Setahun setelah Pak Yudha meninggal.
Asti dan Bayu menanti anak pertama. Asti sedang hamil delapan bulan, tinggal di rumah kontrakan kecil di Jakarta — Bayu menolak hadiah rumah dari Razka, ingin memulai sendiri. Razka, meski awalnya kecewa, akhirnya menghormati pilihan menantu yang kepala batu itu.
"Bayu," kata Razka suatu malam, ketika Asti-Bayu makan malam di Pondok Indah, "kau yakin tidak mau bantuan?"
"Pak Razka, saya bisa kasih cucu Bapak rumah yang baik. Mungkin tidak sebesar Pondok Indah, tapi cukup. Saya... saya ingin Asti dan anak kami tahu — kami bisa berdiri sendiri."
"Bayu, kau tidak harus buktikan apa-apa pada saya."
"Bukan ke Bapak. Ke diri saya sendiri."
Razka menatap menantunya. Lalu mengangguk. "Baik. Tapi kalau suatu hari kau butuh apa pun — jangan malu. Itu yang keluarga lakukan."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Asti, di samping suaminya, tersenyum. Dia bangga pada Bayu — pria yang dia pilih bukan karena uang, bukan karena status, tapi karena hatinya.
Naya, dua puluh enam tahun sekarang, akhirnya menikah juga — dengan Faris, pacar lamanya yang akhirnya melamar setelah dua tahun pertimbangan. Pernikahan mereka sebulan setelah Asti hamil. Sederhana, di Pondok Indah seperti Asti, hanya keluarga dan teman dekat.
Faris bekerja sebagai sutradara film independen. Tidak kaya, tapi cukup. Naya bahagia.
"Faris jangan macam-macam ya," kata Razka di pernikahan. "Naya anak kecil saya. Manja. Kalau kau sakitkan dia, kau berhadapan dengan saya."
"Iya, Pak."
"Walaupun saya sudah tua, saya masih punya banyak teman."
"Pak, kau menakutkan dia," kata Aira sambil menggosok bahu Faris yang gemetar.
"Aku cuma jujur."
"Faris, dia bercanda."
"Tidak. Aku tidak bercanda."
"Razka!"
Razka tertawa. "Iya, aku bercanda. Tapi sebagian. Faris, jaga Naya. Itu yang penting."
"Iya, Pak."
Tiga bulan setelah pernikahan Naya, Asti melahirkan. Bayi laki-laki. Berat tiga koma empat kilo. Lahir di rumah sakit Razka, dengan Lina sebagai bidan utama (yang sudah kembali aktif khusus untuk cucu sendiri).
Bayi itu diberi nama Yudha. Yudha Wirahadi.
"Bayu," tanya Razka, "kenapa Yudha?"
"Pak Razka, saya tidak pernah benar-benar kenal Pak Yudha. Saya cuma melihatnya beberapa kali di Pondok Indah sebelum dia meninggal. Tapi saya ingat — Asti selalu cerita tentang Pak Yudha. Bahwa dia menjaga keluarga ini selama puluhan tahun. Bahwa dia mencintai Anda semua tanpa pernah meminta apa-apa. Saya... saya ingin anak saya tumbuh dengan nama yang punya makna seperti itu. Nama orang yang menjaga keluarga dengan tulus."
Razka terharu. Dia memeluk Bayu, lama. "Bayu. Kau menantu yang baik."
Setahun kemudian, Naya juga hamil. Anak perempuan. Diberi nama Mira — pendek dan sederhana, sesuai keinginan Naya yang tidak suka nama panjang.
Sara, sekarang lima tahun, terlalu sibuk dengan dua sepupu barunya. Dia memerintah Yudha dan Mira seperti dia kakak sulung sekalipun mereka cucu yang berbeda dari sepupu yang berbeda.
"Yudha, sini! Mira, sini! Sara mau jadi guru!"
Yudha, dua tahun, dan Mira, satu tahun, hanya menatap Sara dengan bingung. Sara membuat "kelas" di kebun, dengan papan tulis kecil dari karton dan kapur tulis yang dia minta dari Aira.
"Aksara!" panggilnya. "Itu A. Coba ucapkan, Yudha!"
"Aaaa..."
"Bagus! Sekarang B!"
"Bbb..."
"Pintar!"
Aira, di teras, menonton sambil tertawa. Razka di sebelahnya.
"Sara akan jadi guru suatu hari," kata Aira.
"Iya. Atau penulis seperti ibunya."
"Atau dua-duanya."
"Atau dua-duanya."
Pondok Indah tidak pernah sepi. Setiap akhir pekan, tiga keluarga datang — Asha-Damar dengan Sara, Asti-Bayu dengan Yudha, Naya-Faris dengan Mira. Lina-Pak Dokter dari sebelah, dengan Wijaya yang sekarang SMA dan cucu Lina yang sudah jadi remaja juga.
Bu Marta memasak untuk semua — sekarang dia tidak sendirian, ada tiga juru masak baru di Pondok Indah yang dia latih, tapi dia tetap memasak sesuatu untuk anak-anak setiap akhir pekan.
Hidup Razka dan Aira jadi sangat sederhana sekarang — bangun pagi, sarapan, baca buku, tidur siang, makan malam, tidur. Pekerjaan sudah hampir tidak ada. Yang ada cuma kehadiran. Kehadiran yang dalam pada orang-orang yang mereka cintai.
Suatu sore, Razka berkata pada Aira di teras: "Aira, aku kira hidup akan terus jadi rumit. Aku tidak pernah menyangka akan ada hari di mana hidup jadi... sederhana."
"Ini hadiah."
"Iya. Hadiah."
"Tapi hadiah ini, kau ingat — kita bayar dengan apa?"
Razka menatap Aira. "Dengan masa lalu."
"Iya. Dengan kau yang menyesali kesalahan dua puluh tahun. Dengan saya yang belajar memaafkan. Dengan Lina yang berkhianat pada bosnya yang jahat untuk menyelamatkan bayi orang lain. Dengan Pak Yudha yang setia sampai akhir. Dengan banyak orang."
"Iya."
"Hadiah yang dibayar mahal."
"Tapi murah dibanding nilainya."
Aira tersenyum. Mereka duduk diam, menatap cucu-cucu di kebun. Sara masih "mengajar" Yudha dan Mira, sekarang ditambah dengan adegan dia jadi dokter yang memeriksa Yudha karena Yudha "demam".
"Yudha! Demam! Sara kasih obat!"
Yudha, baru tiga tahun, hanya tertawa.
Hidup terus berlanjut. Sederhana. Penuh.