Sepuluh tahun setelah Asha meninggal.
Sara empat puluh lima tahun. Sudah menerbitkan dua belas novel. Sudah jadi penulis paling dihormati di Indonesia generasinya. Tinggal antara Bandung dan Jakarta — antara rumah Damar (yang masih hidup, tujuh puluh lima tahun, masih mengelola toko buku) dan Pondok Indah.
Reza dua puluh dua tahun. Lulus kuliah Filsafat di UGM. Tidak ingin jadi penulis (sengaja — "Mama sudah cukup penulis untuk satu keluarga"). Mau jadi peneliti budaya, fokus pada bagaimana keluarga membentuk identitas individu di Asia Tenggara. Cocok dengan watak Reza yang berpikir mendalam.
Layla lima belas tahun. SMA. Suka olahraga (basket), berbeda dari kakaknya dan ibunya. Mau jadi atlet profesional.
Sara, suatu pagi di kantor kerjanya di Bandung, menerima telepon dari Reza yang sedang di Yogyakarta.
"Mama."
"Iya, Sayang?"
"Mama, aku mau ke Pondok Indah minggu depan. Boleh aku ajak Mama ngobrol?"
"Tentu, Sayang. Tentang apa?"
"Tentang... cerita keluarga kita. Aku sudah baca semua buku Mama. Tapi aku tahu, ada satu novel besar yang Mama belum tulis. Tentang Kakek Razka dan Nenek Aira."
Sara membeku sebentar. "Reza..."
"Mama, aku tahu Mama menunggu sesuatu. Mama selalu bilang Mama akan tulis 'pada waktu yang tepat'. Aku rasa... aku rasa waktunya sudah dekat."
"Kenapa, Reza?"
"Karena aku sudah cukup besar untuk mengerti. Karena Layla juga sudah remaja. Karena cucu generasi berikutnya yang lahir nanti — anak-anakku, kalau aku menikah suatu hari — mereka harus tahu juga, tapi dengan bahasa yang sesuai usia mereka."
"Reza, kau pintar."
"Aku Mama-nya Mama yang pintar."
Sara tertawa. "Iya. Datang ke Pondok Indah minggu depan. Kita mulai."
Seminggu kemudian, Reza tiba di Pondok Indah. Sara sudah ada di sana — sudah datang dari Bandung dua hari sebelumnya, untuk menyiapkan ruang baca Razka (yang masih dijaga seperti aslinya selama dua puluh tahun terakhir) sebagai ruang kerja.
Mereka duduk di ruang baca. Di hadapan mereka — tumpukan dokumen yang Razka pernah simpan, surat-surat Aira, foto-foto keluarga, memoar Aira (cetakan kedua puluh lima — buku itu masih dicetak terus), buku-buku Sara sendiri.
"Reza."
"Iya, Mama?"
"Mama akan minta kau membantu Mama."
"Iya?"
"Mama mau menulis novel besar — cerita lengkap keluarga kita. Tapi Mama tidak mau menulis sendiri. Mama mau ada perspektif baru. Perspektif kau — cucu yang tidak pernah bertemu Kakek-Nenek-nya secara biologis. Kau yang membaca cerita keluarga ini dari jauh, lewat buku dan cerita orang lain."
"Mama, aku bukan penulis."
"Reza, kau tidak harus menulis. Kau harus berpikir bersama Mama. Kau harus tanya pertanyaan-pertanyaan yang Mama tidak bisa tanya sendiri karena Mama terlalu dekat dengan cerita. Kau bisa lihat dari jauh — dengan mata orang muda yang tidak terbiasa dengan apa yang Mama sudah anggap normal."
"Oh."
"Mama akan menulis. Kau akan jadi pembaca pertama, di setiap bab. Kau akan kritik. Kau akan tanya. Kau akan bilang Mama kalau ada sesuatu yang tidak masuk akal, atau terlalu sentimental, atau kurang jujur."
"Aku bisa."
"Bagus. Berapa lama kau bisa di Pondok Indah?"
"Aku ambil cuti tiga bulan dari kerja, Mama. Mama bilang ini akan butuh fokus, jadi aku siapkan."
"Reza, kau yang terbaik."
"Aku Mama-nya Mama."
