Aira lima puluh empat tahun. Dia akhirnya menyelesaikan memoarnya.
Tujuh tahun dia menulis. Empat ratus halaman. Judul: "Setiap Aksara, Sebuah Dunia: Memoar Seorang Istri yang Diculik."
Memoar itu jujur. Mengerikan jujur, di beberapa bab. Aira menulis tentang malam dia diculik di gang Jakarta. Tentang Pondok Indah sebagai penjara. Tentang Selena. Tentang Bogor. Tentang Asti dan Lina. Tentang sepuluh tahun terakhir.
Dia tidak menutup-nutupi Razka. Dia menulis tentang Razka apa adanya — pria yang melakukan kesalahan besar, yang menyesalinya seumur hidup, yang berubah dan menjadi seseorang yang lebih baik. Bukan untuk memaafkannya, bukan untuk menghakiminya — hanya untuk menjelaskan: orang bisa jadi sangat buruk, dan orang bisa berubah, dan dua-duanya benar.
Aira menyerahkan naskah pada Razka untuk dibaca pertama. Razka membaca selama tiga hari, di ruang baca, tanpa bicara, kadang menangis, kadang tertawa kecil, kadang menutup buku dan duduk diam.
Hari ketiga, dia datang ke Aira di dapur.
"Aira."
"Bagaimana?"
"Kau jujur. Sangat jujur."
"Iya. Apakah aku terlalu jujur tentangmu?"
"Tidak. Kau jujur dengan adil. Kau menulis aku yang buruk, dan kau juga menulis aku yang berusaha jadi baik. Itu adil."
"Razka, kalau buku ini diterbitkan — semua orang akan tahu apa yang kau lakukan padaku. Semua tetangga. Semua teman bisnis lama. Semua orang yang menghormati kau sekarang akan tahu kau pernah menculik istri kau sendiri."
"Aira. Aku sudah lima belas tahun jadi orang yang berbeda. Kalau ada yang menghakimi aku sekarang berdasarkan apa yang aku lakukan dua puluh lima tahun lalu, mereka berhak. Aku sudah hidup dengan rasa bersalah itu seumur hidup. Buku ini cuma memformalkan apa yang sudah ku ketahui setiap hari."
"Kau yakin?"
"Yakin. Terbitkan."
"Razka, anak-anak juga akan baca. Sara akan baca suatu hari."
"Aira, lebih baik mereka baca dari kau — dengan kata-katamu, dengan perspektifmu yang adil — daripada mendengar versi yang dipelintir dari orang lain. Iya, Sara akan tahu suatu hari Kakeknya pernah menculik Neneknya. Lebih baik dia tahu dengan konteks."
Aira menatap suaminya. Pria yang sudah tua, sudah penuh uban, sudah tidak punya kerajaan apapun lagi — hanya punya keluarga, dan pertanggungjawaban yang dia pikul setiap hari.
"Razka."
"Iya?"
"Aku mencintai kau."
"Aku juga, Aira. Tetap, setelah semuanya."
Memoar itu terbit enam bulan kemudian. Penerbit kecil di Jakarta yang Damar (suami Asha) kenal. Cetakan pertama 5000 eksemplar.
Habis dalam tiga minggu.
Cetakan kedua 10000 eksemplar. Habis dalam sebulan.
Cetakan ketiga, dengan distribusi nasional. Lalu cetakan keempat. Lalu masuk daftar best-seller di toko buku besar.
Buku itu menggemparkan. Banyak yang mengkritik. Banyak yang memuji. Banyak yang menulis ulasan panjang di blog, di media massa. Beberapa korban kekerasan dalam rumah tangga menulis surat pada Aira, berterima kasih karena dia jujur tentang trauma. Beberapa istri mafia (yang tidak pernah mengaku siapa mereka) juga menulis surat, berkata bahwa mereka relate.
Tapi yang paling menggemparkan: media massa mulai mencari tahu siapa "Razka A." yang Aira tulis. Karena Aira tidak menyembunyikan namanya. Karena beberapa detail terlalu spesifik — Bogor, Selena, peristiwa-peristiwa nyata yang pernah jadi berita.
Wartawan datang ke Pondok Indah. Beberapa kali.
Razka menerima mereka di teras. Dengan kemeja flanel, kopi di tangan, dan ketenangan orang yang sudah berdamai dengan masa lalunya.
"Pak Razka. Anda mengaku Anda Razka di buku Bu Aira?"
"Iya. Saya Razka. Saya pria yang menculik Aira tiga puluh tahun lalu."
"Pak, ini pengakuan. Anda bisa dituntut."
"Saya tahu. Tapi statuta pembatasan untuk kasus seperti itu sudah lewat tiga puluh tahun. Saya tidak bisa dituntut secara hukum. Hanya secara moral. Dan saya sudah membayar moralnya. Setiap hari, selama tiga puluh tahun."
"Pak, Anda tidak menyesalinya?"
"Saya menyesalinya setiap pagi ketika saya bangun, setiap malam ketika saya tidur. Selama tiga puluh tahun. Tapi Aira memaafkan saya. Anak-anak saya tahu siapa saya. Itu yang penting. Bukan apa yang publik pikirkan."
"Pak, terakhir — Anda akan menulis memoar Anda sendiri?"
"Tidak. Aira sudah menulis. Tidak ada yang perlu saya tambahkan."
Wartawan pergi. Razka kembali masuk ke ruang baca, dimana Aira menunggu.
"Bagaimana?"
"Mereka mencari skandal. Saya kasih kebenaran. Bukan skandal. Mungkin mereka kecewa."
Aira tertawa kecil. "Kau orang yang aneh, Razka."
"Iya."
"Tapi aku suka aneh kau."
Memoar Aira terus terjual selama bertahun-tahun. Diterjemahkan ke lima bahasa. Dijadikan film dokumenter oleh Faris (suami Naya) yang akhirnya jadi karyanya yang paling terkenal.
Tapi Aira menolak ditampilkan dalam film. "Buku saja cukup," katanya. "Wajah saya tidak perlu jadi wajah cerita. Cerita harus jadi miliknya sendiri."
Faris menghormati. Film dokumenter dibuat dengan kreatif — wawancara dengan korban-korban serupa, bukan dengan Aira. Tapi kata-kata dari memoar Aira jadi narasi.
Film itu memenangkan beberapa penghargaan. Faris terkenal. Naya bangga.
Dan Aira — Aira pensiun dari menulis publik setelah itu. Bukan karena dia gagal, tapi karena dia merasa selesai.
"Aku sudah bilang apa yang harus aku katakan," katanya pada Razka. "Sekarang giliran orang lain bicara."
Razka mencium kening istrinya. "Selesai dengan elegan."
"Iya. Selesai dengan elegan."