Bu Marta meninggal pada hari Jumat di bulan Juli.
Dia berusia tujuh puluh sembilan tahun. Empat puluh tujuh tahun bekerja untuk keluarga Pratama, dari masa ayah Razka sampai sekarang. Dia meninggal di paviliun, di tempat tidur yang Razka berikan padanya khusus, dengan tiga anaknya di samping (mereka datang dari kampung minggu sebelumnya, naluri orang tua mengetahui ibunya sudah dekat).
Bu Marta meninggal dengan tenang. Pelan. Seperti tidur yang tidak terganggu.
Aira yang menutup matanya.
Razka, yang sudah lupa banyak hal akhir-akhir ini, ingat Bu Marta dengan jelas pagi itu. Dia berjalan pelan ke paviliun, ditemani Aira, dan duduk di samping tempat tidur Bu Marta yang sudah menjadi mayat.
"Bu Marta," kata Razka pelan, suaranya bergetar. "Terima kasih."
Dia tidak bisa berkata lebih banyak. Air mata mengalir tenang.
Aira memegang tangan suaminya. "Razka, mari kita beri Bu Marta istirahat. Anak-anaknya perlu waktu sama Ibunya."
"Iya, Aira."
Pemakaman Bu Marta berlangsung di kampungnya di Jawa Tengah — tempat dia ingin dimakamkan, di sebelah suaminya yang sudah lama meninggal. Razka tidak ikut — perjalanan terlalu jauh untuk kondisinya. Aira ikut, bersama Lina.
Sebelum jenazah Bu Marta dibawa pergi dari Pondok Indah, Razka memberikan amplop pada anak sulung Bu Marta.
"Ini untuk pemakaman. Dan untuk masa depan Anda dan saudara-saudara. Ibu Anda sudah memberikan empat puluh tujuh tahun pada keluarga kami. Yang sedikit ini tidak akan pernah cukup membayar, tapi tolong terima."
Anak sulung Bu Marta — pria sekitar lima puluh tahun, dengan wajah yang mengingatkan Razka pada Bu Marta muda yang dia ingat dari masa kecilnya sendiri — menangis pelan.
"Pak Razka, terima kasih. Ibu saya selalu cerita betapa Pak Razka dan Bu Aira baik pada Ibu."
"Bukan, Nak. Ibu Anda yang baik pada kami. Kami cuma membayar sedikit dari apa yang dia berikan."
Setelah jenazah pergi, Pondok Indah terasa kosong. Bukan karena tidak ada orang — masih ada Razka, Aira, dan beberapa pekerja baru. Tapi karena Bu Marta sudah jadi bagian dari Pondok Indah selama hampir setengah abad. Tidak adanya dia terasa seperti pilar yang hilang.
Razka duduk di teras pagi-pagi. Aira menyiapkan kopi sendiri pagi itu — Bu Marta yang biasanya membuatkan.
"Aira."
"Iya, Razka."
"Bu Marta pergi sebelum saya."
"Iya."
"Saya pikir Bu Marta akan pergi setelah saya. Bu Marta lebih muda dari ayah saya. Saya selalu pikir Bu Marta akan menutup mata saya, bukan saya yang... bukan Bu Marta yang pergi duluan."
"Razka, kita tidak pernah tahu urutan."
"Iya."
Razka menggenggam cangkir kopi yang Aira buat. Pahit. Aira tidak ingat resep Bu Marta untuk kopi Razka — sedikit garam, sedikit gula, kayu manis. Kopi Aira hanya kopi biasa.
Tapi Razka meminum tanpa keluhan. Tersenyum.
"Aira, kopinya enak."
"Bohong, Razka. Pahit kan?"
"Iya. Tapi yang membuat enak. Karena Aira yang membuat."
Aira tertawa, dan air mata jatuh juga. "Razka, kau selalu pintar bilang yang baik."
"Aku belajar dari kau."
Mereka duduk lama di teras. Razka melihat ke kebun. Pohon mangga lama masih berdiri. Tapi pohon itu mulai tampak tua juga — beberapa cabang patah karena angin musim hujan tahun lalu. Daun-daun lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya.
"Aira."
"Iya?"
"Pohon mangga akan mati juga suatu hari."
"Iya, Razka."
"Tapi pohon itu sudah melahirkan banyak biji. Banyak anak pohon di tempat-tempat lain. Bu Marta dulu sering ambil biji mangga ini, tanam di rumah anak-anaknya di kampung. Sekarang di kampung Bu Marta, mungkin ada lima atau enam pohon mangga turunan dari pohon kita."
"Bu Marta tidak pernah cerita itu pada Aira."
"Bu Marta cerita pada saya. Sering. Bu Marta sangat suka pohon mangga ini."
"Razka, mungkin pohon itu hidup selama Bu Marta menjaganya."
"Mungkin."
"Tapi pohon itu juga punya keturunan di kampung Bu Marta. Jadi pohon itu tidak akan benar-benar mati."
"Iya. Seperti kita."
Aira menatap suaminya. "Razka, kau filsuf hari ini."
"Aku selalu sok filsuf di hari sedih."
Mereka tertawa kecil, lalu menangis kecil, lalu tertawa lagi. Begitulah kesedihan untuk orang yang sudah hidup lama — bukan tangis kencang, hanya gelombang yang datang dan pergi.
Lina datang dari rumah sebelah siang itu. Membawa makan siang yang dia masak sendiri.
"Mbak Aira, Pak Razka. Saya dengar tentang Bu Marta. Saya turut berduka."
"Terima kasih, Lin."
"Saya bawakan ayam goreng. Saya tahu Bu Marta yang biasanya buat ayam goreng untuk Pak Razka. Saya... saya tidak bisa menggantikan masakan beliau, tapi saya coba."
Razka menerima dengan tangan gemetar. "Lina. Kau baik sekali."
"Kita keluarga, Pak. Sejak lama."
Lina duduk dengan mereka. Mereka makan ayam goreng yang tidak seenak buatan Bu Marta, tapi enak dengan caranya sendiri. Mereka bercerita tentang Bu Marta — tentang ayam gorengnya yang legendaris, tentang gulai kambingnya, tentang asinan mangga muda di musim panas.
Sore datang. Lina pulang. Aira dan Razka kembali sendirian di Pondok Indah.
Tapi tidak terlalu sendirian. Karena Bu Marta — meskipun sudah pergi — masih ada di sini. Di dapur. Di paviliun yang dia tinggali selama puluhan tahun. Di setiap sudut rumah yang dia bersihkan setiap hari.
Bu Marta tetap di Pondok Indah.
Selamanya.