Dua puluh tahun berlalu sejak Razi kecil menanam pohon mangga di pekarangan Pondok Indah. Kini Razka XII — semua memanggilnya Razi — berusia dua puluh tujuh tahun, seorang peneliti sosial yang mendedikasikan hidupnya pada satu hal: cerita keluarga.
Pagi itu ia masuk ke ruang arsip di lantai bawah rumah warisan. Bau kertas tua, debu, dan kayu jati menyambutnya seperti sahabat lama. Di sudut paling dalam, di balik lemari yang jarang dibuka, Razi menemukan sebuah kotak kaleng biskuit. Di dalamnya: surat-surat yang belum pernah dipublikasikan.
Tangannya gemetar membuka lembar pertama. Tulisan tangan Aira — buyut dari buyutnya. Surat-surat intim, ditujukan kepada Razka, ditulis di tahun-tahun awal pernikahan paksa mereka. Ada juga catatan harian Razka. Bukan catatan tentang bisnis atau kekuasaan, melainkan tentang ketakutannya sendiri. Tentang malam-malam ia membenci dirinya. Tentang bagaimana perlahan ia belajar menjadi manusia.
Razi membaca sampai sore. Ada satu kalimat Aira yang membuatnya berhenti bernapas: "Aku menikahimu karena dipaksa, Razka. Tapi aku tinggal karena memilih. Jangan pernah ceritakan ini ke siapa pun. Biar ini milik kita berdua."
Razi menutup buku itu. Di luar, daun-daun mangga generasi keenam bergoyang pelan.
Sebagai peneliti, instingnya berkata: ini harta karun. Dokumen-dokumen ini bisa memperkaya pemahaman publik tentang transformasi Razka, tentang kekuatan Aira. Tapi sebagai keturunan, ada suara lain yang lebih lirih: ini privasi mereka. Mereka memilih merahasiakannya.
Ia teringat filosofi keluarga yang diwariskan turun-temurun. Setiap aksara sebuah dunia. Selama ini ia memahaminya sebagai ajakan untuk bercerita, untuk membuka. Tapi mungkinkah ada sisi lain — bahwa setiap dunia juga berhak menutup pintunya sendiri?
Malam itu Razi tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda, memandang pohon mangga yang sama yang dulu ia tatap sebagai anak kecil. Pertanyaan besar menggantung di udara, sebesar bayangan pohon di bawah bulan.
Haruskah cerita keluarga sepenuhnya transparan ke publik, demi edukasi dan kejujuran sejarah? Atau ada ruang-ruang yang justru paling dihormati ketika dibiarkan tetap gelap, tetap milik orang yang telah pergi?
Ia memegang boneka beruang tua yang selalu duduk di rak — boneka yang menyimpan surat Razka, artefak yang membawa pesan masa lalu ke masa kini. Razi tersenyum getir.
"Kakek," bisiknya pada angin, "kalau kau di sini, kau akan bilang apa?"
Tidak ada jawaban. Hanya gemerisik daun, dan keheningan rumah yang telah menyaksikan tujuh generasi tumbuh dan pergi.