Razka enam puluh lima tahun. Aira lima puluh enam.
Tahun yang seharusnya tenang. Pondok Indah masih ramai setiap akhir pekan. Sara sepuluh tahun, Yudha tujuh tahun, Mira enam tahun. Tiga cucu, tiga rumah, tiga keluarga yang berkumpul setiap Sabtu-Minggu.
Sampai hari Selasa di bulan Maret, ketika Razka jatuh di kebun.
Dia sedang memetik mangga muda untuk Bu Marta — Bu Marta minta untuk membuat asinan. Razka, meski sudah tua, masih bersikeras melakukan hal-hal kecil sendiri. Dia naik tangga rendah, dan tiba-tiba dunia berputar.
Aira, yang menonton dari teras, melihat suaminya jatuh dari tangga. Lima puluh sentimeter saja, bukan tinggi. Tapi Razka tidak bangun.
"Razka!"
Aira berlari ke kebun, dan menemukan suaminya tergeletak di rumput, sadar tapi tidak bisa menggerakkan tangan kanan. Mulutnya miring sebelah. Mata satunya susah dibuka.
"Razka — Razka, bicara — bicara—"
"Aira..." suaranya cadel. "Aku... tidak..."
Aira berteriak memanggil Bu Marta. Bu Marta menelepon Lina. Lina datang lari dari rumah sebelah dalam tiga menit. Pak Dokter — sudah pensiun, tapi masih punya naluri — memeriksa Razka.
"Aira," kata Pak Dokter, "ini stroke. Kita harus segera ke rumah sakit."
Ambulans datang dari rumah sakit Razka dalam lima belas menit. Razka dibawa pergi. Aira ikut dalam ambulans, memegang tangan suaminya.
"Razka, kau dengar saya?"
"Iya..."
"Tetap sadar. Tetap sama saya."
"Aira..."
"Apa?"
"Cinta..."
"Saya tahu. Saya tahu. Saya cinta kau juga."
Di rumah sakit, Razka langsung dibawa ke unit stroke. CT scan menunjukkan stroke iskemik — sumbatan pembuluh darah di otak. Untungnya, mereka datang dalam waktu jendela emas — empat jam pertama. Obat trombolitik diberikan.
Tiga jam setelah obat, gejala mulai mereda. Tangan kanan masih lemah, tapi mulai bergerak. Mulut kembali simetris perlahan. Bicara lebih jelas.
Tapi Razka sangat lelah. Dia tidur sebagian besar dua hari berikutnya.
Aira tidak pulang. Dia tidur di kursi di samping tempat tidur suaminya. Bu Marta membawakan makanan dari Pondok Indah. Anak-anak datang bergantian — Asha terbang dari Bandung, Asti datang dari rumahnya, Naya datang dari studionya.
Sara, Yudha, dan Mira datang juga, tapi hanya sebentar. Anak-anak tidak boleh terlalu lama di ICU.
Sara, sepuluh tahun, berdiri di samping tempat tidur Kakeknya, memegang tangannya.
"Kakek."
"Sa... Sara..."
"Kakek harus sembuh. Kakek janji ke Sara dulu — tidak boleh lakukan hal jahat lagi. Kalau Kakek pergi, Kakek belum penuhi janji."
Razka tertawa lemah. "Sara... Kakek belum mati... Kakek cuma tidur."
"Tapi Kakek sakit. Sara takut."
"Kakek janji... Kakek tidak akan pergi... sebelum Sara dewasa."
Sara mengangguk serius. "Janji."
"Janji."
Sara mencium kening Kakeknya. Pergi dari ruangan dengan ditemani Damar, agar Aira bisa istirahat sedikit.
Aira, sendirian dengan Razka, duduk di sisi tempat tidur. Memegang tangan suaminya.
"Razka."
"Hm?"
"Saya takut."
"Aku tahu."
"Kalau kau pergi—"
"Aira. Aku tidak pergi. Belum."
"Razka, kita sudah tua. Suatu hari salah satu dari kita pasti pergi duluan."
"Iya. Tapi tidak hari ini."
"Janji?"
"Janji."
Razka pulih perlahan. Dua minggu di rumah sakit, lalu tiga bulan rehab di rumah. Tangan kanan sebagian besar pulih, meski tulisan tangannya tidak akan pernah sama seperti dulu. Bicaranya kembali normal. Berjalan harus pelan-pelan, tapi bisa.
Tapi sesuatu berubah dalam diri Razka. Dia jadi lebih tenang. Lebih banyak duduk. Lebih banyak membaca. Lebih sedikit berkebun.
"Aira," katanya suatu sore, di teras, dengan teh di tangan, "ini panggilan."
"Panggilan apa?"
"Bahwa waktu kita tidak terbatas. Bahwa kita harus pakai apa yang tersisa dengan baik."
"Razka, kau bicara seperti orang yang akan mati."
"Aku tidak akan mati. Belum. Tapi aku ingin... aku ingin pastikan setiap hari yang aku punya tersisa, aku gunakan untuk bersama kau, dan anak-anak, dan cucu-cucu. Tidak ada yang lain yang penting."
"Kau sudah seperti itu beberapa tahun ini."
"Sekarang lebih. Aku tidak mau buang-buang waktu lagi."
Aira menggenggam tangan suaminya. Tangan yang kanan — yang masih sedikit lemah, tapi yang masih bisa memegangnya.
"Razka. Kita masih punya banyak waktu."
"Mungkin. Tapi kita tidak tahu."
"Iya. Kita tidak tahu."
Mereka duduk diam, menyaksikan matahari terbenam. Tidak banyak kata. Tidak perlu banyak kata. Tiga puluh tahun bersama, sebagian besar kata sudah dikatakan. Yang tersisa adalah kehadiran.
Hanya kehadiran.
Yang ternyata, adalah hal paling penting.