Rumah itu terletak di kawasan elit Pondok Indah — atau lebih tepatnya, kompleks rumah itu. Tembok beton tinggi tiga meter dikelilingi kawat berduri yang tersamar sebagai dekorasi. Gerbang baja dengan dua satpam berseragam yang Aira yakin bukan sekedar satpam biasa.
Di dalam, halaman seluas lapangan futsal dengan kolam ikan, pohon-pohon palem, dan jalan setapak dari batu alam. Rumah utamanya bertingkat tiga dengan dinding krem dan jendela-jendela besar bergaya kolonial-modern.
Aira keluar dari mobil dengan kaki yang masih gemetar. Hujan sudah berhenti. Udara berbau tanah basah dan melati.
Seorang wanita paruh baya berbaju batik menyambutnya di depan pintu. Wajahnya hangat, tapi matanya tajam dan terlatih.
"Selamat datang, Bu Aira. Saya Bu Marta, kepala rumah tangga di sini. Tuan Razka sudah memesan agar Anda dipersiapkan untuk akad. Mari ke kamar."
Bu Marta. Bu Aira. Tuan Razka.
Kata-kata itu terasa seperti aktor di teater yang Aira tidak pernah audisi.
Kamar yang disiapkan untuknya berada di lantai dua, sayap timur. Luasnya tiga kali lipat dari kamar kosnya. Tempat tidur queen size dengan seprai putih yang halus. Lemari pakaian sebesar kamar mandi. Kamar mandi sebesar kamar tidurnya yang dulu, dengan bathtub porselen. Jendela menghadap taman.
Di tempat tidur, sudah tergeletak gaun kebaya putih sederhana, kerudung putih, dan sepasang sepatu pantofel. Ada juga tas kosmetik dan parfum.
"Tuan Razka memilih sendiri kebayanya," kata Bu Marta. "Beliau bilang Anda tidak suka yang terlalu mencolok."
Bagaimana dia tahu? batin Aira.
"Apakah... apakah saya boleh menelpon ibu saya?"
"Bisa, Bu, tapi setelah akad. Tuan Razka ingin Anda sudah mengenakan nama beliau dulu, supaya kabar yang sampai ke ibu Anda jelas."
Aira mengangguk tanpa daya. Apa lagi yang bisa dia lakukan?
Dua jam kemudian, dia berdiri di ruang tamu rumah itu, mengenakan kebaya putih sederhana, kerudung putih sebahu, dengan riasan tipis. Di hadapannya, di kursi besar, duduk seorang penghulu berjas dengan dua saksi di sisinya. Bu Marta dan seorang pria tua bermata teduh yang dipanggil "Pak Bagus".
Razka berdiri di sebelahnya. Dia mengganti baju — sekarang mengenakan baju koko putih sederhana dengan celana hitam. Tanpa peci. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Dia terlihat seperti pria normal — bukan pembunuh berdarah dingin yang menculik Aira tiga jam yang lalu.
Penghulu membuka berkasnya.
"Saudara Razka Adhitama bin Mahendra Adhitama, saudari Aira Saraswati binti almarhum Bambang Saraswati. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang..."
Aira tidak mendengar selebihnya. Telinganya berdenging. Ayahnya — almarhum ayahnya — disebut. Bagaimana mereka tahu ayahnya sudah meninggal? Bagaimana mereka tahu nama ayahnya? Berapa banyak hal lain yang Razka tahu tentang dia?
Dia hanya tersadar ketika penghulu menatapnya.
"Saudari Aira, bersediakah Anda menerima Saudara Razka sebagai suami sah Anda?"
Hening sejenak.
Razka tidak menatapnya. Dia menatap ke depan, ke wajah penghulu, dengan ekspresi datar yang sama. Tapi Aira melihat — atau merasa — bahwa pria itu menahan napas.
"Bersedia," bisik Aira.
Akad ijab kabul itu sendiri singkat. Hanya lima belas detik. Razka mengucapkan kata-kata itu dengan suara dalam dan jelas, tanpa terbata. Saksi mengangguk: sah.
Dan begitulah. Dalam lima belas detik, Aira Saraswati menjadi Aira Adhitama.
Penghulu menyerahkan dokumen yang sudah ditandatangani. Bu Marta dan Pak Bagus sebagai saksi memberi selamat dengan formal. Penghulu pamit dengan amplop yang Razka selipkan ke sakunya.
Lalu mereka berdua di ruang tamu yang besar itu. Sendirian.
Razka menoleh padanya. Untuk sesaat, ekspresinya berubah — sesuatu yang lembut, sesuatu yang hampir mirip rasa bersalah, melintas di matanya.
"Aira," dia memulai pelan, "aku—"
Aira mengangkat tangan, memotongnya. Air matanya jatuh, tapi suaranya tegar.
"Anda bilang saya boleh menelpon ibu saya. Sekarang."
Razka diam. Lalu mengangguk pelan. Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyerahkannya pada Aira. Nomor ibunya sudah tersimpan di kontak.
"Aku menunggu di luar," katanya pelan, lalu keluar dari ruangan, menutup pintu dengan hati-hati.
Aira menatap ponsel di tangannya yang gemetar. Lalu, untuk pertama kalinya sejak malam di gang itu, dia membiarkan dirinya menangis.
(bersambung...)