Seratus tahun setelah peringatan 200 tahun Pondok Indah.
Pondok Indah sekarang 300 tahun. Tahun 2X10 di kalender baru (kalender lama yang berbeda).
Indonesia sudah sangat berbeda. Jakarta sebagian besar sudah ditinggalkan karena tenggelam — krisis iklim dari abad lalu sudah memaksa banyak kota pantai dipindahkan. Tapi kawasan Pondok Indah, yang ada di tengah Jakarta lama (yang tinggal sebagian), masih bertahan karena tanahnya lebih tinggi dan, secara historis, dijaga sebagai cagar budaya.
Pondok Indah dikelola oleh "Yayasan Pondok Indah" yang sudah jadi institusi independen, dengan dana abadi yang dikelola profesional. Bangunan diperkuat dengan teknologi modern (anti-banjir, anti-gempa, perlindungan iklim). Tapi karakter asli — kayu jati, ubin lama, taman dengan pohon mangga — tetap dijaga.
Pohon mangga sekarang generasi kelima atau keenam. Tradisi: setiap kali pohon mati, biji ditanam dari pohon sebelumnya. Sehingga setiap pohon punya garis silsilah biologis yang dapat dilacak sampai pohon asli yang Razka kenal.
Keluarga Razka-Aira sekarang sudah lebih dari 500 keturunan di seluruh dunia. Sebagian besar tidak kenal satu sama lain. Tapi setiap dari mereka, kalau ditanya, tahu cerita keluarga — karena buku Sara, dan banyak buku turunan, sudah jadi bagian dari kurikulum sekolah di Indonesia (dan beberapa negara lain).
"Pondok Indah dan Pohon Mangga yang Tua" karya Aksara Permata jadi novel klasik Indonesia, dipelajari di SMA, jadi referensi banyak penelitian akademis. Buku itu masih dicetak setiap tahun, terjemahan dalam 40 bahasa, sudah dijual lebih dari 10 juta kopi total.
Tidak ada lagi yang menyentuh boneka beruang asli — boneka itu sekarang disimpan di brankas dengan kontrol suhu dan kelembaban yang ekstrem. Yang di museum hanya replika. Tapi tradisi tetap: anak-anak yang datang ke museum diceritakan tentang boneka, dan banyak yang membayangkan suatu hari boneka itu kembali jadi boneka biasa di tangan anak lain.
Anak yang sedang berdiri di depan kaca display hari ini — namanya Razka Adhitama XII. Berusia tujuh tahun. Datang dari kota baru di Sumatera (di mana sebagian besar keluarganya pindah setelah Jakarta tenggelam). Kakek dan neneknya yang membawa dia ke Pondok Indah hari ini.
"Kakek, ini boneka di buku?"
"Iya, Sayang. Yang nyata."
"Kakek, kalau Razi boleh pegang, Razi mau."
"Tidak boleh, Sayang. Boneka ini sudah sangat tua. Harus dijaga."
"Tapi kapan boleh dipegang?"
Kakeknya tersenyum. Pertanyaan yang sama, yang setiap anak generasi ini pasti tanya.
"Sayang, dulu Kakek Buyut Razka — yang asli, dari sembilan generasi yang lalu — pernah berkata pada cucunya Sara: 'Boneka ini akan disentuh seseorang di masa depan. Mungkin cucu kau. Mungkin cucu cucu kau. Yang penting, mereka akan tahu kebenaran cerita ini.'"
"Apakah saya akan jadi yang menyentuh boneka, Kakek?"
"Mungkin, Sayang. Atau anak-anak Razi. Atau cucu-cucu Razi. Kita tidak tahu. Kapan yang benar, akan terjadi."
"Razi mau jadi orang yang menyentuh boneka."
"Untuk itu, Razi harus jadi orang yang menjaga cerita. Yang menceritakan ke anak-anaknya. Yang membuka pintu untuk orang lain."
"Razi bisa, Kakek."
"Bagus, Razi."
Mereka berjalan ke ruang pesan generasi. Razi VII duduk di depan dinding yang sekarang sudah penuh — pesan-pesan dari sepuluh generasi. Pesan terbaru baru dipasang minggu lalu, dari sepupu jauh Naila.
Kakek Razi membacakan pesan pertama. Yang dari Sara. Yang ditulis lebih dari 200 tahun lalu.
