Lima tahun setelah Aira meninggal.
Sara dua puluh enam tahun. Sudah lulus kuliah, sudah menerbitkan empat novel di bawah nama pena Aksara Permata. Menikah dua tahun lalu dengan Iqbal — pemuda yang dia temui di kelas sastra, juga penulis, juga sederhana. Mereka tinggal di apartemen kecil di Bandung, dan punya satu anak laki-laki, Reza Ali Pratama, baru enam bulan.
Asha dan Damar masih di Bandung, sekarang sudah kakek dan nenek. Sara tinggal sepuluh menit dari rumah mereka.
Asti dan Bayu masih di Jakarta, dengan dua anak — Yudha (sekarang remaja) dan Annisa (lima tahun, lahir setelah Aira meninggal).
Naya dan Faris juga di Jakarta. Mira sudah remaja, sedang asik dengan teman-teman SMA.
Lina sudah pensiun. Pak Dokter masih hidup, tapi sangat tua, di kursi roda. Wijaya menikah dengan istrinya, sudah punya bayi laki-laki.
Pondok Indah dijaga oleh tiga juru masak lama (yang dilatih Bu Marta), tukang kebun baru, dan kepala rumah tangga yang merupakan anak kepala rumah tangga sebelumnya (anak Bu Marta).
Sekolah membaca berlanjut. Sekarang yang membacakan cerita biasanya Asha (saat dia di Jakarta) atau relawan dari Kafe Aksara. Sara juga, ketika dia datang ke Pondok Indah dengan Reza.
Pondok Indah jadi yayasan, sesuai keinginan Razka. Asha, Asti, Naya jadi wali. Bertahun-tahun lagi, ketika anak-anak mereka dewasa — Sara, Yudha, Mira, dan adik-adik mereka — wali akan diserahkan ke mereka.
Suatu Sabtu di bulan Maret, lima tahun setelah Aira meninggal, Sara membawa Reza pertama kalinya ke Pondok Indah untuk acara membaca.
Reza, enam bulan, tidur di stroller di sebelah tikar di kebun. Sara duduk di tikar bersama tiga puluh anak SD, dan membaca buku — buku Aksara Permata terbaru, "Pohon Mangga Lama: Kisah Anak yang Tidak Pernah Bertemu Kakeknya".
Buku itu dia tulis untuk anak-anak — fiksi pendek, tentang seorang anak yang tidak pernah bertemu kakeknya (karena kakeknya meninggal sebelum anak itu lahir), tapi yang mengenal kakeknya lewat cerita yang ibunya tinggalkan.
Cerita yang banyak orang tahu inspirasinya dari hidup Sara sendiri — meskipun Sara bertemu Razka. Tapi dia tahu, suatu hari nanti, Reza tidak akan bertemu Kakek Razka secara biologis, tidak juga Nenek Aira. Mereka sudah meninggal sebelum Reza lahir.
Anak-anak SD mendengarkan dengan serius. Beberapa menangis di adegan-adegan emosional. Beberapa tertawa di bagian lucu (Sara selalu menyisipkan humor — dari Razka, yang dulu selalu pintar membuat orang tertawa di saat sedih).
Setelah cerita selesai, seorang anak SD — perempuan, sekitar delapan tahun — mengangkat tangan.
"Iya, Sayang?" Sara menyapa.
"Kak Sara, apakah Kakek di buku ini sungguhan?"
Sara tersenyum. "Apa pendapat Sayang?"
"Aku rasa sungguhan. Karena... karena ceritanya terlalu nyata untuk hanya fiksi."
Sara terharu. "Sayang punya mata penulis."
"Kalau Kakeknya sungguhan, Kak Sara — dia di mana sekarang?"
Sara menatap pohon mangga di kebun. Pohon yang sekarang sudah sangat tua — beberapa cabang sudah jatuh, daun-daun lebih sedikit. Tapi masih hidup.
"Sayang. Kakek di buku itu... ada di mana-mana. Di pohon ini. Di rumah ini. Di sekolah membaca yang Sayang ikuti. Di setiap anak yang membaca buku karena ada orang yang cinta padanya."
Anak SD itu mengangguk serius. "Aku ngerti, Kak."
"Sayang pintar."
Sara melanjutkan acara. Setelah acara, anak-anak meminjam buku dari perpustakaan, lalu pulang.
Sara sendirian di kebun dengan Reza yang masih tidur. Iqbal — suami Sara — menyusul dari toko buku Damar di Bandung, tiba siang itu untuk menjemput.
"Sara," tanya Iqbal duduk di sebelahnya di tikar, "kau sudah selesai novel besarmu?"
"Belum, Bal."
"Belum?"
"Belum. Aku menunggu."
"Menunggu apa?"
Sara melihat Reza. Anak pertamanya yang tidur dengan damai.
"Aku menunggu Reza dewasa. Atau setidaknya cukup besar untuk membaca dan mengerti. Aku ingin novel besarku — cerita keluarga kami — selesai pada waktu yang tepat. Kalau aku terbit sekarang, aku akan kehilangan beberapa perspektif yang nanti akan datang."
"Sara, kau berusia dua puluh enam. Reza akan tujuh belas dalam tujuh belas tahun."
"Iya. Itu yang aku tunggu. Saya akan tulis selama tujuh belas tahun. Kalau Reza tujuh belas, dan saya empat puluh tiga, novelnya bisa terbit. Setelah saya hidup cukup untuk menulis dengan kebijaksanaan."
"Itu komitmen panjang."
"Karena cerita keluarga kami panjang, Bal. Tidak boleh disingkat."
Iqbal mengangguk. Memegang tangan istrinya.
"Aku mendukung, Sayang."
"Iya. Aku tahu."
Mereka duduk di tikar lama, dengan Reza yang akhirnya bangun dan rewel minta susu. Sara menyusui di teras, dengan Iqbal di sebelahnya. Pondok Indah tenang di sore itu — anak-anak SD sudah pulang, juru masak sedang menyiapkan makan malam ringan, tukang kebun sedang menyapu daun-daun mangga yang jatuh.
Sara melihat ke arah ayunan di kebun — ayunan yang Razka dan Aira sering duduk di sana, di hari-hari terakhir.
Ayunan kosong sekarang.
Tapi Sara tahu — bagi orang yang tahu cerita ini — ayunan itu tidak pernah benar-benar kosong. Selalu ada dua hantu kebaikan yang duduk di sana, memandang ke kebun, memandang ke pohon mangga, memandang ke generasi yang akan datang.
Sara berbisik pada Reza yang sedang menyusu: "Reza, suatu hari Mama akan ceritakan tentang Kakek Buyut Razka dan Nenek Buyut Aira. Kakek Buyut adalah orang yang pernah jahat dan kemudian sangat baik. Nenek Buyut adalah orang yang takut dan kemudian sangat berani. Mereka dua orang yang membangun rumah ini untuk kita semua."
Reza tidak mengerti apa-apa, tentu. Dia hanya menyusu dengan damai.
Tapi Sara berjanji — pada dirinya, pada Reza, pada Razka dan Aira di mana pun mereka — bahwa cerita itu akan diceritakan. Suatu hari.
Pada waktu yang tepat.