Sara empat belas tahun. SMP kelas dua.
Asha empat puluh tahun, sudah jadi penulis senior, mengajar workshop menulis di berbagai kota. Damar membuka cabang kedua toko buku indie-nya di Yogyakarta. Mereka tinggal antara Bandung dan Yogyakarta sekarang.
Asti, Naya — semua sudah dewasa dengan keluarga sendiri. Yudha dan Mira sudah remaja juga. Lina sudah jadi nenek dari dua cucu (dari anak laki-laki yang bertahun-tahun lalu kembali ke hidupnya). Pak Dokter masih hidup tapi sudah sangat tua, di kursi roda seperti Pak Yudha dulu.
Razka tujuh puluh satu tahun. Aira enam puluh dua.
Pondok Indah masih berdiri, tapi sudah lebih sepi. Anak-anak sibuk dengan kehidupan masing-masing. Cucu-cucu remaja, mulai sibuk dengan teman dan sekolah, jarang datang setiap akhir pekan.
Sara, yang dari kecil paling sering datang, sekarang juga lebih jarang. Tapi dia masih datang sebulan sekali, biasanya membawa proyek tulisannya untuk dia bahas dengan Nenek Aira.
Suatu Sabtu di bulan November, Sara datang sendiri ke Pondok Indah — naik kereta dari Bandung, lalu taksi dari stasiun. Mama Asha tidak ikut, sibuk dengan deadline buku. Papa Damar juga sibuk dengan toko.
Sara membawa naskah cerita pertama yang dia mau publikasikan — bukan untuk teman seharga seribu rupiah lagi, tapi untuk benar-benar diterbitkan.
"Nenek," katanya di teras, setelah memeluk Aira lama. "Sara mau Nenek baca dulu sebelum Sara kirim ke penerbit."
"Boleh, Sayang. Tentang apa?"
"Tentang... keluarga."
"Keluarga siapa?"
Sara tersenyum kecil. "Keluarga... yang mirip keluarga kita. Tapi nama-namanya diubah. Sara tulis fiksi."
Aira tersenyum. Mengambil naskah dari tangan cucunya. Tebal — sekitar dua ratus halaman.
"Nenek baca akhir pekan ini. Kakek juga mau baca?"
"Boleh."
Razka, dari kursi malasnya, mengangguk. "Tentu. Berikan Kakek sebagian."
Selama akhir pekan, Razka dan Aira membaca naskah Sara — bergantian, di kursi yang berbeda, dengan secangkir teh masing-masing. Sara duduk di kebun, mengantar makanan dari Bu Marta ke kakek-neneknya, dan menunggu dengan sabar.
Pada Minggu sore, ketika naskah selesai dibaca, Razka dan Aira mengajak Sara duduk di teras.
"Sara." Aira mulai.
"Iya, Nenek?"
"Naskah ini... indah."
"Sungguh?"
"Sungguh. Sara, Nenek bangga."
Razka tersenyum. "Sara, kau punya bakat ibumu. Mungkin lebih. Kau bisa menulis dengan kedalaman yang sangat dewasa, untuk umurmu."
Sara tersenyum lebar. "Terima kasih, Kakek."
"Tapi..." Razka melanjutkan, "Kakek ingin tanya satu hal."
"Apa, Kakek?"
"Karakter laki-laki tua di cerita Sara — yang punya masa lalu kelam, yang menebus kesalahan seumur hidup, yang punya cucu yang membaca memoar istrinya."
"Iya?"
"Itu Kakek?"
Sara tersenyum kecil. Tidak menjawab langsung.
"Sara, Kakek tidak marah," kata Razka pelan. "Kakek cuma ingin tahu."
"Kakek..." Sara duduk di sebelahnya. "Sara menulis dengan inspirasi dari Kakek. Tapi karakter itu juga sebagian dari diri Sara sendiri. Dan sebagian dari banyak laki-laki lain yang Sara baca tentangnya di buku-buku. Karakter itu bukan Kakek. Tapi juga... Kakek ada di dalamnya."