Tiga bulan berikutnya, Sara dan Reza tinggal bersama di Pondok Indah. Mereka mengubah ruang baca Razka jadi studio menulis. Reza tidur di kamar Razka-Aira yang lama (sudah tidak ada yang tinggal di situ selama dua puluh tahun, tapi tetap dijaga rapi). Sara tidur di kamar Asha lama (yang juga masih dijaga).
Setiap pagi, Sara menulis dari jam tujuh sampai jam dua belas. Reza membaca selama itu — membaca semua sumber, semua surat, semua foto, untuk membangun pemahamannya tentang keluarga.
Setiap siang setelah makan, mereka berdiskusi. Bab demi bab. Sara membaca apa yang dia tulis pagi itu, Reza mengkritik, mereka berdebat, mereka tertawa, mereka menangis di beberapa bab.
Setiap malam, Sara duduk di teras dengan teh, dan Reza ikut. Mereka tidak menulis lagi malam — tapi mereka bicara. Tentang hidup. Tentang masa depan. Tentang masa lalu.
"Mama," tanya Reza suatu malam, "Mama pernah bertanya — bagaimana Mama bisa memaafkan Kakek? Sebagai cucu, Mama tahu Kakek pernah menculik Nenek. Mama pernah baca memoar Nenek waktu Mama delapan tahun. Tapi Mama tetap mencintai Kakek. Bagaimana caranya?"
Sara meneguk teh. Berpikir lama.
"Reza, Mama tidak tahu kalau itu cinta yang langsung. Mama lahir, dan Kakek sudah jadi Kakek yang baik. Mama tumbuh kenal dia. Kakek yang baca cerita Mama, Kakek yang antar Mama ke toko buku, Kakek yang lembut."
"Lalu Mama baca memoar."
"Iya. Mama baca, dan Mama bingung. Bagaimana orang yang Mama kenal sebagai 'baik' bisa juga jadi orang yang pernah menculik istrinya sendiri?"
"Jawabannya?"
"Mama harus bicara dengan Kakek. Mama yang waktu itu delapan tahun datang sendiri ke Pondok Indah, menanyakan Kakek langsung. Kakek menjawab. Jujur. Tidak menutupi. Tidak membela diri."
"Apa yang Kakek bilang?"
"Kakek bilang dia jahat dulu. Dia menyesal seumur hidup. Dia berusaha jadi orang yang berbeda. Itu saja. Tidak banyak lagi."
"Itu cukup untuk Mama?"
"Iya. Karena Mama lihat — dengan mata Mama sendiri — bahwa Kakek yang sekarang bukan Kakek yang dulu. Mama lihat dia di rumah ini, dengan Nenek, dengan keluarga, dengan Sara sendiri. Mama bisa percaya bahwa dia sudah berubah."
"Mama, tapi orang yang dia jahat-i adalah Nenek. Bukan Mama. Bagaimana kalau Mama lebih sulit memaafkan jika Mama langsung yang dijahat-i Kakek?"
Sara berpikir. Lama. Pertanyaan yang dia sendiri kadang pikirkan.
"Reza, aku tidak tahu jawaban yang pasti. Mungkin akan lebih sulit. Mungkin tidak akan bisa. Tapi Nenek — Nenek memaafkan. Dan Nenek hidup lebih lama, lebih bahagia, lebih penuh karena memaafkan. Kalau Nenek tidak memaafkan, dia akan tetap terjebak di hari Razka menculik dia. Hidupnya akan habis di gang Jakarta. Tapi Nenek memilih untuk pergi. Untuk tumbuh. Untuk membangun keluarga."
"Memaafkan adalah pilihan."
"Iya, Reza. Memaafkan adalah pilihan. Bukan kewajiban. Tidak semua orang bisa atau harus memaafkan. Tapi bagi yang bisa — itu hadiah untuk diri sendiri lebih dari hadiah untuk orang yang dimaafkan."
Reza mencatat. Kalimat itu. Untuk dipakai di buku, nanti.
Mereka melanjutkan kerja. Tiga bulan tidak cukup, ternyata. Sara meminta lima bulan lagi. Reza setuju.
Total delapan bulan. Setelahnya, naskah pertama selesai. Lima ratus halaman.
Sara mengirim naskah ke editornya. Reza kembali ke pekerjaannya di Yogyakarta. Tapi cerita keluarga sudah jadi catatan tertulis.
Setelah enam bulan editing, novel itu siap.
Judul: "Pondok Indah dan Pohon Mangga yang Tua."
Pengarang: Aksara Permata.