Sara delapan tahun.
Tahun ke-tiga sejak memoar Aira terbit. Tahun ke-empat sejak Pak Yudha meninggal. Sara sekarang anak kelas tiga SD di Bandung, suka membaca buku, suka menulis cerita, suka mengikuti jejak Mama Asha-nya.
Suatu sore, di rumah Asha-Damar, Sara mencari buku baru untuk dibaca. Dia mengubek-ubek rak buku di ruang baca Mama-nya, dan menemukan buku tebal di sudut atas. Sampulnya sederhana — coklat tua, dengan judul putih: "Setiap Aksara, Sebuah Dunia."
"Mama!" Sara memanggil. "Sara boleh baca buku ini?"
Asha datang ke pintu ruang baca. Melihat buku di tangan anaknya. Membatu sebentar.
"Sara. Itu buku Nenek Aira."
"Iya! Tulisan Nenek?"
"Iya, Sayang."
"Sara boleh baca?"
Asha menelan ludah. Buku itu — dia sendiri sudah baca tiga kali. Dia tahu isinya. Dia tahu Sara, di umur delapan tahun, mungkin akan bertanya banyak hal yang sulit dijawab.
Tapi dia juga ingat kata-kata Papa Razka di Pondok Indah tahun lalu: "Lebih baik Sara baca dari kata-kata Neneknya, daripada dengar versi yang dipelintir."
Asha menarik napas. "Boleh, Sara. Tapi kalau ada yang Sara tidak mengerti, atau membuat Sara sedih, Mama mau Sara cerita ke Mama. Janji?"
"Janji."
Sara membawa buku itu ke kamarnya, dan mulai membaca.
Satu minggu kemudian, Sara membawa buku itu ke meja makan, dan menutup buku perlahan.
"Mama," katanya pelan. "Sara selesai baca."
Asha menelan. "Bagaimana, Sayang?"
Sara berpikir lama. Anak delapan tahun, tapi seperti anak yang lebih tua. (Mungkin karena dia anak Asha — penulis, anak Damar — filsuf, cucu Aira — pemikir.)
"Mama, kenapa Nenek nulis buku ini?"
"Karena Nenek mau menceritakan kebenaran. Tentang hidupnya. Tentang Kakek."
"Kakek dulu menculik Nenek?"
"Iya, Sayang."
"Kakek jahat?"
Asha berpikir. Damar, yang sedang makan di seberang meja, mendengarkan tanpa bicara.
"Sara," kata Asha pelan, "Kakek dulu... iya, Kakek dulu melakukan hal yang sangat salah. Menculik orang itu salah. Tidak ada pembenaran."
"Tapi Nenek tetap sama Kakek?"
"Iya. Karena... karena Kakek berubah. Setelah Nenek masuk dalam hidupnya, Kakek belajar. Kakek mengakui salahnya. Kakek menyesal setiap hari. Dan Kakek menghabiskan tiga puluh tahun lebih untuk menebus kesalahannya."
"Tiga puluh tahun lebih."
"Iya."
"Itu lama, Mama."
"Sangat lama."
Sara berpikir lagi. "Mama, Sara nggak ngerti satu hal."
"Apa, Sayang?"
"Sara kenal Kakek. Kakek baik. Kakek baca cerita Sara, Kakek bawa Sara ke toko buku setiap Sara datang ke Pondok Indah, Kakek tidak pernah marah pada Sara. Kakek baik sekali."
"Iya, Sayang."
"Tapi di buku Nenek, Kakek dulu... Kakek dulu menakutkan. Kakek dulu seperti orang lain."
"Iya. Kakek dulu memang orang lain."
"Mama, orang bisa berubah segitu banyak?"
Damar akhirnya bicara. "Sayang, Papa mau jawab."
"Iya, Papa."
"Sayang, orang itu kayak air. Kalau air dimasukkan ke gelas, dia jadi gelas. Kalau air dimasukkan ke kolam, dia jadi kolam. Orang juga begitu. Tergantung di lingkungan apa, dengan siapa, dia jadi bentuk apa. Kakek waktu muda hidup di lingkungan yang membuat dia jadi orang yang menakutkan. Tapi setelah Kakek bertemu Nenek, lingkungan Kakek berubah. Pelan-pelan, Kakek juga berubah."
"Tapi Papa, Kakek yang memilih menculik Nenek. Lingkungan tidak menculik Nenek."
