Sara meninggal pada usia tujuh puluh sembilan tahun.
Sakit. Bukan kanker seperti ibunya. Hanya tubuh yang lelah — tujuh dekade pemakaian tanpa banyak istirahat, dengan otak yang selalu bekerja, dengan jiwa yang sudah menerima banyak cerita dari ribuan pembaca dan menyimpan semua di hatinya.
Dia meninggal di rumah Reza di Yogyakarta — dia pindah ke sana enam bulan terakhir hidupnya, untuk dekat dengan Reza, Indira, Raz (sekarang remaja), dan Mawar (sekarang kelas SD akhir). Iqbal sudah meninggal lima tahun sebelumnya, juga tenang, di rumah Bandung.
Reza yang menutup mata Sara. Pagi hari di bulan November, hujan rintik-rintik di luar.
"Mama," bisiknya. "Mama bisa istirahat sekarang."
Layla, yang sedang melatih basket di Jakarta, terbang ke Yogya saat Reza menelepon. Tiba sore hari. Dia menangis di pelukan kakaknya, di ruang tamu rumah Reza.
"Bang, Mama..."
"Iya, Layla. Mama sudah pergi."
"Mama bilang apa terakhir?"
Reza menarik napas. Mengingat. Pagi tadi, sebelum Sara menutup matanya untuk terakhir, dia berbisik pada Reza:
"Reza. Jaga Raz dan Mawar. Jaga adikmu. Jaga ayahmu... oh, dia sudah pergi duluan. Jaga ingatan kami. Jaga semuanya."
"Iya, Mama," jawab Reza.
"Reza."
"Iya, Mama?"
"Cerita Kakek dan Nenek — sudah selesai aku tulis. Tapi cerita kita — cerita kau, adikmu, anak-anakmu — masih berjalan. Tidak harus ditulis. Tapi harus dihidupi. Hidupi dengan baik, Reza."
"Iya, Mama."
Itu kata-kata terakhir Sara.
Layla menangis mendengar Reza menceritakan. "Bang, Mama selalu jadi tulang punggung kita."
"Iya. Sekarang giliran kita."
Pemakaman Sara di Bandung — di sebelah ibunya Asha, dan ayahnya Damar. Tiga generasi di satu makam keluarga.
Sara dimakamkan dengan satu buku di tangannya: "Pondok Indah dan Pohon Mangga yang Tua" — cetakan asli dari tahun pertama, yang dia tandatangani sendiri. Hadiah dari Reza, yang dia minta dimakamkan dengan ibunya.
"Mama selalu hidup dengan buku," kata Reza saat pemakaman. "Saya rasa wajar dia dimakamkan dengan buku juga. Bukan sembarang buku — yang paling penting dia tulis."
Raz, sekarang lima belas, membaca puisi pendek untuk Nenek-nya. Puisi yang dia tulis sendiri. Puisi yang bagus — Sara akan bangga.
"Untuk Nenek Sara,
yang membuka pintu dunia untuk aku
dengan kata-kata,
dengan cerita,
dengan kebijaksanaan yang tidak pernah berat.
Nenek pergi terlalu cepat
tapi juga tepat waktu.
Karena Nenek sudah menulis cukup
agar aku bisa baca lagi
ketika aku merindukan Nenek.
Setiap aksara, sebuah dunia.
Termasuk yang Nenek tulis hari ini
di hatiku."
Mawar — sekarang tiga belas — tidak bisa berkata-kata. Dia hanya berdiri di samping makam, memegang bunga melati (Sara suka melati), dan menangis tanpa suara.
Setelah pemakaman, keluarga berkumpul di Pondok Indah untuk tradisi tahlilan tujuh hari.
Pondok Indah di tahun itu sudah berusia 113 tahun. Pohon mangga muda (yang sebenarnya sudah tidak muda — sudah dua puluh lima tahun) sudah tumbuh besar, mendekati raksasa seperti pohon lama. Buahnya banyak. Anak-anak di sekolah membaca yang masih berlanjut, sering main di bawahnya seperti Sara dan sepupu-sepupunya dulu.
Asti — sekarang tujuh puluh enam, tapi masih hidup dan aktif walaupun pelan — datang ke Pondok Indah untuk tahlilan. Dia satu-satunya dari generasi anak-anak Razka-Aira yang masih hidup. Naya meninggal tiga tahun lalu karena serangan jantung. Bayu (suami Asti) meninggal lima tahun lalu. Lina dan Pak Dokter sudah lama meninggal.
Asti, dengan ditemani Yudha (sekarang sudah lima puluh tahun, dokter senior seperti Mamanya) dan Annisa (empat puluh tahun, pendeta gereja Katolik), duduk di kursi roda di teras Pondok Indah.
"Reza."
"Iya, Tante."
"Tante mau cerita sesuatu sebelum Tante pergi suatu hari."
"Tante, jangan bicara seperti itu—"
"Reza, Tante 76. Mama Sara pergi di 79. Tante tidak punya banyak waktu lagi. Tante mau cerita."
Reza duduk di sebelah Tantenya. "Iya, Tante. Cerita."
"Reza, kau pernah bertanya — bagaimana rasanya jadi anak yang ditemukan setelah delapan tahun hilang? Apa rasanya tumbuh tahu kau ditukar di rumah sakit?"
"Tante, aku tidak pernah berani tanya."
"Itulah yang Tante hargai dari kau. Tapi Tante mau cerita sendiri, kalau kau mau dengar."
"Iya, Tante. Sangat ingin."
Asti menarik napas dalam.
"Reza, sepanjang hidup Tante, Tante punya dua Mama. Mama Lina yang membesarkan Tante tujuh tahun. Mama Aira yang melahirkan Tante. Tante mencintai dua-duanya. Tante tidak pernah memilih. Sampai sekarang."
"Iya, Tante."
"Tapi yang menarik, Reza — Tante tidak pernah merasa rusak. Tante tidak pernah merasa identitas Tante tidak utuh. Karena Mama Aira dan Mama Lina sepakat, dari awal, untuk tidak menjadikan Tante medan perang. Mereka jadi saudara. Mereka jadi tim. Mereka berdua mencintai Tante tanpa harus saling bersaing."
"Itu hadiah besar."
"Iya, sangat. Kalau dua perempuan itu bertengkar, Tante akan tumbuh dengan luka. Tapi mereka memilih damai. Itu menyelamatkan Tante."
Reza mengangguk. "Tante, kenapa Tante cerita ini ke aku sekarang?"
"Karena kau peneliti budaya, Reza. Karena kau menulis tentang keluarga. Aku ingin kau dokumentasikan ini. Bahwa keluarga adalah pilihan kolektif. Bahwa orang dewasa di keluarga punya tanggung jawab — kalau mereka memilih perdamaian, anak-anak selamat. Kalau mereka memilih perang, anak-anak terluka."
"Tante, terima kasih."
"Pakai cerita aku kalau perlu. Buat penelitian. Buat artikel. Buat apa saja."
"Iya, Tante."
Asti pulang sore itu. Reza tahu — pertemuan ini mungkin terakhir kalinya dia bicara serius dengan Tantenya.
Dan benar — enam bulan kemudian, Asti meninggal di rumahnya sendiri, di tidur, sama tenangnya seperti Aira dulu.
Generasi anak-anak Razka-Aira sudah selesai. Sekarang giliran cucu-cucu yang menjadi generasi tertua di keluarga.
Pondok Indah tetap berdiri.