Lima belas tahun Cara di London.
Dia jadi arsitek senior di firma yang dia pilih. Memimpin tim renovasi bangunan bersejarah di seluruh Eropa — gereja tua di Italia, rumah tua di Prancis, museum kecil di Belgia. Dia jadi ahli di transformasi adaptif. Karyanya beberapa kali jadi cover majalah arsitektur internasional.
Cara menikah di London — dengan pria asal India bernama Rahul, sesama arsitek. Mereka punya dua anak: Aira Mira (dipanggil "Mims", lima tahun) dan Razka Arjun (dipanggil "Razi", tiga tahun). Anak-anak hibrida bilingual — Inggris, Indonesia, Hindi, sedikit Italia.
Tapi Cara selalu pulang ke Pondok Indah setiap tahun, biasanya bulan Juli, untuk dua minggu. Setiap kali, dia membawa Rahul dan anak-anak. Setiap kali, dia tinggal di Pondok Indah, tidur di kamar Razka-Aira yang lama (sekarang sudah jadi kamar tamu utama, tapi keluarga selalu mendapat prioritas).
Pondok Indah, di tahun ke-165, sekarang dijaga oleh tim profesional sepenuhnya. Direktur adalah seorang perempuan muda yang lulusan magister manajemen budaya, bukan keluarga. Misi tetap sama: sekolah membaca, workshop menulis, museum, kelas-kelas seni. Tapi operasional sepenuhnya profesional.
Raz — ayah Cara — meninggal lima tahun lalu, usia tujuh puluh. Citra menyusul dua tahun kemudian. Mereka dimakamkan di sebelah Reza dan Indira di Yogyakarta — pemakaman generasi cucu Razka-Aira.
Mawar — tante Cara — masih hidup, sekarang enam puluh tiga, masih membuat film. Tinggal di Bali. Cara mengunjunginya setiap kali pulang ke Indonesia.
Generasi keluarga Razka-Aira yang masih hidup sekarang: Mawar (cucu Razka, dari Sara), beberapa keturunan Layla (cicit-cicit Razka, dari Sara), beberapa keturunan Wijaya (anak Lina), beberapa keturunan Yudha dan Annisa (anak-anak Asti), beberapa keturunan Mira dan Bima (anak-anak Naya).
Total mungkin 30 orang yang punya hubungan darah atau hukum dengan Razka-Aira. Sebagian besar tinggal di Indonesia, beberapa di luar negeri.
Cara, di musim Juli setiap tahun, jadi salah satu titik kumpul. Setiap kali dia datang ke Pondok Indah, sebagian besar keluarga datang juga — untuk reuni mini, makan-makan, mengobrol.
Pada tahun ke-15 Cara di London, dia datang dengan keputusan baru. Dia mengumumkan di reuni di Pondok Indah.
"Keluarga," kata Cara di teras, dengan semua yang hadir mendengarkan. "Aku dan Rahul memutuskan pindah kembali ke Indonesia. Permanen. Bulan depan."
Beberapa terkejut. Beberapa senang.
"Sayang," kata Mawar (sekarang 63, tapi masih tajam), "kenapa? Kau sudah sukses di sana."
"Tante Mawar, justru karena aku sudah sukses, sekarang aku bisa pulang. Aku tidak harus membuktikan apa-apa lagi. Aku mau anak-anak aku tumbuh di Indonesia. Di dekat keluarga. Di dekat Pondok Indah."
"Pondok Indah akan senang menerima kau, Sayang."
"Tante, satu hal lagi."
"Apa?"
"Aku dan Rahul akan buka firma arsitektur baru di Jakarta. Spesialisasi konservasi bangunan bersejarah. Dan firma kami akan menerima Pondok Indah sebagai klien permanen — semua pemeliharaan dan renovasi bangunan akan kami tangani. Gratis."
Mawar tersenyum. "Sayang, Pondok Indah tidak miskin. Yayasan punya cukup dana untuk pemeliharaan."
"Tante, aku tahu. Tapi aku ingin memberikan ini sebagai hadiah dari aku ke leluhurku. Pondok Indah dirawat dengan tangan keluarga, walaupun keluarga tidak lagi mengelola. Ini cara aku tetap terlibat."
