Lima puluh tahun setelah peringatan 200 tahun Pondok Indah.
Pondok Indah sekarang 250 tahun. Kota Jakarta sudah berubah luar biasa — kawasan sekitar Pondok Indah yang dulu pinggiran, sekarang sudah jadi kawasan bisnis terbangun di mana-mana, dengan gedung-gedung tinggi mengelilingi. Tapi Pondok Indah — sebagai cagar budaya nasional — tetap berdiri dengan kebun belakangnya yang luas, tidak boleh dibangun apa-apa di atasnya.
Pohon mangga generasi kedua sudah tumbang juga, tiga puluh tahun lalu. Pohon ketiga sudah ditanam, sekarang sudah 30 tahun, sudah berbuah dengan baik.
Cara — yang sudah meninggal puluhan tahun lalu, di usia 88 — dimakamkan di pemakaman keluarga di sebelah Razka, Aira, Pak Yudha, dan semua generasi sebelumnya. Pemakaman itu sekarang juga jadi cagar budaya — tidak boleh dipindahkan, harus dirawat selamanya.
Generasi yang masih hidup di tahun 250 ini:
- Mims masih hidup, sekarang 91 tahun, di rumah jompo elite di Bali. Sudah pikun sebagian, tapi masih ingat Pondok Indah dengan jelas. Anak-anaknya sering mengunjunginya.
- Razi sudah meninggal dua tahun lalu, di usia 87.
- Cucu-cucu Cara — anak-anak Mims dan Razi — sudah berusia 60-70an, semua aktif di yayasan dalam berbagai kapasitas.
- Cicit-cicit Cara — anak-anak generasi ke-7 dari Razka-Aira — berusia 30-40an. Mereka generasi aktif sekarang.
Pondok Indah dikelola oleh tim profesional sepenuhnya, tidak ada keluarga di posisi operasional. Tapi keluarga keturunan Razka-Aira tetap punya kursi penasehat di dewan yayasan — selalu satu kursi disisihkan untuk anggota keluarga, sebagai penghormatan pada pendiri.
Anggota keluarga yang aktif sekarang di dewan: Naila Razka Adhitama VII — cicit Cara, anak Razi. Berusia 38 tahun, profesor antropologi di Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta, sering mampir ke Pondok Indah.
Suatu Sabtu pagi, Naila datang ke Pondok Indah untuk rapat dewan. Tapi sebelum rapat, dia mampir ke museum.
Museum Pondok Indah sekarang jauh lebih besar dari yang dulu. Sudah diperluas tiga kali. Sekarang ada tiga lantai — lantai satu untuk sejarah keluarga, lantai dua untuk koleksi karya-karya alumni sekolah dan workshop, lantai tiga untuk display rotasi (pameran tahunan tentang tema-tema khusus).
Boneka beruang dan surat Razka masih ada — di kaca display khusus di lantai satu, di tempat utama. Sekarang boneka itu hampir 250 tahun (sebelum dikubur di akar pohon, boneka itu diberikan Pak Yudha ke Sara di tahun 2005-an; surat ditulis Razka di tahun 2020-an).
Naila berhenti di depan boneka. Berbisik, seperti tradisi keluarga: "Salam, Kakek Buyut Buyut Buyut."
Lalu dia lanjut ke ruang pesan generasi. Sekarang sudah ada banyak pesan — dari Sara (yang pertama), Reza, Raz, Cara, Razi (ayah Naila), Mims, dan beberapa lagi dari generasi sepupu-sepupu.
Naila berhenti di pesan ayahnya, Razi. Pesan yang dia hapal — karena ayahnya mendiskusikan pesan ini dengannya saat dia masih kecil.
"Untuk generasi yang akan datang: di zaman saya, dunia mulai terlihat seperti tempat di mana cerita-cerita pendek menggantikan cerita-cerita panjang. Orang lebih suka video 30 detik daripada membaca buku 300 halaman. AI sudah menulis sebagian besar artikel berita. Manusia kehilangan kesabaran untuk cerita yang lambat dan kompleks.
Kalau di zaman kalian ini bahkan lebih ekstrem — di mana setiap pesan harus instan, setiap emosi harus disederhanakan, setiap orang harus jadi merek — saya ingin kalian ingat: keluarga kami selamat selama tujuh generasi karena kami tidak mempersingkat cerita kami. Kami tidak menyensor masa lalu. Kami tidak hanya menampilkan yang baik dan menghapus yang buruk.