"Untuk generasi yang akan datang: aku menulis ini di tahun pertama museum Pondok Indah dibuka. Aku tujuh puluh tahun. Aku sudah hidup melihat keluarga ini tumbuh dari trauma awal jadi cinta yang luas. Yang aku ingin kalian tahu — keluarga bisa dibangun dari apa saja, asalkan ada cinta dan komitmen untuk memperbaiki diri setiap hari. Razka leluhur kita pernah jadi orang yang buruk dan kemudian jadi orang yang baik. Aira leluhur kita pernah takut dan kemudian memilih berani. Kalian — siapa pun yang membaca ini di masa depan — juga punya pilihan setiap hari. Pilihlah dengan baik. Aksara Permata."
Razi mendengarkan. Tujuh tahun, mungkin tidak mengerti semua, tapi merasakan sesuatu.
"Kakek."
"Iya, Sayang."
"Sara siapa?"
"Sara adalah cucu Kakek Buyut Razka. Penulis besar."
"Sara masih hidup?"
"Tidak, Sayang. Sara sudah meninggal lebih dari 200 tahun lalu."
"Tapi pesan Sara masih di sini."
"Iya. Itu yang membuat Sara tetap hidup — pesan-pesannya. Bukunya. Cerita-ceritanya."
Razi diam. Berpikir.
"Kakek."
"Iya?"
"Razi mau pesan Razi juga di sini. Suatu hari."
Kakeknya memegang bahu cucunya. "Sayang, kalau Razi jadi tujuh puluh tahun seperti Sara, dan masih hidup, mungkin yayasan akan minta Razi tulis pesan. Generasi Razi akan punya gilirannya."
"Tujuh puluh tahun lama, Kakek."
"Iya, Sayang. Tapi waktu lewat lebih cepat dari yang Razi pikir."
Mereka melanjutkan tur museum. Razi melihat banyak hal — foto-foto Razka muda, surat-surat Aira, novel-novel Sara, film-film Faris, foto pernikahan dari berbagai generasi, peta keluarga yang luar biasa kompleks.
Setelah tur, mereka turun ke kebun. Pohon mangga generasi keenam berdiri tinggi. Sebagai keturunan biologis langsung dari pohon yang Razka kenal.
Razi berlari ke pohon. Memeluknya seperti boneka.
"Halo, Pohon."
Pohon tidak menjawab, tapi angin bertiup pelan, dan daun-daun bergoyang seperti membalas.
Kakek Razi tersenyum. Tradisi turun temurun — setiap anak yang datang ke kebun Pondok Indah, akhirnya bicara dengan pohon. Seperti pohon adalah anggota keluarga juga. Yang dengan caranya sendiri, mungkin.
"Kakek, pohon ini berapa umurnya?"
"Sekitar 30 tahun, Sayang. Tapi nenek moyangnya — pohon yang pertama — sudah ada sejak Pondok Indah dibangun, 300 tahun lalu."
"Wah, lama sekali."
"Iya."
"Kakek, kalau Razi tanam pohon mangga baru di sini, suatu hari pohon Razi akan setua ini."
"Iya, mungkin."
"Razi mau tanam."
"Kapan?"
"Sekarang."
Kakeknya tertawa kecil. "Sayang, kita tidak bisa tanam pohon mangga sekarang. Tanahnya sudah ada pohon. Tapi Razi bisa minta yayasan, mungkin di kebun baru yang sedang dibangun di sisi lain Pondok Indah, untuk menanam pohon dengan nama Razi."
"Boleh, Kakek?"
"Mungkin boleh. Kakek tanyakan."
Mereka berjalan kembali ke rumah. Kakek Razi bicara dengan staf yayasan. Tiga jam kemudian, di kebun baru di sisi lain Pondok Indah (yang dibangun 50 tahun lalu, ekspansi terkecil), Razi dibantu menanam bibit pohon mangga.
Bibit dari pohon mangga generasi keenam. Yang artinya, biologis langsung keturunan dari pohon yang Razka kenal.
"Razi tanam," kata Razi serius, menepuk-nepuk tanah.
"Bagus, Sayang. Sekarang pohon ini akan tumbuh."
"Lama, Kakek?"
"Iya, lama. Tapi Razi akan datang lagi setiap tahun untuk lihat pohonnya."
"Janji, Kakek."
"Janji."
Razi pulang ke Sumatera sore itu. Dengan sertifikat dari yayasan — "Pohon Mangga Razka Adhitama XII, ditanam tahun ini, di Kebun Baru Pondok Indah."
Pohon itu — pohon yang baru — akan jadi salah satu dari banyak pohon yang ditanam di Pondok Indah selama bertahun-tahun, satu pohon untuk setiap generasi keluarga yang ingin menyumbang.
Hutan kecil dari keturunan pohon mangga asli sedang tumbuh, sedikit demi sedikit, di sisi Pondok Indah.
Cerita yang berlanjut.
Selamanya.
(bersambung...)