Dua puluh tahun setelah "Pondok Indah dan Pohon Mangga yang Tua" terbit.
Sara enam puluh lima tahun. Sudah jadi nenek — Reza menikah delapan tahun lalu dengan Indira, perempuan dari Yogyakarta yang juga peneliti budaya. Mereka punya dua anak: Razka Junior (semua memanggilnya Raz, untuk membedakan dari Kakek Buyut Razka) berusia tujuh tahun, dan Aira Mawar (semua memanggilnya Mawar) lima tahun.
Layla — adik Reza — sekarang tiga puluh delapan. Atlet basket profesional yang sudah pensiun, sekarang melatih tim basket perempuan nasional. Menikah dengan rekan setim, punya satu anak laki-laki Bayu, dua belas tahun, yang juga sudah suka basket.
Sara sudah pensiun dari menulis novel — bukan karena tidak mampu, tapi karena dia merasa sudah cukup. "Aku sudah menulis dua puluh novel. Itu cukup. Yang muda yang menulis sekarang," katanya pada wartawan yang mewawancarai dia di hari ulang tahunnya yang ke-65.
Iqbal — suami Sara — masih hidup, juga 65, masih menjadi penyunting buku independen dari rumah.
Damar, ayah Sara, sudah meninggal lima tahun lalu di usia sembilan puluh enam — meninggal di Bandung, dimakamkan di sebelah Asha.
Pondok Indah masih berdiri. Pohon mangga lama? Sudah jatuh.
Pohon itu jatuh dua belas tahun lalu, di malam badai besar di Jakarta. Akarnya yang sudah lemah tidak bisa menahan angin. Pondok Indah pagi setelah badai bangun dengan pohon raksasa terjatuh di tengah kebun belakang.
Sara, yang waktu itu di Bandung, datang ke Pondok Indah keesokan harinya. Berdiri di hadapan pohon yang sudah tidur di tanah. Menangis pelan.
"Pohon," bisiknya. "Selamat tidur, akhirnya."
Mereka tidak memotong pohon habis. Sara memerintahkan agar batang utama dipotong jadi balok-balok kayu — yang sebagian dijadikan papan untuk perpustakaan paviliun, sebagian lagi dijadikan ukiran kecil yang dibagikan ke setiap cucu generasi Razka-Aira sebagai kenang-kenangan.
Akarnya, dengan susah payah, dicabut dari tanah. Di tempat pohon itu pernah berdiri, mereka menanam anak pohon mangga baru — biji dari mangga terakhir yang pohon lama hasilkan sebelum jatuh.
Anak pohon itu, dua belas tahun kemudian, sudah tinggi enam meter. Mulai berbuah. Generasi baru pohon mangga di kebun lama.
Suatu Sabtu pagi di bulan Juni, Reza dan Indira membawa Raz dan Mawar ke Pondok Indah. Sara dan Iqbal sudah ada di sana — mereka sudah jarang di Pondok Indah sekarang, biasanya datang sebulan sekali, tapi akhir pekan ini ada acara khusus.
Acara: ulang tahun Pondok Indah ke-100.
Pondok Indah dibangun seratus tahun lalu, oleh kakek Razka. Setiap sepuluh tahun, yayasan mengadakan acara peringatan. Tahun ini, ke-100, jadi acara besar.
Tamu undangan: anggota dewan yayasan, alumni sekolah membaca dan workshop menulis dari Pondok Indah (sekarang sudah lebih dari sepuluh ribu alumni selama bertahun-tahun), beberapa penulis dan pendidik terkenal yang pernah punya hubungan dengan Pondok Indah, dan tentu saja seluruh keluarga besar.
Tiga ratus orang. Diadakan di kebun, dengan tenda besar kalau hujan.
Raz dan Mawar, cicit Razka-Aira, berlari di kebun sebelum acara dimulai. Mereka tidak pernah bertemu Kakek-Buyut Razka atau Nenek-Buyut Aira — bahkan tidak pernah bertemu Nenek Asha (yang meninggal sebelum Reza menikah). Mereka hanya tahu Kakek Buyut dan Nenek Buyut lewat buku, foto, dan cerita.
"Nenek Sara!" Mawar berlari ke teras. "Mawar nemu kupu-kupu di pohon!"
"Wah, kupu-kupu apa, Sayang?"
"Yang kuning! Cantik banget!"
