitar Pondok Indah, yang dulu tinggi dan aman, kini ikut terendam.
Razi tiba di rumah warisan itu dengan celana digulung sampai lutut, air setinggi betis di halaman depan. Tim yayasan sudah berkumpul, wajah-wajah tegang di bawah jas hujan.
"Pohonnya, Pak Razi," kata kepala tim, menunjuk ke pekarangan belakang. "Lihat akarnya."
Razi berjalan menerjang air. Pohon mangga generasi keenam — pohon yang telah berdiri puluhan tahun, yang menaungi begitu banyak generasi — kini miring. Tanah di sekeliling akarnya tergerus banjir, melonggar. Setiap kali angin kencang menerpa, batangnya bergoyang mengkhawatirkan.
Untuk sesaat, Razi hanya berdiri. Pohon ini bukan sekadar pohon. Ini saksi. Ini simbol kelangsungan keluarga, garis silsilah yang nyata dan hidup. Kehilangannya akan terasa seperti kehilangan anggota keluarga.
Lalu insting peneliti dan pemimpin dalam dirinya menyala.
"Kita tidak akan menyerah tanpa berusaha," katanya tegas. "Panggil tim arsitek. Panggil ahli pohon. Sekarang."
Dalam beberapa jam, Pondok Indah berubah menjadi pusat krisis. Razi memimpin dengan tenang di tengah kekacauan. Para arsitek — generasi penerus profesi Cara — memasang penyangga baja di sekeliling batang. Tim lain menggali parit darurat untuk mengalihkan air dari akar. Karung-karung pasir disusun mengelilingi fondasi bangunan utama agar lumpur tidak masuk merusak arsip.
"Selamatkan dokumen dulu," perintah Razi. "Naikkan semua ke lantai atas. Boneka beruang dan kotak surat Razka — itu prioritas. Jangan sampai basah."
Anggota keluarga muda berdatangan, mengangkut kotak demi kotak menaiki tangga. Hujan terus mengguyur. Listrik padam. Mereka bekerja dengan senter dan lampu darurat, basah kuyup, tapi tidak ada yang mengeluh.
Tengah malam, Razi berdiri di beranda, memandang penyangga baja yang membungkus pohon tua. Air masih naik. Angin masih menderu.
Seorang sepupu muda berdiri di sampingnya. "Menurutmu pohonnya bisa bertahan, Razi?"
Razi diam sejenak. Ia tidak ingin berbohong. "Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi kita sudah berusaha. Itu yang bisa kita kendalikan. Sisanya milik langit."
Di kejauhan, kilat menyambar, sekejap menerangi siluet pohon mangga yang berjuang menahan badai — bengkok, tapi belum patah.