"Sayang, itu hadiah indah."
Aplaus dari semua yang hadir.
Rahul, dengan bahasa Indonesia yang masih kaku tapi tulus, berkata: "Tante-Tante, Om-Om, terima kasih sudah menerima saya jadi bagian keluarga ini. Saya tahu saya bukan Indonesia, tapi setelah 15 tahun mendengar Cara cerita tentang Pondok Indah, saya merasa rumah ini juga rumah saya. Anak-anak kami akan tumbuh tahu — mereka punya empat warisan: India dari saya, Inggris dari pendidikan, Indonesia dari Cara, dan Pondok Indah dari leluhur Cara."
"Empat warisan yang kaya," kata Mawar. "Anak-anak yang beruntung."
Mims dan Razi, lima dan tiga tahun, tidak mengerti banyak — mereka cuma tahu mereka akan pindah, dan mereka senang karena akan dekat Bibi Mawar yang selalu kirim hadiah ulang tahun dari Bali.
Sebulan kemudian, Cara dan keluarga pindah ke Jakarta. Tinggal di apartemen baru dekat firma. Tapi setiap akhir pekan, mereka ke Pondok Indah — yang cuma 30 menit naik mobil.
Mims dan Razi tumbuh dengan Pondok Indah sebagai kampung halaman kedua. Mereka main di kebun, di bawah pohon mangga generasi kedua. Mereka ikut acara membaca cerita di Sabtu pagi. Mereka kenal semua staf Pondok Indah dengan nama.
Suatu Sabtu, ketika Mims sudah delapan tahun dan Razi enam, Cara mengajak mereka ke museum Pondok Indah.
Mims sudah pernah masuk museum sebelumnya, tapi belum benar-benar mengerti. Sekarang dia cukup besar untuk membaca panel-panel cerita.
Dia membaca panel tentang Razka. Tentang penculikan Aira. Tentang transformasi Razka. Tentang Asti yang ditemukan. Tentang Lina.
Lalu Mims menatap Mama-nya.
"Mama."
"Iya, Sayang."
"Razka itu kakek-buyut buyut kita?"
"Iya, Sayang."
"Razka jahat dulu."
"Iya. Sangat jahat di awal."
"Tapi Mama bawa kami ke sini. Mama biarkan kami baca cerita ini."
"Iya, Sayang. Karena cerita harus dibagi. Walaupun ceritanya sulit."
"Mama, kalau Mims jadi orang dewasa, Mims juga bawa anak-anak Mims ke sini?"
"Kalau Mims mau, iya."
"Mims mau."
Cara memeluk anak perempuannya. "Bagus, Sayang."
Razi, enam tahun, tidak mengerti cerita semuanya, tapi dia tertarik pada boneka beruang di kaca display.
"Mama, boneka itu lucu."
"Iya, Sayang. Boneka itu sudah sangat tua. Lebih tua dari Kakek Razka dulu."
"Bonekanya bisa cerita?"
"Boneka ini menyimpan cerita di dalam, Sayang. Cerita yang Kakek-Buyut buyut tulis untuk kita."
"Mims, dengar boneka cerita ya."
Mims tertawa kecil. Razi serius menempelkan telinga ke kaca display.
Cara menonton anak-anaknya, dan dia berpikir — tujuh generasi sudah lewat sejak Razka pertama kali menarik Aira ke mobil hitam. Generasi berikutnya — generasi Mims dan Razi — akan menjadi generasi kedelapan.
Mungkin generasi kedelapan adalah generasi yang akhirnya tidak akan tahu Razka sebagai "orang jahat dulu yang berubah". Mungkin mereka hanya akan tahu Razka sebagai "leluhur kami yang menulis surat".
Atau mungkin tidak. Mungkin cerita lengkap akan terus diceritakan, dari generasi ke generasi, selama Pondok Indah berdiri.
Itu tergantung — Cara berpikir — pada apakah generasi sekarang memilih untuk bercerita. Atau memilih untuk lupa.
Cara memilih bercerita.
Dia akan terus bercerita. Sampai akhir hidupnya.