Cerita Razka adalah cerita panjang. Cerita Aira adalah cerita kompleks. Cerita kami semua — turun temurun — adalah cerita yang tidak bisa dipendekkan jadi caption Instagram, atau tweet, atau apa pun unit pendek di zaman kalian.
Jaga cerita lambat. Jaga kompleksitas. Jaga jujur.
Itu warisan kami, sungguh.
Razi Aksara Pratama, cicit Cara, generasi keenam dari Razka."
Naila tersenyum. Pesan ayahnya, yang dia hapal, masih relevan sampai sekarang.
Dia berjalan ke ruangan terbaru di museum — ruang "AI dan Manusia". Ruangan ini dibuka lima belas tahun lalu, mengakui kenyataan bahwa AI sudah mengubah cara orang menulis, membaca, mencipta. Museum tidak menolak teknologi — menerimanya, dengan kebijaksanaan.
Di ruangan itu, Naila berhenti di salah satu display. Display yang berisi novel "Pondok Indah dan Pohon Mangga yang Tua" karya Sara — versi cetakan pertama (asli), versi digital (e-book dengan animasi), versi audio (yang dibacakan oleh keturunan Sara di generasi ketujuh), dan versi terbaru: simulasi interaktif AI di mana pembaca bisa "berbicara" dengan karakter-karakter buku.
Naila pernah mencoba simulasi AI — di mana dia bisa bercakap-cakap dengan AI yang dilatih untuk meniru Razka, atau Aira, atau Sara. Pengalaman aneh — AI itu menjawab dengan kata-kata yang masuk akal, dengan kepribadian yang sesuai dengan dokumentasi. Tapi tetap, AI. Tidak benar-benar leluhurnya.
Naila menatap display lama — buku cetakan asli Sara. Itu yang dia paling sukai. Tinta di kertas. Tangan manusia yang menulis. Cerita yang tidak bisa diulang persis di komputer.
"Kak," seseorang memanggil. Direktur yayasan, perempuan muda berusia 30-an, datang dari pintu.
"Iya, Bu Maya."
"Rapat siap mulai, Kak Naila."
"Iya, saya datang."
Naila pergi ke rapat. Tapi sebelum keluar dari ruangan, dia menyentuh kaca display yang berisi novel Sara cetakan asli.
"Mbak Sara," bisiknya. "Cerita Mbak masih hidup."
Rapat berjalan baik. Mereka membahas program tahun depan, anggaran, kerja sama internasional baru (Pondok Indah sekarang berafiliasi dengan museum-museum keluarga di lima negara).
Setelah rapat, Naila pulang ke rumah dengan rasa damai. Hari yang produktif.
Tapi di mobil pulang, ponselnya berdering. Anak laki-lakinya, Razka VIII (delapan tahun) menelepon.
"Mama!"
"Iya, Sayang."
"Mama, di sekolah hari ini, ada acara baca cerita. Aku baca cerita Pondok Indah!"
"Oh ya? Cerita yang mana?"
"Yang Mama selalu baca sebelum aku tidur. Tentang Kakek Buyut Buyut Buyut Razka yang dulu jahat dan kemudian baik."
"Bagus, Sayang. Kau bacanya bagaimana?"
"Bagus, kata Bu Guru! Bu Guru bilang aku punya bakat cerita kayak Aksara Permata!"
Naila tertawa. Aksara Permata — nama pena Sara. Anak laki-lakinya, generasi kedelapan dari Razka asli, mendapat pujian dengan nama pena leluhur dari lima generasi lalu.
"Sayang, kau senang?"
"Senang, Mama!"
"Mama bangga sama kau."
"Mama. Kalau aku besar, aku bisa nulis cerita kayak Mbak Sara?"
"Bisa, Sayang. Kalau kau mau."
"Aku mau, Mama."
Naila tersenyum lebar di mobil. Generasi kedelapan dari Razka, sudah ingin menulis cerita.
Mungkin — Naila berpikir — pohon ini akan terus tumbuh. Selama anak-anak bermimpi menulis cerita seperti leluhur, pohon ini tidak akan mati.
Setiap aksara, sebuah dunia.
Termasuk aksara generasi ke-8 yang baru mulai belajar menulis.