Tahun ke-tiga puluh pernikahan Razka dan Aira.
Mereka tidak pernah merayakan ulang tahun pernikahan sebelumnya — karena hari pertama pernikahan mereka adalah hari kelam, hari Aira diculik dari gang Jakarta dan dipaksa menikah di Pondok Indah. Untuk lama, tanggal itu adalah tanggal yang ingin mereka lupakan.
Tapi pada tahun ke-tiga puluh, Aira berkata: "Razka, mari kita ambil kembali hari itu."
"Maksudmu?"
"Bukan dengan merayakan apa yang terjadi. Tapi dengan merayakan apa yang kita bangun dari itu."
"Aira—"
"Bukan pesta besar. Hanya keluarga. Hanya orang-orang yang kita cintai. Kita rayakan tiga puluh tahun cinta yang tumbuh dari tanah yang gelap."
Razka berpikir lama. Lalu mengangguk pelan. "Iya. Mari kita coba."
Persiapan kecil dimulai. Bukan pesta resmi. Hanya makan malam di Pondok Indah, di kebun, di bawah pohon mangga lama.
Tiga puluh tamu. Anak-anak: Asha-Damar-Sara, Asti-Bayu-Yudha, Naya-Faris-Mira. Saudara: Lina-Pak Dokter-Wijaya-cucu Lina. Bu Marta dan tiga juru masak baru. Beberapa teman lama Razka dan Aira yang masih hidup. Beberapa tetangga Pondok Indah yang sudah jadi seperti keluarga.
Lampu dinyalakan di pohon mangga. Tikar tradisional dihampar di rumput. Meja panjang diisi dengan makanan Bu Marta — masakan Jawa, masakan Sunda, beberapa makanan favorit Aira dari masa kuliah yang Bu Marta belajar membuat khusus.
Razka memakai kemeja batik biru sederhana. Aira memakai kebaya putih dengan kain panjang batik tulis. Tidak berlebihan. Hanya rapi, hanya elegan, hanya dua orang tua yang sudah mengabdikan tiga puluh tahun pada satu sama lain.
Saat matahari terbenam, semua duduk. Razka berdiri.
"Aku ingin bilang sesuatu," katanya. Suaranya pelan, sedikit serak karena umur.
Semua diam.
"Tiga puluh tahun lalu," lanjut Razka, "aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku menarik Aira ke mobilku, paksa dia menikah denganku, paksa dia tinggal di rumah ini. Aku adalah orang jahat. Tidak ada cara lain mengatakannya."
Beberapa tamu memandang dengan sedikit terkejut. Sebagian besar tidak — mereka sudah baca memoar Aira. Mereka tahu.
"Aira berhak meninggalkan aku. Berhak benci aku selamanya. Berhak tidak pernah membuka hatinya pada aku."
Razka menatap Aira di seberang meja. Aira menggenggam tangannya sendiri di pangkuan, mata berair, tapi tegar.
"Tapi Aira — entah karena kebaikan, atau kebodohan, atau hadiah Tuhan yang aku tidak pernah pantas terima — Aira memilih membuka hatinya. Pelan. Hati-hati. Dengan keraguan yang sangat masuk akal."
Lina menyeka air mata.
"Selama tiga puluh tahun, Aira tidak hanya memaafkan aku. Aira... mengubah aku. Membuat aku jadi orang yang berbeda. Membuat aku bisa jadi ayah yang baik untuk Asha, untuk Asti, untuk Naya. Membuat aku bisa jadi kakek untuk Sara, Yudha, Mira. Membuat aku bisa jadi orang yang aku tidak pernah bayangkan akan jadi."
Razka mengangkat gelas. Tangan kanan masih sedikit gemetar dari stroke beberapa tahun lalu.
"Aku tidak punya cara untuk membayar Aira atas tiga puluh tahun yang dia berikan padaku. Aku tidak akan pernah punya. Tapi aku berjanji — sebagai panjangan dari janji pada cucu kita Sara dulu — bahwa setiap hari yang tersisa dari hidupku, aku akan menggunakannya untuk Aira. Untuk anak-anak. Untuk keluarga ini. Tidak ada yang lain."
"Untuk Aira."
Semua mengangkat gelas. "Untuk Aira!"
Aira menangis tertawa. Berdiri. Berjalan ke Razka. Memeluknya, lama, di hadapan semua orang.
"Razka," bisiknya. "Aku juga."
"Apa?"
"Aku juga berjanji. Sisa hidup aku, juga untukmu."
Mereka berciuman, lembut, tua, dengan keriput dan uban dan kelelahan tubuh yang sudah dipakai banyak. Tapi dengan cinta yang sama dalamnya seperti dua puluh, sepuluh, lima tahun lalu.
Sara, di antara tamu, menonton kakek dan neneknya, dan dia menulis sesuatu di buku catatan kecil yang dia bawa kemana-mana.
"Sara?" Asha berbisik. "Apa yang Sara tulis?"
"Sara mau jadi penulis seperti Mama, Sayang. Sara harus catat semua. Suatu hari Sara akan tulis cerita tentang Kakek dan Nenek."
"Cerita seperti apa?"
"Cerita yang benar. Tapi yang juga indah."
Asha mencium puncak kepala anaknya. "Iya, Sayang. Itu yang paling sulit. Tapi itu juga yang paling indah ketika berhasil."
Pesta berlangsung sampai malam. Anak-anak bermain di kebun. Wijaya — sekarang sudah kuliah — main gitar untuk semua. Lagu-lagu lama yang Razka dan Aira suka di masa muda.
Saat semua tamu pulang, dan anak-anak kembali ke rumah masing-masing, hanya Razka dan Aira yang tersisa di kebun. Duduk di ayunan, di bawah pohon mangga lama, dengan lampu yang masih menyala di cabang-cabangnya.
"Razka."
"Iya?"
"Aku rasa kita berhasil."
"Berhasil apa?"
"Membangun sesuatu yang lebih besar dari kesalahan awal kita."
Razka mengangguk. Memeluk Aira, kepalanya di puncak kepalanya.
"Iya, Aira. Kita berhasil."
Mereka duduk di ayunan, dalam keheningan yang nyaman, sampai Bu Marta keluar untuk memanggil mereka tidur.
"Bu, Pak — sudah malam. Besok lanjut."
"Iya, Bu Marta."
Mereka berdiri. Berjalan pelan ke rumah, tangan saling memegang. Lampu di pohon mangga dimatikan satu per satu. Pondok Indah tenang lagi.
Tapi pohon mangga lama — pohon yang menyaksikan semua, dari pernikahan paksa sampai pesta perak — masih berdiri tegak, dengan daun-daun yang berdesir pelan dalam angin malam, seperti menyimpan rahasia tiga puluh tahun di dalam akarnya yang dalam.