Enam bulan setelah Razka pergi.
Aira enam puluh empat tahun. Hidup sendiri di Pondok Indah — kecuali tiga juru masak yang bekerja, dan tukang kebun, dan staf kebersihan yang datang seminggu tiga kali.
Anak-anak ingin Aira tinggal dengan salah satu dari mereka — Asha menawarkan kamar di Bandung, Asti menawarkan kamar di rumahnya di Jakarta, Naya juga. Tapi Aira menolak.
"Pondok Indah rumah saya," katanya. "Tempat saya membangun semua. Tempat Razka. Saya tidak akan meninggalkannya selama saya bisa."
Anak-anak menghormati. Tapi mereka datang lebih sering. Asha pulang dari Bandung setiap dua minggu. Asti, yang paling dekat, hampir setiap hari mampir setelah jam kerja, walau hanya untuk satu jam. Naya datang setiap akhir pekan.
Sara, dua puluh satu, hampir lulus kuliah, datang sebulan dua kali. Dia sedang menulis novel baru — yang dia rahasiakan dari semua orang. "Sara baru kasih liat kalau selesai," katanya.
Aira mengisi waktunya dengan sekolah membaca yang masih berlanjut, dengan menulis kolom di majalah, dengan membaca, dengan kebun (dia mulai berkebun sendiri sekarang, sesuatu yang Razka selalu lakukan).
Pohon mangga lama masih berdiri. Aira menjaganya. Memupuk akarnya. Memangkas cabang yang patah. Pohon itu tetap berbuah, meskipun lebih sedikit dari tahun-tahun muda.
Suatu sore di bulan April, Aira duduk di teras dengan secangkir teh. Hujan rintik-rintik, suasana yang Razka selalu suka.
"Razka," bisiknya pada angin.
Tidak ada jawaban. Tidak pernah ada jawaban. Tapi Aira tidak berhenti bicara padanya.
"Hari ini Sara telepon, Razka. Dia bilang novel barunya hampir selesai. Dia tidak mau bilang tentang apa. Tapi aku rasa... aku rasa kau akan bangga."
Angin bertiup pelan. Daun pohon mangga bergoyang.
"Asti hamil lagi, Razka. Bayu sudah bilang minggu lalu. Anak kedua mereka. Yudha akan jadi kakak laki-laki."
"Naya juga baik-baik saja. Faris baru menyelesaikan film baru — tentang kebun di kampung dia. Pemenang lagi di festival internasional. Naya bangga sekali. Mira sudah remaja, kau tahu, sudah suka bicara tentang fashion."
"Wijaya — Wijaya anak Lina — akan menikah bulan depan. Dengan teman kuliahnya. Lina bahagia luar biasa. Akan ada pesta sederhana di rumah Lina. Kita semua diundang."
Aira meneguk teh. Dingin sekarang — dia terlalu lama bicara dengan angin.
"Aku rindu kau, Razka. Setiap hari aku rindu. Tapi aku tidak terlalu sedih — itu janjiku pada kau. Aku cuma rindu."
Tapi sore itu — Aira tidak tahu kenapa — dia merasa berbeda. Tidak sakit. Tidak lelah. Hanya... ada sesuatu yang berubah.
Asti datang malam itu, seperti biasa. Membawa sup ayam untuk makan malam.
"Bunda, Asti masuk."
"Iya, Sayang."
"Bunda, bagaimana hari ini?"
"Baik. Aku berkebun pagi. Tulis sebentar siang. Lalu duduk di teras."
"Bunda terlihat... lebih damai dari biasanya."
Aira tersenyum. "Iya, Sayang. Hari ini damai."
Asti mengambil sup ke dapur, memanaskan. Aira duduk di meja makan. Memikirkan sesuatu.
"Asti."
"Iya, Bunda?"
"Kalau Bunda pergi suatu hari—"
"Bunda."
