Tahun setelah peluncuran novel Sara.
Razka tujuh puluh dua tahun. Aira enam puluh tiga.
Pondok Indah, meski sudah lebih sepi dari masa anak-anak masih kecil, tidak pernah benar-benar sepi. Bu Marta sekarang sudah sangat tua — tujuh puluh delapan — tapi masih hidup di paviliun. Tiga juru masak baru yang dia latih masih bekerja, dengan dia sebagai pengawas.
Ada juga sekarang anak-anak kecil di rumah. Bukan cucu Razka-Aira — mereka sudah remaja. Tapi cucu-cucu dari pekerja Pondok Indah, dari tetangga, dari Pak Yudha yang... wait, Pak Yudha sudah lama meninggal. Bukan dari beliau.
Yang ramai sekarang adalah program sekolah membaca yang Aira dan Sara dirikan tiga tahun lalu di Pondok Indah. Setiap Sabtu pagi, tiga puluh anak dari sekolah dasar di sekitar Pondok Indah datang ke kebun, duduk di tikar di bawah pohon mangga lama, dan Aira atau Sara (atau salah satu relawan dari Kafe Aksara) membacakan cerita.
Anak-anak boleh meminjam buku dari perpustakaan kecil yang Razka bangun di paviliun lama Pak Yudha — paviliun yang dia konversi setelah Pak Yudha meninggal jadi ruang baca anak-anak. Buku-buku gratis. Anak-anak boleh datang kapan pun.
Razka, meski tubuh sudah lemah, masih datang ke acara membaca setiap Sabtu. Duduk di kursi di teras, mendengarkan dari jauh, melihat tiga puluh anak yang tidak punya hubungan darah dengan dia — tapi yang dia anggap, dengan caranya sendiri, sebagai cucu juga.
Suatu Sabtu, setelah acara membaca selesai dan anak-anak pulang, Razka bertanya pada Aira.
"Aira, kapan kita mulai ini? Sekolah membaca?"
"Tiga tahun lalu, Razka."
"Tiga tahun? Cepat juga."
"Iya."
"Berapa banyak anak yang sudah ikut sekarang?"
"Ada sekitar dua ratus anak yang pernah datang. Yang aktif sekitar tiga puluh."
"Bagus."
"Razka, kau tahu apa yang membuat aku bahagia melihat anak-anak ini?"
"Apa?"
"Bahwa mereka datang ke Pondok Indah dengan sukacita. Bahwa rumah ini — yang dulu jadi penjara aku — sekarang jadi tempat anak-anak datang dengan suka rela. Itu... perubahan yang aku tidak pernah berani harapkan dulu."
Razka mengangguk pelan. "Iya. Rumah ini berubah karena kita berubah."
"Iya."
Mereka duduk di teras lama, melihat kebun yang kosong sekarang, dengan tikar-tikar yang sedang dilipat oleh relawan, dengan buku-buku yang dikembalikan ke perpustakaan paviliun.
"Aira."
"Iya?"
"Aku ingin... aku ingin buat dokumen baru."
"Dokumen apa?"
"Surat wasiat. Bukan tentang harta — itu sudah kita atur. Tentang Pondok Indah."
"Razka, kita sudah atur juga. Pondok Indah jadi milik Asha, Asti, Naya bertiga. Setelah kita pergi."
"Iya, tapi aku ingin lebih spesifik. Aku ingin Pondok Indah tidak dijual. Tidak boleh dijual ke pengembang. Harus tetap berdiri."
"Razka—"
"Aku tahu kau mungkin pikir aku sentimental. Tapi rumah ini... rumah ini adalah saksi dari semua yang kita bangun. Aku tidak ingin suatu hari rumah ini dihancurkan untuk apartemen."
"Iya. Aku setuju."
"Dan paviliun perpustakaan harus tetap perpustakaan. Sekolah membaca harus berlanjut. Bahkan ketika kita sudah tidak ada."
