Razka tujuh puluh empat tahun.
Stroke kedua datang bulan Februari. Lebih kecil dari yang pertama, tapi merampas sesuatu yang lebih berharga: ingatan.
Bukan ingatan tentang orang. Bukan ingatan tentang masa lalu. Tapi ingatan tentang detail-detail kecil. Razka lupa di mana dia menaruh kacamatanya, padahal kacamatanya ada di kepalanya sendiri. Lupa apakah dia sudah sarapan, padahal piring kosong masih di hadapannya. Lupa nama tukang kebun yang sudah bekerja sepuluh tahun di Pondok Indah.
Aira mulai menggantung daftar di pintu kamar mereka. Daftar nama. Daftar hari. Daftar obat. Razka membaca daftar setiap pagi, dengan kesabaran orang yang menerima keterbatasannya.
"Aira."
"Iya, Razka."
"Hari ini hari apa?"
"Selasa, Razka."
"Selasa..." Razka mengulang pelan. "Sara datang Selasa?"
"Tidak, Sayang. Sara datang Sabtu, kalau dia bisa. Sara sudah kuliah di Bandung, ingat?"
"Sara kuliah. Iya."
"Razka, kau ingat Sara kuliah apa?"
Razka berpikir. Lama. Wajahnya berkernyit, lalu rileks ketika ingatan datang.
"Sastra."
"Betul. Bagus."
"Aira."
"Iya?"
"Maafkan aku."
"Untuk apa, Razka?"
"Karena aku jadi beban. Karena kau harus menjawab pertanyaan yang sama setiap hari."
Aira mendekat. Memeluk Razka di kursi. "Razka. Kau bukan beban. Kau suami aku. Aku akan menjawab pertanyaan kau seribu kali kalau perlu."
"Aira—"
"Diam, Razka. Aku tidak mau dengar kau minta maaf untuk hal yang tidak salahmu."
"Iya."
Asha datang dari Bandung setiap dua minggu sekali sekarang — lebih sering dari sebelumnya. Asti yang tinggal di Jakarta hampir setiap hari mampir setelah jam kerja. Naya yang tinggal di Jakarta juga, datang bersama Mira yang sekarang sembilan tahun.
Sara, dua puluh tahun, kuliah Sastra di Universitas Padjajaran. Sudah menerbitkan dua novel di bawah nama pena Aksara Permata. Pulang ke Pondok Indah sebulan sekali. Setiap kali pulang, dia duduk berjam-jam di samping Kakeknya — kadang membaca, kadang hanya diam, kadang mencatat hal-hal yang Razka ceritakan.
"Kakek."
"Sara?"
"Iya, Sara."
"Sara, Kakek mau cerita sesuatu."
"Iya, Kakek?"
Razka menatap cucunya. Lama. Memori datang dan pergi, tapi cinta — cinta tidak pernah pergi.
"Sara, kalau Kakek pergi suatu hari—"
"Kakek—"
"Dengar, Sayang. Ini penting. Kalau Kakek pergi, jangan biarkan Nenek sendirian. Janji?"
"Janji, Kakek."
"Nenek kuat. Sangat kuat. Tapi Nenek juga manusia. Dia akan sedih sekali."
"Sara akan jagain Nenek."
"Dan satu lagi, Sara."
"Iya?"
"Cerita yang Sara tulis — tentang keluarga kita — selesaikan suatu hari. Tulis kebenarannya. Jangan menyembunyikan apapun. Tapi tulis dengan kebaikan. Seperti Sara selalu tulis."
"Iya, Kakek."
"Itu... itu yang Kakek tinggalkan untuk dunia. Cerita kita. Lewat tangan Sara."
Sara menangis pelan. Memeluk Kakeknya.
"Sara janji, Kakek. Sara janji."
Razka mencium puncak kepala cucunya. Air mata jatuh juga, tapi senyum tetap.
Bu Marta, di paviliun di seberang, melihat dari jendela. Air matanya jatuh juga. Dia sudah empat puluh lima tahun bekerja untuk keluarga ini, dan dia tahu — dengan kebijaksanaan orang tua yang sudah melihat banyak hal — bahwa waktu Pak Razka semakin dekat.
Tapi dia juga tahu — Pak Razka pergi dengan damai. Itu yang penting.
Sore itu, Sara membantu Aira menyiapkan makan malam. Razka tidur di kursi malasnya di teras.
"Nenek."
"Iya, Sayang."
"Sara takut."
"Tahu, Sayang. Nenek juga."
"Tapi Kakek terlihat... Kakek terlihat seperti dia siap."
"Iya. Kakek siap. Lebih siap dari Nenek."
Aira berhenti memotong sayur. Memeluk cucunya dari belakang.
"Sara, ketika Kakek pergi, Nenek mungkin akan sangat sedih. Sara jangan khawatir kalau Nenek menangis lama. Itu normal. Tapi Nenek tidak akan menyerah. Nenek janji."
"Iya, Nenek."
"Sara juga harus janji satu hal."
"Apa, Nenek?"
"Sara teruskan menulis. Apapun yang terjadi. Itu... itu yang akan membuat Kakek dan Nenek hidup terus, bahkan setelah kami tidak ada lagi. Lewat aksara Sara."
"Iya, Nenek. Sara janji."
Mereka melanjutkan memasak. Razka, di teras, tidur dengan damai, mendengkur pelan, dengan senyum kecil di wajahnya.
Pondok Indah tenang. Pohon mangga di kebun bergoyang pelan dalam angin sore. Daun-daun kuning jatuh, satu per satu, di rumput yang sudah panjang karena tukang kebun belum sempat memotong.
Hidup berlanjut. Pelan. Dalam. Penuh.
Sampai tidak lagi.