Razka mengangguk. "Itu bagus, Sara. Itu yang penulis lakukan — ambil dari kehidupan, tapi buat jadi sesuatu yang lebih luas."
"Kakek tidak marah?"
"Tidak. Justru bangga. Karena... karena Sara menulis Kakek di cerita ini dengan kebaikan. Dengan pengertian. Tapi juga dengan kejujuran. Kakek di cerita ini bukan diidealkan — dia tetap pernah jahat, dan tetap menanggung itu. Tapi dia juga dilihat sebagai manusia yang bisa berubah."
"Iya, Kakek."
"Sara, itu hadiah terbesar yang seorang penulis bisa berikan pada subjeknya — menulis mereka dengan jujur dan dengan kebaikan di saat yang sama."
Sara memeluk Kakeknya. "Sara cinta Kakek."
"Kakek cinta Sara."
Aira menambahkan, "Sara, satu saran kecil dari Nenek."
"Iya?"
"Bagian tengah — di mana karakter perempuan akhirnya memaafkan suaminya — terlalu cepat. Memaafkan itu bukan satu adegan. Itu proses bertahun-tahun. Mungkin Sara bisa kembangkan."
"Iya, Nenek. Sara akan revisi."
"Selain itu, naskah ini siap. Sara berani kirim ke penerbit."
"Mama Asha bilang Nenek kenal banyak penerbit."
"Iya. Tapi Nenek tidak mau Sara terbit karena koneksi. Sara terbit karena layak. Sara kirim seperti penulis baru biasa — anonim, dengan pseudonym kalau perlu. Kalau naskahnya bagus, penerbit akan terima. Kalau ditolak, Sara revisi, kirim lagi. Itu cara penulis sejati."
"Iya, Nenek."
Sara pulang ke Bandung Minggu malam dengan naskah yang sudah diberi catatan revisi oleh Aira. Bulan berikutnya, Sara mengirim naskah ke lima penerbit dengan nama pena: Aksara Permata.
Tiga penerbit menolak.
Satu penerbit mengundang Sara untuk bertemu.
Satu penerbit langsung menawarkan kontrak.
Sara memilih penerbit yang mengundang bertemu — karena editor yang bertemu mengerti naskahnya dengan sangat mendalam, menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Sara berpikir tentang karya sendiri lebih dalam.
Tiga bulan kemudian, ketika novel pertama Aksara Permata diterbitkan dengan judul "Pohon Mangga Lama", Sara empat belas tahun. Penulis termuda yang pernah diterbitkan penerbit itu.
Razka dan Aira datang ke acara peluncuran di sebuah toko buku di Bandung. Damar mengelola — kebetulan toko bukunya yang menjadi tuan rumah peluncuran. Asha bicara di panggung, mengaku-ngaku jadi "ibu yang bangga sekaligus iri".
Sara berdiri di panggung kecil, dengan novel pertamanya di tangan, dan membaca paragraf pertama:
"Pohon mangga di kebun belakang sudah tua. Kakek bilang pohon itu lebih tua dari Kakek sendiri. Pohon itu menyaksikan tiga generasi lahir di rumah ini. Suatu hari, ketika Kakek dan Nenek sudah pergi, pohon itu mungkin masih berdiri — menyimpan rahasia kami di akarnya."
Razka, di kursi penonton, memegang tangan Aira. Air mata jatuh — tapi senyum tetap.
"Aira."
"Iya?"
"Generasi berikutnya... mereka jauh lebih baik dari kita."
"Iya. Dan itu yang seharusnya."
"Iya."
Mereka duduk di sana, mendengar cucu mereka membaca buku pertamanya, dan tahu — dengan kepastian yang tenang — bahwa apapun yang terjadi pada mereka berikutnya, warisan mereka aman.
Aksara akan terus tumbuh.