Dua belas tahun setelah Aira meninggal.
Sara tiga puluh tiga tahun. Sudah menerbitkan delapan novel. Reza dua belas tahun, sudah suka membaca buku-buku Ibunya (di-edit untuk dibaca anak-anak). Sara juga punya anak kedua — perempuan, namanya Layla, lima tahun.
Asha empat puluh lima tahun. Penulis senior, masih aktif. Sudah jadi nenek (dari Reza dan Layla). Sudah tidak terlalu sering bepergian — tinggal di Bandung dengan Damar, sesekali ke Pondok Indah, sesekali ke Yogyakarta untuk mengunjungi toko buku Damar yang sudah jadi tiga cabang.
Asti empat puluh empat setengah. Dokter senior, sekarang sudah memimpin departemen obstetri di rumah sakit Razka (yang sekarang dimiliki yayasan keluarga, masih beroperasi). Yudha sudah dua puluh tahun, kuliah Kedokteran, mengikuti Mama-nya. Annisa lima belas tahun, SMA.
Naya empat puluh tahun. Ilustrator buku anak yang sudah sangat terkenal. Mira sembilan belas, kuliah DKV juga (mengikuti Mama-nya). Naya dan Faris punya anak kedua tujuh tahun lalu — Bima, sekarang tujuh tahun.
Wijaya tiga puluh delapan. Sudah punya tiga anak. Lina sudah tujuh puluh dua tahun, hidup tenang di rumah dengan Pak Dokter (yang masih hidup, di kursi roda, sudah delapan puluh).
Pondok Indah sudah berubah sedikit. Yayasan keluarga melebarkan program — bukan hanya sekolah membaca, tapi juga workshop menulis untuk remaja, kelas seni untuk anak-anak, dan program magang untuk lulusan SMA dari keluarga kurang mampu yang ingin masuk dunia kreatif.
Tiga anak — Asha, Asti, Naya — masih jadi wali. Tapi sekarang dewan yayasan diperluas: Sara, Wijaya (dari sisi Lina), dan dua profesional luar (pendidik dan akuntan) bergabung sebagai dewan.
Asha, yang paling senior, sering memimpin rapat dewan.
Suatu Senin pagi di bulan Mei, Asha datang ke Pondok Indah untuk rapat dewan. Sara juga ada — yang sengaja datang dari Bandung. Asti dan Naya datang dari Jakarta. Wijaya juga ada.
Mereka rapat di ruang makan — yang sudah diubah dengan meja panjang yang bisa menampung sepuluh orang.
Setelah rapat selesai (membahas anggaran tahun depan, tambahan program robotika untuk anak-anak, perbaikan paviliun perpustakaan), Asha meminta semua tinggal sebentar.
"Saya ada pengumuman."
Semua menoleh.
"Saya mulai sakit-sakitan akhir-akhir ini. Bukan parah. Tapi dokter bilang... saya kena kanker payudara. Stadium satu. Bisa diobati. Tapi saya akan butuh waktu untuk pengobatan."
Hening.
Sara — yang ikut rapat sebagai anggota dewan, tapi yang sekarang berdiri sebagai anak — berlari ke Mama-nya. Memeluknya.
"Mama!"
"Sayang. Mama baik-baik saja."
"Mama, kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena Mama mau bilang ke semua di rapat dewan, supaya kalian bisa diskusi tugas Mama. Mama akan kurang aktif beberapa bulan. Mungkin setahun."
Asti, dokter, langsung bertanya teknis. "Mbak, sudah biopsi? Apakah hormone-receptor positive?"
"Sudah. Iya, positif. Prognosis bagus, kata dokter."
"Mbak, bolehkah Asti baca laporan medis Mbak?"
"Boleh, Asti. Mama sudah siapkan."
Naya menangis pelan. "Mbak, kenapa Mbak selalu kelihatan kuat. Kapan Mbak pernah istirahat?"
"Naya, istirahat baru datang. Tapi Mbak baik-baik saja."