"Iya. Sara akan meneruskan."
"Sara, atau Yudha, atau Mira. Atau cucu mereka. Atau bahkan orang lain yang tidak kita kenal. Yang penting, Pondok Indah tetap rumah untuk kata-kata. Untuk aksara. Untuk dunia-dunia kecil."
Aira menggenggam tangan suaminya. "Razka, kau akan jadi kakek terhebat dalam sejarah kalau kau benar-benar mengatur semua ini."
"Aku ingin coba. Sebelum aku terlalu tua untuk berpikir jernih."
"Kau sudah jernih, Razka. Jangan khawatir."
Razka tertawa kecil. "Tidak, Aira. Aku sudah pelupa. Bu Marta cerita kemarin aku tanya tiga kali apakah Sara sudah datang. Aku tidak ingat pernah tanya."
"Itu cuma kelelahan."
"Mungkin. Tapi mungkin juga awal dari sesuatu. Aku ingin selesaikan semua sebelum awal itu jadi pertengahan."
Aira menelan. "Iya, Razka."
Dokumen disiapkan minggu berikutnya. Pengacara lama Razka — yang sudah hampir setua Razka sendiri — datang ke Pondok Indah dengan asisten muda. Mereka membahas detail.
Pondok Indah menjadi yayasan amal setelah Razka dan Aira meninggal. Tidak boleh dijual. Tidak boleh diubah peruntukannya. Anak-anak (Asha, Asti, Naya) jadi wali yayasan, dengan tugas memastikan Pondok Indah tetap berfungsi sebagai pusat pendidikan untuk anak-anak di sekitar.
Kafe Aksara — semua cabang — dibagi tiga ke anak-anak, tapi dengan klausul bahwa nama "Aksara" dan slogan "Setiap aksara, sebuah dunia" tidak boleh diubah. Selamanya.
Sisanya — properti lain, tabungan, investasi — dibagi adil ke anak-anak dan cucu-cucu. Lina dan Pak Dokter juga dapat bagian. Bu Marta juga, dengan dana untuk masa tua dia dan anak-anaknya.
Selesai dalam tiga hari. Razka menandatangani semua, dengan tangan kanan yang sedikit gemetar tapi masih jelas.
"Razka," kata Aira setelah pengacara pulang, "kau seperti orang yang akan pergi."
"Aku akan pergi suatu hari. Lebih baik siap."
"Iya."
"Tapi tidak hari ini, Aira."
"Tidak hari ini."
"Mungkin tahun depan. Mungkin lima tahun. Mungkin sepuluh."
"Insya Allah."
Razka memeluk Aira. "Aira, satu hal."
"Apa?"
"Kalau aku pergi duluan — kau jangan terlalu sedih. Kau masih punya banyak waktu. Kau masih punya anak-anak, cucu-cucu. Sekolah membaca. Kafe Aksara. Banyak."
"Razka..."
"Aira, janji."
"Razka, aku tidak bisa janji tidak sedih. Itu... itu pasti aku sedih."
"Janji jangan terlalu sedih. Itu saja."
"Iya. Iya, aku janji jangan terlalu sedih."
"Aku sayang kau, Aira."
"Aku sayang kau juga, Razka."
Mereka berdiri di teras, dua orang tua yang sudah hampir tiga puluh dua tahun bersama, dan menatap pohon mangga lama di kebun. Pohon yang akan terus berdiri, bahkan ketika mereka berdua sudah tidak ada.
Dan itu — itu adalah kedamaian yang sangat dalam. Karena hidup bukan tentang berapa lama kita di sini. Hidup tentang apa yang kita tinggalkan, dan siapa yang akan terus tumbuh setelah kita pergi.
Pohon mangga lama menyerap matahari sore, dan menjatuhkan satu daun kuning di rumput.
Pondok Indah tetap berdiri.
(bersambung...)