Pemakaman Razka berlangsung tiga hari setelah dia meninggal.
Aira memilih pemakaman sederhana. Tidak ada upacara megah. Hanya keluarga dan teman dekat. Di pemakaman keluarga di pinggiran Jakarta, dekat makam Pak Yudha (yang menurut keinginan Razka — "Aku ingin di sebelah Pak Yudha. Beliau selalu menjaga aku. Biarkan aku menjaga beliau juga, di sana").
Anak-anak datang dari semua arah. Asha-Damar dari Bandung dengan Sara. Asti-Bayu dari Jakarta dengan Yudha. Naya-Faris juga dari Jakarta dengan Mira.
Lina, Pak Dokter, Wijaya (sekarang sudah dewasa, bekerja di perusahaan teknologi). Cucu Lina juga sudah remaja. Anak-anak Bu Marta yang khusus datang dari kampung Jawa Tengah. Pengacara lama Razka. Beberapa teman bisnis legitimate yang Razka masih dekat dengan mereka. Beberapa tetangga Pondok Indah.
Sekitar lima puluh orang.
Sara, dua puluh tahun, berdiri di depan peti dan membacakan tulisan dia tentang Kakeknya. Tidak panjang. Hanya satu halaman.
"Kakek saya pernah jadi orang yang jahat. Dia tidak pernah menyembunyikan itu. Dia tidak pernah meminta saya untuk lupa. Tapi Kakek saya juga, selama setiap hari saya kenal dia, adalah orang yang paling lembut. Yang membawa saya ke toko buku. Yang mendengarkan cerita Sara waktu kecil tanpa pernah bilang 'nanti aja, Kakek capek'. Yang menyimpan setiap puisi Sara di laci ruang baca."
"Kakek saya mengajarkan saya satu hal yang paling penting. Bukan dengan kata-kata. Tapi dengan cara hidup. Bahwa orang bisa berubah. Bahwa masa lalu yang gelap tidak harus menjadi masa kini yang gelap juga. Bahwa kebaikan adalah pilihan yang bisa diambil setiap hari, bahkan setelah kita pernah memilih sebaliknya."
"Kakek pernah berkata pada saya: 'Setiap aksara, sebuah dunia.' Itu slogan kafe yang Nenek bangun. Tapi sekarang saya mengerti — itu juga filosofi hidup Kakek. Setiap aksara — setiap orang, setiap kesempatan, setiap napas — adalah dunia. Kakek menyia-nyiakan banyak aksara di awal hidupnya. Tapi setiap aksara setelah dia bertemu Nenek, dia gunakan dengan baik. Untuk menjadi suami yang baik. Ayah yang baik. Kakek yang baik."
"Kakek, terima kasih untuk semua aksara yang Kakek bagi dengan saya."
Sara menutup tulisannya. Berjalan ke samping peti, menyentuh kayu yang masih terbuka. Mencium dahi Kakeknya yang sudah dingin tapi yang tampak damai.
"Sara janji, Kakek. Sara akan tulis cerita Kakek. Suatu hari. Dengan kebenaran. Dengan kebaikan."
Lalu peti ditutup.
Asha bicara setelahnya. Singkat, suara serak.
"Papa. Papa selalu bilang Papa tidak pantas jadi Papa kami. Tapi Papa keliru. Papa adalah Papa terbaik yang Asha bisa minta. Bukan karena Papa sempurna — Papa tidak sempurna — tapi karena Papa tidak pernah berhenti mencoba jadi lebih baik. Itu yang Papa ajarkan ke Asha. Itu yang Asha akan ajarkan ke Sara, dan Sara ke anak-anaknya nanti."
Asti bicara, tangan dipegang Bayu.
"Papa. Papa yang menerima Asti tanpa pertanyaan apapun. Papa yang membuat Asti tahu — sejak hari pertama Asti tahu Papa bukan Papa biologis Asha — bahwa cinta tidak diukur dari darah. Asti tidak pernah merasa berbeda dari Asha atau Naya di rumah ini, karena Papa tidak pernah membedakan kami. Itu hadiah terbesar yang seorang ayah bisa berikan. Terima kasih, Papa."
Naya bicara, terisak.
"Papa. Naya yang manja. Naya yang selalu minta Papa antar ke mana-mana. Naya yang masih bisa merengek pada Papa di usia tiga puluh-an. Papa tidak pernah marah. Papa selalu bilang 'iya, Sayang'. Naya akan rindu setiap 'iya, Sayang' itu. Selamanya."
Lina bicara — pendek, suara pelan.
