Hotel Mulia, lantai dua puluh tiga, ballroom emas dengan langit-langit kristal.
Aira berdiri di depan cermin di kamar persiapan, hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Gaun malam panjang berwarna burgundy gelap, memeluk tubuhnya tanpa berlebihan. Tidak ada belahan paha. Tidak ada punggung terbuka. Tapi potongannya — entah bagaimana — membuatnya terlihat seperti seseorang yang lain. Seseorang yang dewasa. Seseorang yang berbahaya.
Penata rias memasang anting berlian terakhir di telinganya, lalu mundur. "Sudah, Bu. Cantik sekali."
Aira menelan ludah. "Terima kasih."
Pintu terbuka. Razka masuk — tuxedo hitam, dasi kupu-kupu hitam, rambut disisir rapi. Dia berhenti di ambang pintu, dan untuk sesaat — sangat sebentar — Aira melihat ekspresinya berubah. Mata gelapnya menyapu Aira dari kepala ke kaki, dan ada sesuatu di sana yang bukan evaluasi dingin lagi. Sesuatu yang lebih hangat. Lebih lapar.
Razka menelan, lalu wajahnya kembali datar.
"Cantik," katanya, suaranya sedikit serak. "Maaf, kau cantik."
Aira mengalihkan pandangan. Pipinya panas dan dia membenci itu.
"Aturan main?" tanyanya, mencoba terdengar profesional.
Razka mengeluarkan dua amplop kecil dari saku jasnya, menyerahkan satu pada Aira. Kartu nama dengan foto-foto di dalamnya.
"Ini delapan orang yang akan kita temui malam ini. Hafalkan wajah dan nama. Aku tidak butuh kau berbicara banyak — cukup tersenyum, anggukan, jawab kalau ditanya. Kalau ada yang bertanya bagaimana kita bertemu, jawab: 'lewat teman bersama, kami pacaran sekitar setahun, akad bulan lalu.' Jangan beri detail lebih. Kalau ada yang menyentuhmu — bahkan tangan — beri tahu aku langsung. Aku akan menanganinya."
"Menanganinya bagaimana?"
Razka memberinya tatapan datar. "Jangan tanya."
Aira menelan ludah dan tidak bertanya.
"Satu hal lagi," Razka menambahkan pelan. "Aku akan memegang tanganmu, atau pinggangmu, beberapa kali. Itu untuk pertunjukan. Maaf sebelumnya. Kalau kau tidak nyaman, cubit lenganku — aku akan lepaskan."
Sentuhan untuk pertunjukan. Aira mengangguk kaku.
"Dan ingat," suara Razka menurun, "siapa pun yang bertanya — kita pasangan bahagia."
Pintu ballroom terbuka. Cahaya lampu kristal menyiram mereka berdua. Aira menahan napas dan melangkah.
Tangan Razka menemukan punggungnya — telapak tangan yang lebar, hangat, tegas tapi tidak kasar. Sentuhan itu membuat sesuatu di perut Aira melompat dengan cara yang tidak dia ingin akui. Dia memaksakan senyum.
Mereka memasuki keramaian.
Tiga jam berikutnya adalah pertunjukan paling melelahkan dalam hidup Aira. Berjabat tangan dengan investor Singapura yang bicaranya halus tapi matanya menyimpan rahasia. Tertawa pada lelucon yang tidak lucu dari direktur perusahaan logistik dari Korea. Menjawab pertanyaan basa-basi dari istri seorang menteri yang menatapnya seperti dia sedang menilai kuda di pacuan.
Razka selalu ada — di sebelahnya, di belakangnya, dengan tangan di pinggangnya. Sentuhannya tidak pernah berlebihan, tidak pernah menjijikkan, tapi selalu ada — seperti pengingat tenang bahwa Aira tidak sendirian.
Yang Aira tidak sangka: Razka tampak benar-benar protektif. Beberapa kali, ketika seorang pria mendekat terlalu dekat atau menatap terlalu lama, Razka memindahkan posisi tubuhnya — sedikit di depan Aira, seperti perisai — sampai pria itu mundur.
Aira tidak tahu harus merasakan apa.
Sekitar pukul sepuluh, ketika Aira sedang menyeruput air mineral di sudut, seorang wanita mendekat. Tinggi, langsing, gaun hitam dengan belahan tinggi. Rambut hitam panjang lurus. Wajahnya tajam — cantik tapi seperti pisau cantik.
"Kau Aira, ya?" tanyanya dengan senyum manis yang tidak sampai ke matanya. "Aku Selena. Mantan Razka."
Aira hampir tersedak.
"Oh," katanya, mencoba menjaga ekspresi. "Senang berkenalan."
"Hmm." Selena menatapnya dari atas ke bawah, tanpa berusaha menyembunyikan evaluasi. "Kau muda sekali. Berapa, dua puluh dua? Dua puluh tiga?"
"Dua puluh tiga."
"Razka biasanya tidak suka yang... begitu polos." Selena menyesap wine-nya. "Pasti kau punya sesuatu yang spesial."
Aira merasakan kemarahan kecil bangkit di dadanya — kemarahan yang tidak dia mengerti, tapi dia tidak suka cara wanita ini berbicara.
"Mungkin saya tidak tahu," dia menjawab dengan senyum sopan. "Mungkin Mbak harus tanya Razka langsung."
Selena tertawa kecil — tawa yang tidak ramah.
"Hati-hati, Sayang," bisiknya, condong ke depan. "Razka tidak pernah menikah karena cinta. Selalu ada strategi. Cari tahu strategi apa yang dia pasang di kau — sebelum kau jadi orang yang dikorbankan."
Wanita itu mundur, tersenyum manis sekali lagi, lalu berjalan pergi.
Aira berdiri dengan jantung berdetak terlalu keras. Tangannya gemetar memegang gelas air.
Razka muncul di sebelahnya dalam tiga detik — dia pasti melihat Selena dari jauh.
"Apa katanya?" tanyanya pelan, mata gelapnya tajam dan penuh sesuatu yang Aira tidak bisa baca.
Aira menatapnya. Mengingat janji Razka tadi pagi: kalau saya ikut, Anda harus menjawab satu pertanyaan dengan jujur.
"Nanti di rumah," kata Aira, suaranya tenang. "Saya akan tagih janji saya."
(bersambung...)