Dua puluh tahun setelah museum dibuka.
Cara — Aksara Razka Adhitama IV — sekarang dua puluh enam tahun.
Reza sudah tiada. Meninggal lima tahun lalu, usia tujuh puluh tujuh, di rumah Yogyakarta. Indira menyusul setahun kemudian, juga tujuh puluh delapan. Mereka dimakamkan berdampingan di Yogyakarta, dekat kebun yang Indira tanam.
Raz — ayah Cara — sekarang lima puluh tahun, masih aktif sebagai pengacara HAM, sekarang sebagai mentor di LBH. Citra, ibunya, sudah pensiun dari jurnalisme, menulis buku.
Mawar — tante Cara — empat puluh delapan, masih membuat film, sudah jadi sutradara senior yang dihormati. Belum menikah, tidak pernah ingin menikah.
Yudha — sepupu kakek Cara — meninggal tiga tahun lalu, di usia delapan puluh delapan. Generasi keempat dari Razka-Aira sekarang sudah sebagian besar pergi.
Cara — generasi keenam dari Razka-Aira — adalah cicit-cicit. Anak ini tumbuh dengan Pondok Indah sebagai tempat liburan musim panas, dengan museum Pondok Indah sebagai tempat dia main waktu kecil (sebelum cukup besar untuk mengerti), dengan boneka beruang dan surat Razka sebagai cerita yang Mama dan Papa-nya ceritakan sejak dia tujuh tahun.
Cara kuliah arsitektur di ITB, lulus dua tahun lalu. Sekarang kerja di firma arsitektur kecil di Jakarta, fokus pada renovasi bangunan bersejarah dan transformasi adaptif (mengubah bangunan tua jadi fungsi baru tanpa menghancurkan karakter aslinya).
Pilihan karir itu, tidak mengejutkan, sangat dipengaruhi oleh Pondok Indah.
Suatu Sabtu pagi, Cara datang ke Pondok Indah sendiri. Dia ingin survei bangunan — Pondok Indah berusia 150 tahun, ada beberapa bagian struktur yang perlu dirawat. Pengelola yayasan minta Cara — sebagai arsitek muda di keluarga — untuk evaluasi awal sebelum mereka cari konsultan profesional.
Cara berjalan dari ruangan ke ruangan dengan tablet di tangan, mencatat retak, dinding lembap, atap yang harus diganti, kayu yang sudah lapuk. Pondok Indah masih kokoh secara umum — kakek buyut buyut Razka dibangun dengan bahan berkualitas. Tapi 150 tahun adalah 150 tahun. Pemeliharaan harus terus berlanjut.
Setelah survey utama selesai, Cara turun ke kebun. Pohon mangga generasi kedua (yang ditanam setelah pohon lama jatuh, sekarang sudah 50 tahun) masih berdiri raksasa. Berbuah lebat tahun ini.
Cara berdiri di bawah pohon. Menatap ke atas. Daun-daun bergoyang dalam angin sore.
"Halo," katanya pelan. "Aku Cara. Cicit-cicit cicit dari Razka dan Aira. Kau mungkin tidak ingat aku — aku kecil waktu pertama kali datang ke sini."
Cara duduk di rumput. Di tempat ayunan dulu berdiri (ayunan sudah lama hancur, sudah diganti tiga kali, sekarang versi yang paling baru — kayu jati dengan bantal warna pastel — masih di sini).
Dia duduk di ayunan baru. Menengadah, menatap langit lewat daun-daun pohon mangga.
"Pohon. Aku punya pertanyaan."
Pohon, tentu, tidak menjawab. Tapi Cara bicara terus.
"Aku sedang mempertimbangkan sesuatu. Aku punya kesempatan kerja di London — firma arsitektur besar, bayaran tinggi, prestise. Tapi kalau aku ambil, aku mungkin tidak akan kembali ke Indonesia untuk lama. Mungkin bertahun-tahun."
"Atau aku bisa tetap di Jakarta. Lanjutkan kerja di firma kecil ini, atau buka firma sendiri suatu hari. Tetap dekat keluarga. Tetap punya akses ke Pondok Indah."
"Aku tahu Pondok Indah penting buatku. Tapi aku juga ingin hidup yang lebih besar dari Pondok Indah. Aku ingin lihat dunia. Aku ingin bangun bangunan-bangunan di kota-kota lain. Aku ingin terjebak dalam Pondok Indah, walaupun aku mencintainya."
Cara berhenti. Mendengarkan angin.
"Kalau Pohon bisa kasih saran, Pohon akan bilang apa?"
Pohon tidak menjawab. Tapi angin bertiup, dan satu daun jatuh dari cabang, melayang pelan, dan mendarat di pangkuan Cara.
Cara tersenyum kecil. "Iya. Aku mengerti."
Apa yang dia mengerti — bahkan dia tidak yakin. Tapi seperti ada pesan dari pohon. Pesan bahwa daun jatuh adalah bagian dari pohon — daun pergi, dia melayang, dia mendarat di tempat lain, dia jadi tanah, dia kembali memberi makan akar pohon. Pergi tidak berarti meninggalkan. Pergi adalah bagian dari siklus yang lebih besar.
Cara berdiri. Memegang daun di tangannya.
"Aku akan ke London," katanya pada pohon. "Tapi aku akan kembali. Janji."
"Dan kalau aku tidak bisa kembali — aku akan kirim aksara-aksara dari sana. Surat-surat. Foto-foto. Ide-ide. Pondok Indah akan dapat aksara baru dari aku, dari mana pun aku."
Cara berjalan kembali ke rumah utama. Bertemu pengelola yayasan di ruang baca lama.
"Pak," katanya, "saya sudah selesai survey. Saya akan kirim laporan dalam dua minggu."
"Terima kasih, Bu Cara."
"Pak, satu hal."
"Iya?"
"Saya akan pindah ke London bulan depan. Untuk kerja. Tapi saya tetap bersedia jadi konsultan jarak jauh untuk Pondok Indah. Kapan pun yayasan butuh, telepon saja."
"Bu Cara, kami akan rindu Anda di rapat dewan."
"Saya akan ikut secara online, Pak. Pondok Indah ada di hati saya. Selalu."
Cara pulang ke Jakarta sore itu. Pesawat ke London tiga minggu kemudian.
Tapi sebelum berangkat, dia membawa satu hal kecil dari Pondok Indah: daun mangga yang jatuh di pangkuannya hari itu. Dia laminating, dijadikan pembatas buku.
Daun itu akan menemani Cara ke London. Dan ke mana pun dia akan.
Karena cerita Pondok Indah tidak terikat tempat. Tidak terikat satu rumah, satu pohon, satu generasi.
Cerita Pondok Indah adalah cerita tentang aksara. Tentang dunia-dunia kecil. Tentang orang-orang yang membuka pintu.
Dan Cara, dengan daun di tangan, akan terus membuka pintu di mana pun dia pergi.