Pak Yudha meninggal pada hari Selasa di bulan Maret, tiga bulan setelah pernikahan Asti dan Bayu.
Dia meninggal dalam tidur. Di kursi rodanya yang sudah jadi tempat tidur kedua, di paviliun yang sudah jadi rumahnya selama empat puluh tahun. Bu Marta — yang datang dari kampung khusus untuk menjenguknya minggu itu — yang menemukannya pagi-pagi, di kursi, mata tertutup, tangan terlipat di pangkuan, seperti dia sedang berdoa.
Pak Yudha berusia delapan puluh tahun.
Razka, yang dibangunkan jam lima pagi oleh Bu Marta yang menangis, berjalan ke paviliun dengan kaki yang terasa berat. Aira mengikutinya, masih dengan piyama, rambut belum disisir.
Mereka duduk di paviliun, di kursi-kursi di sebelah Pak Yudha, dan menatap pria tua yang sudah menjaga keluarga ini sejak Razka masih bayi.
"Razka," bisik Aira.
"Iya."
"Dia tersenyum."
Memang. Wajah Pak Yudha — yang biasanya serius, yang dilatih untuk waspada, yang pernah menyimpan rahasia-rahasia kelam keluarga ini selama puluhan tahun — sekarang menampakkan senyum kecil yang damai.
Razka menyentuh tangan Pak Yudha. Sudah dingin. Sudah pergi.
"Pak Yudha." Razka berbisik. "Terima kasih."
Tidak ada kata-kata lain yang bisa dia katakan. Empat puluh tahun terlalu panjang untuk diringkas dalam satu kalimat.
Pemakaman Pak Yudha sederhana. Dia tidak punya keluarga sendiri — dia menyerahkan hidupnya pada keluarga Pratama, dan tidak pernah menikah. Tapi yang datang ke pemakamannya — di sebuah pemakaman kecil di pinggiran Jakarta — bukan keluarga dalam arti darah, tapi keluarga dalam arti pilihan.
Razka, Aira. Asha, Damar, Sara. Asti, Bayu. Naya, pacarnya yang sudah serius. Lina, Pak Dokter, Wijaya, cucu Lina. Bu Marta dan tiga anaknya yang ikut datang.
Sara, empat tahun, tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi. Dia hanya tahu bahwa "Kakek Yudha" tidak di kursi rodanya lagi, dan semua orang sedih.
"Mama Asha," tanyanya, "Kakek Yudha pergi ke mana?"
"Kakek Yudha pulang ke rumah Tuhan, Sayang."
"Rumah Tuhan jauh?"
"Sangat jauh."
"Kakek Yudha bisa pulang lagi gak?"
"Tidak, Sayang. Tapi Kakek Yudha selalu di hati kita. Selalu."
Sara berpikir. Lalu mengeluarkan boneka beruang kecil dari tasnya — boneka yang Pak Yudha hadiahkan padanya waktu ulang tahun ketiga.
"Sara mau kasih boneka ini ke Kakek Yudha."
Asha tersenyum sambil menangis. "Boleh, Sayang. Sara letakkan dekat kakek ya."
Sara berjalan ke makam yang sedang ditutup. Meletakkan boneka beruang di atas tanah yang baru. Berbisik: "Kakek Yudha jaga boneka ini ya. Sara titip."
Lalu kembali ke pelukan Mama Asha.
Razka berlutut di makam. Tidak menangis kencang — air mata mengalir tenang, seperti sesuatu yang dia simpan terlalu lama dan akhirnya boleh keluar.
"Pak Yudha," bisiknya. "Kau menjaga ayahku ketika ayahku terlalu sibuk untuk menjagaku. Kau menjagaku ketika aku terlalu liar untuk menjaga diriku sendiri. Kau menjaga Aira ketika aku terlalu bingung untuk menjaganya. Kau menjaga anak-anakku ketika aku terlalu jauh dari mereka karena masalah hidup. Kau menjaga semua kami, sepanjang waktu, tanpa pernah meminta apa-apa."
Aira berlutut di sebelahnya. Memegang tangannya.
"Terima kasih, Pak Yudha," kata Aira. "Terima kasih untuk pertama kali kau melindungi saya di Pondok Indah ketika saya masih takut pada suami saya sendiri. Terima kasih untuk semua malam Anda menjaga lampu menyala karena saya tidak suka gelap. Terima kasih untuk seumur hidup Anda yang Anda berikan pada kami."
Mereka berdoa diam-diam. Tidak ada upacara besar. Hanya keluarga, di pemakaman kecil, di tanah yang basah karena hujan rintik-rintik.
Bu Marta, di sebelah Lina, menangis pelan. "Saya akan rindu dia. Lima puluh tahun saya kerja di Pondok Indah, sebagian besar dengan Pak Yudha di paviliun depan. Dia selalu memberi saya teh kalau saya capek."
"Saya juga akan rindu, Bu Marta," kata Lina.
"Bu Marta," kata Aira, "Anda mau pindah kembali ke Pondok Indah? Anda tidak harus tinggal di kampung sendiri. Paviliun yang dulu Pak Yudha tinggali — kosong sekarang. Anda boleh tinggal di situ kalau mau."
Bu Marta menangis lebih kencang. "Bu Aira... saya..."
"Kalau Anda mau."
"Saya... saya mau, Bu. Anak-anak saya di kampung sudah punya rumah sendiri. Saya sendirian di rumah lama. Kalau saya boleh kembali ke Pondok Indah... saya akan sangat bersyukur."
"Maka kembalilah. Pondok Indah selalu rumah Anda."
Sebulan kemudian, Bu Marta resmi pindah kembali ke Pondok Indah. Paviliun Pak Yudha dirapikan, diberi tempat tidur baru, lemari baru. Tapi kursi roda Pak Yudha — yang sudah jadi tanda khasnya selama tahun-tahun terakhir — disimpan di sudut paviliun. Tidak digunakan lagi, tapi tidak dibuang. Sebagai pengingat.
Setiap pagi, Bu Marta membuka jendela paviliun, lalu menyalakan dupa kecil di altar mini yang dia bangun untuk Pak Yudha. Pak Yudha bukan beragama yang sama dengan dia, tapi Bu Marta percaya — doa apapun, dari hati yang tulus, akan sampai.
"Pak Yudha," bisiknya setiap pagi, "selamat pagi. Hari ini Sara akan datang dari Bandung. Anda pasti akan senang melihatnya."
Dan Bu Marta percaya — di suatu tempat — Pak Yudha tersenyum, menatap balik.
Tahun-tahun berlalu, tapi paviliun Pak Yudha tetap dijaga. Sampai bertahun-tahun setelah Razka dan Aira juga sudah pergi, paviliun itu tetap ada — sebagai pengingat bahwa orang-orang yang menjaga kita seumur hidup, layak diingat seumur hidup juga.