Aira tidak tidur malam itu.
Dia mengunci pintu kamarnya — atau mencoba. Pintunya memang punya kunci dari dalam, dan Razka tidak menahannya. Dia bahkan tidak datang ke lantai dua sepanjang malam. Bu Marta mengantarkan makan malam (nasi goreng kampung dan teh hangat) ke kamarnya jam delapan, lalu meninggalkannya sendiri.
Aira duduk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya, memandangi pintu. Setiap suara di lorong membuatnya tegang. Tapi tidak ada yang datang.
Subuh, dia akhirnya tertidur karena kelelahan, masih dalam posisi duduk.
Saat dia terbangun, matahari sudah tinggi. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Di meja samping tempat tidurnya, ada kertas terlipat dan sebuah kotak kayu kecil.
Aira meraih kertas itu dengan hati-hati. Tulisan tangannya rapi, hampir kaku — huruf-huruf yang ditulis seseorang yang terbiasa menulis tanda tangan resmi.
Aira,
Beberapa hal yang perlu kau tahu untuk hari ini:
1. Sarapan disajikan di ruang makan jam tujuh sampai sebelas. Kalau kau tidak mau bertemu siapa-siapa, Bu Marta bisa mengirim ke kamar.
2. Rumah ini punya tujuh pegawai tetap. Mereka semua tahu siapa kau dan akan memperlakukanmu sesuai. Tidak ada yang akan bertanya hal pribadi.
3. Kau tidak boleh keluar pagar tanpa pengawalan. Ini bukan untuk membatasimu — ini untuk keselamatanmu. Setelah satu minggu, kalau situasi sudah stabil, akan ada protokol baru.
4. Ada smartphone baru di kotak. Nomor lamamu dimatikan. Nomor baru ini hanya dipakai untuk kontak yang aku setujui — keluargamu, kampusmu, tiga teman dekatmu yang aku verifikasi (Sasha, Putri, Rendy). Jangan mencoba menambah nomor lain dulu.
5. Aku berangkat kerja jam tujuh. Pulang biasanya jam sembilan atau sepuluh malam. Kita tidak harus makan bersama. Kalau kau butuh sesuatu, hubungi aku — nomorku tersimpan sebagai "Razka".
6. Aturan pribadiku: aku tidak masuk ke kamarmu kecuali kau mengizinkan. Pintu lemari ada brankas kecil — kombinasi 8341 — untuk barang berhargamu. Kosong sekarang.
Satu permintaan: makan. Kau terlihat tidak makan layak selama tiga hari terakhir. Bu Marta bisa membuat apa saja yang kau mau.
— R.
Aira membaca surat itu dua kali. Lalu tiga kali.
Anehnya — dan dia membenci dirinya sendiri karena memikirkan ini — Razka menulis seperti orang yang... memperhatikan. Ada detail yang tidak perlu dia tulis. Nama tiga teman dekat Aira, persis benar. Permintaan agar dia makan. Kombinasi brankas yang spesifik.
Aira meletakkan surat itu, lalu membuka kotak kayu. Di dalamnya, ponsel hitam tipis, pengisi daya, dan satu kartu kredit hitam tanpa nama, hanya bertuliskan A. SARASWATI ADHITAMA.
Adhitama. Nama belakangnya sekarang.
Dia menghabiskan pagi mempelajari rumah barunya dengan langkah hati-hati. Bu Marta menyambutnya hangat di dapur, menawarkan apa pun yang dia mau. Aira hanya minta teh dan roti tawar bakar — perutnya masih tidak bisa menerima banyak.
"Tuan Razka berpesan, kalau Bu Aira mau jalan-jalan di taman, ada area kolam belakang yang aman. Tapi tidak boleh keluar pagar."
"Bu Marta sudah lama kerja di sini?"
"Dua belas tahun, Bu. Sejak Tuan Razka masih SMA. Dulu yang asuh beliau kalau mama beliau lagi sibuk."
Aira mengangkat alis. "Mama beliau...?"
"Mendiang Nyonya Adhitama. Meninggal lima tahun lalu, Bu. Kanker."
Sesuatu di dada Aira sedikit melembut, dan dia langsung membenci dirinya sendiri karena melembut.
"Bapaknya?"
Bu Marta diam sejenak, mengelap meja yang sudah bersih. "Tuan Mahendra masih ada, Bu. Tapi... beliau dan Tuan Razka tidak sering bertemu. Itu cerita panjang."
Aira mengangguk pelan dan tidak bertanya lagi.
Sore harinya, dia duduk di ayunan di taman belakang dengan secangkir teh dan bukunya — buku ekonomi syariah yang tertinggal di tasnya dari sebelum kos. Dia mencoba membaca, tapi otaknya tidak bisa fokus.
Ketika langit mulai jingga, dia mendengar suara mobil masuk halaman. Pintu membuka. Langkah kaki di lantai marmer. Lalu pintu kaca taman terbuka pelan.
Razka berjalan ke arahnya — masih dalam setelan jas kerja, dasi sedikit kendor. Wajahnya lelah. Matanya tajam.
Dia berhenti tiga meter dari ayunan, tidak mendekat lagi.
"Kau makan?"
Aira mengangguk. "Roti tawar."
"Itu bukan makan."
"Itu yang bisa saya makan."
Razka diam sejenak. Lalu dia mengangguk pelan, menerima jawaban itu.
"Besok Senin," katanya. "Ada acara perusahaan. Aku butuh kau ikut."
Aira menutup bukunya. "Acara apa?"
"Cocktail party. Investor luar negeri. Aku perlu menunjukkan istriku ada — dan baik-baik saja."
"Saya tidak mau."
"Aku tahu. Tapi aku memintamu ikut. Bukan memerintah. Memohon."
Aira menatap pria itu — lelah, tinggi, dan untuk pertama kalinya... agak rapuh di pinggir matanya.
Dia menarik napas panjang.
"Saya ikut. Dengan satu syarat."
"Sebut."
"Kalau saya ikut, Anda harus menjawab satu pertanyaan dengan jujur. Apa pun pertanyaannya."
Razka diam lama. Angin sore menggoyangkan ujung dasinya.
"Setuju," katanya akhirnya.
(bersambung...)