"Pak Razka. Saya mantan musuh keluarga ini. Saya menculik anak Pak Razka delapan tahun lamanya. Tapi Pak Razka memaafkan saya. Lebih dari memaafkan — Pak Razka menerima saya jadi keluarga. Tidak banyak orang yang punya hati seluas itu. Saya akan ingat seumur hidup."
Bayu, suami Asti, juga bicara.
"Pak Razka. Saya datang ke keluarga ini sebagai pria sederhana, tanpa apa-apa. Pak Razka tidak pernah memandang rendah pada saya. Pak Razka membuat saya merasa cukup. Itu yang setiap menantu inginkan dari mertua, dan itu yang Pak Razka berikan tanpa pernah meminta apa pun balik."
Wijaya — anak Lina yang sudah dewasa — bicara juga, mengejutkan semua.
"Om Razka. Saya bukan anak Om secara biologis, juga bukan secara hukum. Saya cuma anak Mama Lina dan Papa Dokter. Tapi Om Razka selalu memperlakukan saya seperti keponakan sendiri. Setiap ulang tahun saya, Om kirim hadiah. Setiap saya lulus sekolah, Om datang ke wisuda. Saya tidak akan lupa. Terima kasih, Om."
Akhirnya, Aira berdiri.
Lima puluh orang menatap dia. Aira menarik napas. Tangan gemetar.
"Razka," katanya pelan, "kau berjanji kau akan pergi setelah saya."
Beberapa orang menangis.
"Tapi tidak apa-apa. Saya... saya juga berjanji pada kau, saya tidak akan terlalu sedih. Maafkan saya kalau saya menangis hari ini lebih lama dari yang seharusnya. Tapi besok, dan lusa, dan minggu depan — saya akan ingat janji saya. Saya akan terus hidup. Saya akan terus jaga anak-anak, cucu-cucu, sekolah membaca, Kafe Aksara. Semua yang kita bangun bersama."
Aira menatap peti. Tangannya menyentuh kayu.
"Razka, terima kasih sudah memilih jadi orang baik. Terima kasih sudah memilih saya. Terima kasih sudah memilih hidup ini. Saya akan menyusul kau suatu hari — tapi tidak sekarang. Sekarang saya masih punya kerjaan."
"Sampai jumpa, sayang."
Peti dimasukkan ke makam. Tanah dimasukkan, sekop demi sekop. Sara, Yudha, dan Mira meletakkan bunga di atas tanah yang baru — masing-masing satu bunga mawar putih.
Setelah pemakaman, semua kembali ke Pondok Indah. Bu Marta sudah tidak ada untuk memasak — tiga juru masak baru yang menggantikan, dengan resep Bu Marta yang sudah mereka pelajari bertahun-tahun.
Makan malam berlangsung tenang. Tidak ada yang banyak bicara. Hanya kehadiran. Hanya keluarga yang duduk bersama, merasakan kekosongan kursi Razka di kepala meja, tapi tahu — bahwa kekosongan itu, juga, adalah bentuk dari Razka yang tetap di sini.
Setelah makan malam, ketika anak-anak dan cucu-cucu menginap di kamar-kamar Pondok Indah (semua datang menginap malam ini, agar Aira tidak sendirian), Aira berjalan ke kamar tidurnya sendiri. Kamar yang dia bagi dengan Razka selama tiga puluh dua tahun.
Tempat tidur dirapikan. Selimut di sisi Razka tetap terlipat seperti biasa. Bantalnya masih berbau pomade rambut yang Razka pakai.
Aira berbaring di sisi tempat tidurnya sendiri. Memandang langit-langit.
"Razka."
Tidak ada jawaban.
"Aku sudah di rumah, Razka. Anak-anak semua di sini. Cucu-cucu juga. Kau tidak sendiri di pemakaman tadi — semua orang yang sayang kau, datang."
"Kau tidur enak ya, Razka."
Aira menutup matanya. Air mata jatuh ke bantal.
Tapi dia tidur. Akhirnya. Setelah hari yang panjang. Dia tidur.
Dan di mimpinya, Razka datang. Memegang tangannya. Tersenyum kecil seperti biasa.
"Aira."
"Iya, Razka."
"Aku baik-baik saja."
"Iya. Iya, aku tahu."
"Sampai jumpa nanti."
"Iya."
Aira terbangun di pagi hari dengan air mata di bantal, tapi juga dengan rasa damai yang dalam.
Razka sudah selesai. Aira masih harus berjalan.
Dan dia akan berjalan. Selama yang dia bisa.