Wijaya — yang seperti adik laki-laki bagi tiga perempuan ini — berdiri, datang ke samping Asha, memegang tangannya. "Mbak. Apapun yang Mbak butuhkan."
"Terima kasih, Wijaya."
Setelah rapat, Sara mengantar Mama-nya pulang ke Bandung. Damar sudah menunggu di rumah.
"Mama," Sara berbisik di mobil, "kenapa Mama tidak cerita ke Sara duluan?"
"Sayang, Mama tahu Sara akan panik. Mama mau Sara dapat informasi bersama yang lain, supaya semua bisa tenang."
"Mama, Sara takut."
"Sara, jangan takut. Mama akan baik-baik saja. Stadium satu artinya bisa diobati. Mama akan kemoterapi enam bulan, lalu sembuh."
"Mama, kalau—"
"Sara, jangan 'kalau'. Mama akan sembuh."
Tapi pengobatan tidak selalu sesuai harapan.
Asha menjalani kemoterapi. Rambut rontok. Berat badan turun. Lemah. Tapi semangatnya tetap. Dia menulis di antara sesi kemo — kolom-kolom pendek tentang pengalaman kanker, yang dipublikasi di majalah perempuan.
Tulisan-tulisan itu dibukukan dua tahun kemudian, dengan judul "Sembilan Bulan: Catatan dari Sisi Lain Penyakit." Buku itu jadi inspirasi banyak orang.
Tapi pada pemeriksaan ulang setahun setelah selesai kemoterapi, kanker kembali. Stadium tiga sekarang. Penyebaran ke kelenjar getah bening dan tulang.
Kali ini, prognosis tidak lagi seoptimis dulu.
Asha menerima berita dengan tenang. Damar tidak setenang itu — dia menangis di pelukan Sara. Sara, yang selalu jadi anak satu-satunya yang dewasa di antara orang tuanya, menenangkan Papanya dan kemudian menangis sendirian di kamar mandi.
Asha menjalani pengobatan baru — lebih agresif. Rumah sakit Razka memberikan pelayanan terbaik. Asti memimpin tim. Bayu, suami Asti, jadi anestesi di beberapa operasi.
Pengobatan berlangsung delapan belas bulan. Asha mencoba hidup normal di antara — masih mengantar Reza ke sekolah saat dia di Jakarta. Masih menulis. Masih datang ke Pondok Indah untuk acara membaca, walaupun harus duduk di kursi karena tidak bisa berdiri lama.
Tapi akhirnya, tubuh menyerah.
Asha meninggal pada usia empat puluh delapan tahun. Di rumahnya sendiri di Bandung. Dengan Damar di satu sisi, Sara di sisi lain, Reza dan Layla di kaki tempat tidur.
Pemakaman di Bandung, tempat Asha tinggal. Bukan di pemakaman keluarga Pratama di Jakarta. Asha pernah berpesan, dulu, sebelum kanker: "Aku ingin dimakamkan dekat rumahku. Bukan dekat Pondok Indah. Aku sudah hidup terpisah dari Pondok Indah lama. Itu kampung halamanku, tapi rumahku di Bandung."
Sara, di pemakaman, membaca puisi pendek untuk Ibunya. Lalu menutup mulut dengan tangan dan menangis tidak terkontrol.
Asti dan Naya datang. Memeluk keponakan mereka — yang sekarang sudah tua juga, dengan cucu yang sudah lahir, tapi yang masih anak kecil di hadapan kakak-kakak Ibu Mama-nya.
"Sayang," kata Asti, "kita di sini."
"Bibi Asti..."
"Kita akan jaga kau. Mama akan jaga kau dari sana."
Sara menangis di pelukan Tante. Tante yang juga, secara biologis, anak dari Nenek-nya sama seperti Mama-nya — tapi yang dibesarkan terpisah, dipertemukan kembali, jadi bagian dari keluarga yang lebih besar dari darah.
Cinta. Tidak diukur darah. Tidak diukur juga umur.
Hanya diukur dari kehadiran. Dan kehadiran tidak hilang ketika seseorang pergi.
Asha tetap di hati semua orang yang dia cintai. Selamanya.