Tiga bulan setelah Bu Marta pergi.
Razka tujuh puluh lima tahun. Pagi di bulan Oktober. Hujan rintik-rintik dari kemarin malam, tanah masih basah.
Razka bangun lebih lambat dari biasanya. Aira sudah duduk di samping tempat tidur, menunggu, dengan kopi panas.
"Razka."
"Aira."
"Bagaimana?"
"Lelah."
"Kau mau tidur lagi?"
"Tidak. Aku mau ke kebun."
"Hujan, Razka. Tanah basah. Nanti kau jatuh."
"Aira. Aku mau ke kebun. Tolong."
Aira menatap suaminya. Lalu mengangguk pelan.
"Iya. Mari kita ke kebun."
Aira membantu Razka turun dari tempat tidur. Mengenakan kemeja flanel. Mengenakan celana panjang. Mengenakan jaket karena pagi dingin. Mengenakan sepatu kebun yang nyaman.
Mereka berjalan pelan ke kebun belakang. Razka memegang tongkat di tangan kanan, tangan kiri di siku Aira. Setiap langkah pelan, hati-hati. Tapi tidak terburu-buru.
Di kebun, mereka berhenti di bawah pohon mangga lama. Daun-daun kuning bertebaran di rumput. Pohon itu, di bulan Oktober ini, terlihat lelah juga — seperti Razka. Seperti yang akan datang.
Razka menyentuh batang pohon. Dengan tangan kanan yang gemetar.
"Pohon."
Aira diam di belakangnya.
"Pohon. Terima kasih."
Aira tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia hanya melihat suaminya menyentuh pohon, lama, seperti mengucapkan selamat tinggal pada teman lama.
"Aira."
"Iya, Razka."
"Aku ingin duduk."
"Di ayunan?"
"Iya."
Razka duduk di ayunan kayu yang sudah lama ada di kebun — ayunan yang dia pasang sendiri dua puluh lima tahun lalu, ketika Asha kecil. Sudah dicat ulang banyak kali. Sudah diperbaiki beberapa kali. Tapi masih kuat.
Aira duduk di sebelahnya.
"Aira."
"Iya."
"Aku cinta kau."
"Aku tahu, Razka. Aku cinta kau juga."
"Aku cinta kau sejak hari pertama. Bahkan ketika aku tidak tahu cinta itu apa. Bahkan ketika aku menarik kau ke mobil hitam itu dan menyakiti kau dan menakuti kau. Aku cinta kau. Aku tidak tahu mengatakannya saat itu. Tapi aku tahu sekarang."
"Razka..."
"Aku cinta kau ketika kau membuka kunci hati aku. Aku cinta kau ketika kau melahirkan Asha. Aku cinta kau ketika kau menerima Asti seperti anak sendiri. Aku cinta kau ketika kau memimpin Kafe Aksara. Aku cinta kau ketika kau menulis memoar. Aku cinta kau setiap hari, setiap menit, setiap detik dari tiga puluh dua tahun ini."
"Razka, kau bicara seperti—"
"Iya. Karena aku tahu, Aira."
"Tahu apa?"
"Tahu bahwa hari ini... hari ini hari aku."
Aira menggenggam tangan suaminya. Erat. "Razka, jangan—"
"Aira, dengar. Aku tidak sakit. Tidak ada yang sakit. Hanya... aku tahu. Hatiku tahu. Hari ini."
"Razka, ayo kita kembali ke rumah—"
"Tidak, Aira. Aku ingin di sini. Di bawah pohon mangga. Dengan kau."
Aira menangis. Tidak histeris. Hanya air mata yang mengalir tenang.
"Razka."
"Iya?"
"Apa yang harus aku katakan ke anak-anak nanti?"
"Katakan aku sayang mereka. Setiap satu. Asha — sayang banget, paling lama mengenal Papanya, paling banyak menanggung tanggung jawab anak sulung. Asti — sayang banget, anak yang ditemukan lewat keajaiban Lina, anak yang membawa pengertian baru tentang cinta. Naya — sayang banget, anak terkecil yang membuat Papa selalu tertawa, anak yang manja tapi paling tahu cara membuat Papa tersenyum."
"Iya."
"Untuk Sara — bilang Sara harus selesaikan ceritanya. Kakek menunggu di mana pun Kakek akan, untuk membaca buku terakhir Sara."
"Iya."
"Untuk Yudha dan Mira — bilang Kakek bangga pada mereka, walaupun Kakek tidak sempat lihat mereka jadi orang dewasa. Mereka cukup. Mereka selalu cukup."
"Iya, Razka."
"Untuk Lina — bilang aku berterima kasih. Atas Asti. Atas tujuh tahun yang Lina jaga Asti hidup-hidup. Atas semua tahun yang Lina jadi keluarga kami."
"Iya."
"Untuk Pak Yudha, Bu Marta — kalau aku ketemu mereka di sana, aku akan bilang terima kasih juga."
Aira tersenyum di antara air mata. "Iya, Razka."
"Aira."
"Iya?"
"Setiap aksara—"
"Sebuah dunia."
"Iya."
Razka menutup matanya. Senyum kecil di wajahnya.
"Aku tidur sebentar, Aira. Hanya sebentar. Bangunkan aku kalau hujan deras."
"Iya, Razka. Tidur."
Aira memegang tangan suaminya. Erat. Tidak melepas.
Razka tertidur. Pelan. Damai.
Lima menit kemudian, dadanya berhenti bergerak.
Aira tetap memegang tangan suaminya. Tetap tidak melepas. Air mata jatuh ke pangkuannya, ke kemeja flanel Razka, ke daun mangga kuning yang sudah lama jatuh di rumput dan menempel di sepatu kebun.
"Razka."
Tidak ada jawaban.
"Razka."
Tetap tidak ada.
Aira menatap suaminya. Matanya tertutup. Wajahnya tenang. Sangat tenang.
Lalu Aira menundukkan kepala ke bahu suaminya, dan menangis tanpa suara, lama, di bawah pohon mangga lama di kebun belakang Pondok Indah, sampai Lina yang datang dari rumah sebelah untuk mengantar kue ulang tahun cucu mereka, menemukan mereka di sana.
Lina meletakkan kue. Berlari. Berlutut di samping Aira.
"Mbak Aira—"
"Lin..." bisik Aira. "Razka pergi."
Lina memeluk Aira. Erat. Lama.
Mereka berdua menangis di bawah pohon mangga lama, sampai Pak Dokter datang, sampai ambulans datang, sampai anak-anak ditelepon, sampai semua tahu, sampai dunia berubah selamanya untuk semua yang mencintai Razka Adhitama.
Tapi pohon mangga lama — pohon yang telah menyaksikan tiga puluh dua tahun cinta, mulai dari yang gelap sampai yang paling terang — tetap berdiri.
Menyerap matahari. Menjatuhkan daun-daunnya. Menjadi saksi lagi, untuk perpisahan yang harus terjadi.
Razka Adhitama meninggal di usia tujuh puluh lima, di kebun rumahnya sendiri, di samping istrinya yang telah dia cintai selama tiga puluh dua tahun, di bawah pohon mangga lama yang sudah lebih tua dari dia sendiri.
Dengan damai.
Dengan damai.