Damar terdiam. Pertanyaan tajam dari anak delapan tahun.
"Iya, Sayang. Kau benar. Kakek yang memilih. Itu salah Kakek. Tidak bisa disalahkan ke lingkungan."
"Jadi Kakek tetap jahat dulu?"
"Iya, dulu Kakek jahat. Tapi orang yang jahat dulu, bisa berubah jadi baik sekarang. Itu yang penting. Bukan bahwa kita pernah jahat — tapi apakah kita tetap jahat, atau kita berubah."
Sara berpikir. Lama.
"Papa, Sara mau ke Pondok Indah."
"Sekarang?"
"Sara mau tanya Kakek."
"Sayang, mungkin tunggu akhir pekan—"
"Sara mau sekarang. Sara mau tahu dari Kakek sendiri."
Damar menatap Asha. Asha menatap Sara. Anak delapan tahun yang tidak puas dengan jawaban orang lain — dia mau mendengar dari sumbernya sendiri.
"Baik, Sayang," kata Asha. "Kita ke Pondok Indah besok pagi."
Besok pagi, Sara, Asha, dan Damar berangkat dari Bandung ke Jakarta. Sara membawa buku Nenek-nya, ditandai dengan banyak post-it di halaman yang dia ingin tanyakan.
Sampai di Pondok Indah, Sara langsung mencari Kakek. Razka sedang membaca di teras, seperti biasa.
"Kakek!"
"Sara! Tumben pagi-pagi datang."
Sara duduk di samping Razka. Membuka buku Nenek-nya di pangkuan. Razka melihat buku itu. Wajahnya berubah — bukan marah, bukan sedih, hanya... siap.
"Sara sudah baca," kata Razka pelan.
"Sudah, Kakek."
"Sara mau tanya Kakek sesuatu?"
"Iya."
Razka menutup bukunya sendiri. Menghadapkan tubuh ke arah Sara. "Tanya, Sayang. Apapun. Kakek akan jawab jujur."
Sara menarik napas. Anak delapan tahun, dengan keberanian yang membuat Razka bangga.
"Kakek, Kakek dulu menculik Nenek?"
"Iya, Sayang. Kakek dulu menculik Nenek."
"Kenapa, Kakek?"
"Karena Kakek waktu itu adalah orang yang sangat buruk. Kakek pikir Kakek bisa memiliki apapun yang Kakek mau. Termasuk orang. Itu salah. Sangat salah."
"Kakek menyesal?"
"Setiap hari. Selama tiga puluh tahun lebih."
"Kakek minta maaf ke Nenek?"
"Ribuan kali."
"Nenek maafin?"
"Iya, akhirnya. Setelah lama."
Sara menatap mata Kakeknya. Mata yang sudah tua, yang berkaca-kaca, tapi yang menatap balik dengan tenang.
"Kakek," kata Sara akhirnya, "Sara cinta Kakek."
Razka menutup matanya. Air mata jatuh.
"Sara..." bisiknya. "Setelah Sara tahu semua — Sara masih cinta Kakek?"
"Iya, Kakek. Karena Kakek yang Sara kenal — Kakek yang sekarang — bukan Kakek yang dulu. Kakek yang sekarang baik. Kakek yang sekarang yang Sara cinta."
"Sayang."
"Tapi Kakek harus janji satu hal."
"Apa?"
"Kakek tidak boleh lakukan hal jahat lagi. Pernah lagi. Sepanjang hidup."
Razka memeluk cucunya, menangis tanpa malu. "Iya, Sayang. Kakek janji. Kakek janji."
"Sumpah?"
"Sumpah."
Mereka duduk di teras lama. Aira keluar membawa teh untuk semuanya, melihat suami dan cucunya berpelukan, dan dia juga menangis pelan.
Generasi baru telah memaafkan generasi lama. Bukan karena lupa — Sara membaca semua. Bukan karena tidak peduli — Sara peduli sangat. Tapi karena dia melihat — dengan mata anak delapan tahun yang jernih — bahwa orang bisa berubah, dan perubahan itu layak dihormati.
Itulah hadiah terbesar yang Razka pernah terima.
Dan dia berjanji — dalam pelukan cucunya, di teras Pondok Indah, pada pagi hari biasa di bulan Juli — bahwa janjinya pada Sara akan dia tepati sampai napas terakhirnya.
Tidak pernah jahat lagi.
Tidak pernah.