"Dengarkan, Sayang. Ini penting."
Asti meletakkan sendok. Duduk di hadapan Bunda.
"Iya, Bunda. Apa?"
"Kalau Bunda pergi, jangan jual Pondok Indah. Sudah ada di surat wasiat, tapi Bunda mau pastikan dengan Sayang juga. Pondok Indah harus tetap berdiri. Untuk sekolah membaca. Untuk perpustakaan. Untuk anak-anak yang akan datang setelah Bunda."
"Iya, Bunda."
"Dan satu hal lagi, Sayang."
"Apa, Bunda?"
"Tolong dimakamkan di sebelah Papa kalian. Di pemakaman keluarga. Di sebelah Pak Yudha. Itu... itu satu-satunya tempat aku ingin berada."
Asti menelan. "Iya, Bunda. Iya."
"Bunda tidak akan pergi sekarang, Sayang. Bunda masih punya banyak tahun. Cuma — Bunda ingin pastikan kau tahu."
"Bunda, kenapa Bunda bicara seperti ini sekarang?"
Aira menatap anaknya. Anak yang dia lahirkan, lalu hilang selama tujuh tahun, lalu kembali. Anak yang tahi lalatnya — di pipi kanan — sama persis dengan Razka. Anak yang seperti melihat Razka di wajahnya, setiap kali Aira menatap dia dengan baik-baik.
"Sayang. Bunda cuma... merasa damai hari ini. Hari yang baik untuk berbicara hal-hal yang penting."
"Bunda, Asti..."
"Sayang, jangan khawatir. Aku tidak sakit. Aku cuma... senang. Senang dengan apa yang Bunda dan Papa bangun. Senang dengan kau, Asha, Naya. Senang dengan Sara, Yudha, Mira. Bunda senang."
Asti memeluk Bunda. Lama.
"Bunda. Asti sayang Bunda."
"Bunda sayang Asti. Sayang banget."
Mereka makan sup ayam bersama. Bercerita tentang Yudha yang sudah suka basket seperti kakaknya Wijaya. Bercerita tentang film baru Faris. Bercerita tentang novel rahasia Sara.
Aira tertawa banyak malam itu. Lebih banyak dari minggu-minggu terakhir.
Setelah Asti pulang — dia harus pulang ke rumah, ke suami dan anak laki-lakinya — Aira berjalan ke kamar tidur. Tempat tidur tetap dengan dua bantal, walaupun satu bantal selalu kosong sejak enam bulan lalu.
Aira berbaring. Memandangi langit-langit.
"Razka."
Tidak ada jawaban.
"Razka, aku merasa damai hari ini."
Aira tidur. Pulas. Lebih pulas dari biasanya.
Pagi datang. Aira tidak bangun.
Asti datang siang itu — biasanya dia datang sore, tapi hari itu dia merasa harus pagi. Naluri seorang dokter. Naluri seorang anak.
Asti menemukan Bunda di tempat tidur. Mata tertutup. Wajah damai. Tangan terlipat di dada, seperti dia sedang berdoa.
Asti tahu sebelum dia memeriksa nadi.
Asti duduk di sebelah tempat tidur Bunda, lama, sebelum dia menelepon Asha dan Naya.
"Bunda sudah pergi," bisiknya di telepon, suara pecah.
"Asti—"
"Bunda pergi dengan tenang, Mbak. Sama seperti Papa. Bunda tidur, dan tidak bangun. Damai."
Asha terisak di telepon. Naya tidak bisa bicara.
"Datang ke Pondok Indah," kata Asti. "Kita di sini sekarang."
Mereka datang. Semua. Hari yang panjang.
Tapi Aira pergi sebagaimana dia hidup — dengan damai. Dengan keluarga. Di rumahnya sendiri.
Tidak sendirian. Tidak pernah sendirian.
Karena Pondok Indah, seperti yang dia bangun, tidak pernah benar-benar sepi.