Pemakaman Aira berlangsung minggu setelah dia meninggal.
Sama seperti pemakaman Razka — sederhana, hanya keluarga dan teman dekat. Aira dimakamkan di sebelah Razka, di pemakaman keluarga di pinggiran Jakarta, dekat makam Pak Yudha.
Lima puluh orang. Semua wajah yang sama dari pemakaman Razka tujuh bulan lalu, ditambah beberapa yang baru — teman-teman Aira dari sekolah membaca, beberapa pelanggan setia Kafe Aksara yang merasa harus datang.
Sara, dua puluh satu tahun, membaca tulisan untuk Nenek-nya.
"Nenek saya mengajarkan saya menulis. Bukan dengan kelas. Dengan contoh. Nenek menulis seumur hidup — kolom-kolom, buku-buku, surat-surat. Dia tidak pernah berhenti menulis. Dia bilang menulis adalah cara membuat dunia mengerti diri sendiri."
"Nenek meninggalkan kami surat sebelum dia pergi. Saya tidak akan baca surat itu hari ini — itu pribadi. Tapi saya akan baca surat singkat yang Nenek tinggalkan khusus untuk saya, yang Nenek izinkan saya baca di pemakaman."
Sara membuka amplop kecil. Surat di dalam, ditulis dengan tangan Aira yang masih indah meskipun sudah tua.
"Sara saya yang manis. Kalau kau baca ini, berarti aku sudah pergi. Jangan menangis terlalu lama. Aku pergi dengan damai, di rumah yang aku cintai, dengan ingatan tentang Kakekmu yang menungguku di mana pun kita akan."
"Sara, aku ingin meminta satu hal padamu. Selesaikan ceritamu. Cerita tentang keluarga kita. Bukan untuk dirahasiakan, bukan untuk dipajang. Tulis dengan jujur. Tulis dengan kebaikan. Lalu publikasikan, jika kau ingin."
"Kakekmu berkata pada saya, sebelum dia pergi, bahwa Sara akan menulis cerita kita lebih baik dari kami sendiri pernah bisa. Saya setuju dengan Kakekmu. Kau punya hadiah yang langka — kau bisa lihat orang sebagai manusia utuh, dengan terangnya dan dengan gelapnya, dan menulis mereka dengan cinta."
"Tidak banyak penulis bisa begitu. Banyak penulis menghakimi karakter mereka — menjadikan mereka pahlawan atau penjahat. Kau menjadikan karakter sebagai apa adanya manusia, dan itu yang membuat tulisanmu istimewa."
"Tulis kami, Sara. Kakekmu yang dulu jahat dan kemudian berusaha jadi baik. Aku yang takut dan kemudian belajar memilih. Tante Lina yang berkhianat untuk menyelamatkan. Pak Yudha yang setia. Bu Marta yang sabar. Asti, Asha, Naya — anak-anak yang membawa harapan. Mira, Yudha, dan kau — generasi yang akan membawa cerita kami ke depan."
"Tulis kami semua. Tapi yang terpenting — tulis dirimu. Karena kau juga bagian dari cerita ini. Bagian yang akan terus tumbuh setelah aku dan Kakekmu sudah pergi."
"Setiap aksara, sebuah dunia, Sara. Termasuk aksara yang kau tulis besok."
"Cinta Nenek selalu, Aira Saraswati Pratama."
Sara melipat surat. Air mata jatuh.
"Nenek," bisiknya. "Sara janji."
Asha, Asti, Naya berdiri bersama di samping makam. Tiga anak perempuan — satu yang dibesarkan dari sebelum lahir (Asha), satu yang ditemukan setelah delapan tahun hilang (Asti), satu yang lahir alami di tengah keluarga yang akhirnya damai (Naya). Tiga cerita yang berbeda, tapi satu Mama.
Asha bicara untuk mereka bertiga.
"Bunda Aira. Bunda yang menulis hidupnya dengan keberanian luar biasa. Bunda yang membesarkan kami dengan cinta yang adil — tidak satu pun dari kami pernah merasa kurang dicintai dibanding yang lain. Bunda yang membuktikan, lewat hidupnya sendiri, bahwa cinta tidak terbatas. Bahwa keluarga tidak diukur dari darah. Bahwa pengampunan adalah kekuatan, bukan kelemahan."
"Bunda, kami akan menjaga Pondok Indah. Kami akan menjaga Kafe Aksara. Kami akan menjaga sekolah membaca. Kami akan menjaga cerita Bunda dan Papa. Untuk anak-anak kami. Untuk cucu-cucu kami. Selamanya."
"Sampai jumpa lagi, Bunda."
Tanah ditimbun di atas peti Aira. Bunga-bunga mawar putih diletakkan oleh cucu-cucu. Sara meletakkan satu lagi — bunga teratai kecil, yang dia bawa khusus dari kolam di Pondok Indah.
"Untuk Nenek," bisiknya. "Bunga dari rumah."
Pemakaman selesai. Semua kembali ke Pondok Indah untuk makan malam terakhir bersama. Setelahnya, rumah akan kosong — tidak ada penghuni utama lagi. Tiga anak akan menjaga dan mengelola, tapi tidak ada yang akan tinggal di sini secara permanen.
Sara, sebelum tidur malam itu, berjalan sendiri ke kamar tidur Aira. Tempat tidur yang sama yang dia bagi dengan Razka selama tiga puluh dua tahun.
Sara duduk di sisi tempat tidur Aira. Mengusap bantal yang sudah tidak berbau apapun lagi — ditemukan terlalu lambat, sudah dibersihkan.
"Nenek."
Tidak ada jawaban.
"Nenek, Sara janji. Sara akan tulis cerita kita. Bukan sekarang. Sara belum siap. Tapi suatu hari. Janji."
Sara berdiri. Berjalan ke ruang baca Razka. Di rak buku, di sudut, dia menemukan boks kayu kecil yang Razka selalu kunci. Kunci ada di tangan Aira sekarang — yang Asti temukan di laci meja samping tempat tidur Aira.
Sara membuka boks dengan kunci. Di dalam — kertas-kertas. Bertumpuk-tumpuk. Setiap kertas adalah catatan kecil dari Razka.
Catatan tentang anak-anak. Tentang Sara, Yudha, Mira. Tentang Aira. Tentang Pak Yudha, Bu Marta. Tentang pohon mangga. Tentang hal-hal kecil yang dia ingin ingat.
Catatan dengan tanggal — dari beberapa tahun lalu sampai hari sebelum Razka meninggal.
Catatan terakhir, ditulis di hari sebelum hari Razka meninggal di kebun:
"Aira hari ini menyiapkan kopi. Pahit. Tapi enak karena Aira yang membuat. Sara akan datang Sabtu. Saya ingin lihat Sara sebelum saya pergi. Hari ini damai. Pohon mangga sudah tua, seperti saya. Itu tidak apa-apa. Pohon ada yang menggantikan. Saya juga ada yang menggantikan — Sara, dan adik-adiknya. Saya bisa pergi tenang. Aira, sayang, aku selalu cinta kau. Sara, sayang, jaga Nenek."
Sara menutup catatan. Menangis pelan.
Lalu — dengan ketenangan yang dalam — dia mengambil catatan-catatan itu ke kamarnya. Untuk menyimpannya. Untuk membaca lagi nanti, ketika dia siap menulis.
Karena Kakek dan Nenek-nya sudah memberi semua bahan yang dia butuhkan.
Tinggal Sara yang menulis.