"Bagus, Sayang. Itu kupu-kupu langka. Datang ke kebun ini berarti taman kita sehat."
Mawar menunjukkan kupu-kupu yang ternyata sudah terbang. Sara tersenyum, berpura-pura takjub. Mawar puas.
Raz datang dari sisi lain kebun. Anak laki-laki tujuh tahun ini berbeda dari adiknya — pendiam, suka membaca, suka memperhatikan dari jauh.
"Nenek."
"Iya, Raz."
"Nenek, itu pohon mangga yang di buku Nenek?"
Sara menoleh ke pohon. Pohon yang sekarang sudah enam meter — masih jauh dari raksasa pohon lama, tapi sudah jadi pohon dewasa.
"Iya, Sayang. Itu pohon yang ditanam dari biji pohon yang lama."
"Pohon yang lama ada di mana?"
"Sudah tidak ada. Sudah jatuh."
"Kapan?"
"Beberapa tahun sebelum Raz lahir."
"Sayang sekali."
"Tapi pohon ini — anaknya pohon lama. Jadi tidak benar-benar hilang."
Raz mengangguk serius. Berpikir.
"Nenek, kalau Nenek juga pergi nanti, Nenek akan jadi pohon di taman ini juga?"
Sara terharu. "Sayang, Nenek tidak akan jadi pohon. Tapi Nenek akan jadi cerita. Seperti Kakek Buyut Razka dan Nenek Buyut Aira. Cerita Nenek akan terus diceritakan, sama seperti cerita mereka."
"Oleh siapa, Nenek?"
"Mungkin oleh Raz. Atau oleh Mawar. Atau oleh anak-anak Raz dan Mawar nanti."
Raz berpikir. "Nenek, Raz akan ingat."
"Janji?"
"Janji."
Sara memeluk cicit-cicitnya. Reza dan Indira datang dari rumah dengan kopi.
"Mama," kata Reza, "siap untuk acara?"
"Siap."
Acara berlangsung sempurna. Direktur yayasan (sekarang seorang profesional muda, bukan keluarga lagi — sesuai keinginan Razka yang ingin yayasan berjalan profesional) memberikan laporan tahun. Sekolah membaca sekarang punya cabang di lima kota — Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Makassar. Workshop menulis online juga, dengan ratusan peserta tiap tahun.
Alumni-alumni sekolah membaca yang sudah dewasa datang, beberapa membaca puisi atau memberikan testimoni. Salah satu alumni yang sudah jadi penulis terkenal sendiri, berkata: "Aku datang ke Pondok Indah pertama kali umur tujuh tahun. Aku dari keluarga miskin di kampung dekat sini. Aku tidak punya buku di rumah. Pondok Indah memberiku buku pertama, dan dengan itu — dunia pertama. Sekarang aku menulis buku-buku sendiri. Tapi aku tidak akan pernah lupa siapa yang membuka pintu dunia untukku."
Sara, di kursi penonton, menangis pelan. Iqbal memegang tangannya.
"Sayang," bisik Iqbal, "Kakek dan Nenek-mu pasti bangga."
"Iya. Aku tahu mereka bangga."
Setelah acara, ketika tamu mulai pulang, Sara berjalan sendiri ke pohon mangga muda. Menyentuh batangnya — masih tipis, masih muda.
"Halo," katanya pelan. "Aku Sara. Cucu Razka dan Aira. Pohonmu yang dulu sudah aku kenal sejak aku lahir. Sekarang giliranmu yang aku kenalkan ke cicit-cicit Kakek-Nenek."
Pohon tidak menjawab, tentu. Tapi angin bertiup pelan, dan beberapa daun bergoyang, seperti membalas sapaan.
"Tumbuh besar ya. Jangan terlalu cepat tumbang. Pondok Indah perlu pohon ini berdiri lama."
Sara tersenyum sendiri pada kebodohannya berbicara dengan pohon. Tapi dia tahu — sebagian dari dirinya percaya pohon itu mendengar. Sama seperti pohon yang lama mendengar Razka dan Aira sepanjang tahun-tahun mereka di Pondok Indah.
Hidup berlanjut. Generasi berikutnya — Raz, Mawar, dan saudara-saudara sepupu mereka — akan membawa cerita ke depan.
Sara siap, kapanpun, untuk menyerahkan obor itu.