Asti dua puluh sembilan tahun. Dokter spesialis obstetri-ginekologi muda di rumah sakit Razka. Belum menikah, dengan jadwal yang membuat Aira khawatir — Asti pernah bekerja shift 36 jam tanpa pulang.
Sampai dia bertemu Bayu.
Bayu Wirahadi. Dokter anestesi di rumah sakit yang sama. Tiga tahun lebih tua dari Asti. Anak ketiga dari keluarga sederhana di Solo, ayah pensiunan guru SMA, ibu masih jualan di pasar. Tidak punya koneksi mafia, tidak punya warisan, tidak punya apa-apa kecuali otak yang sangat tajam dan tangan yang sangat tenang di meja operasi.
Asti dan Bayu pertama kali bertemu di ruang operasi — Asti sebagai obstetri, Bayu sebagai anestesi, dalam operasi cesar darurat. Pasien selamat. Bayi selamat. Setelah operasi, Bayu menawarkan Asti kopi di kantin rumah sakit.
"Saya tidak minum kopi malam," kata Asti.
"Saya juga tidak. Tapi kantin punya cokelat panas. Mau?"
Asti tertawa. "Boleh."
Tiga bulan kemudian, mereka pacaran.
Enam bulan kemudian, Asti membawa Bayu pulang ke Pondok Indah untuk pertama kali. Sabtu siang. Lina dan Pak Dokter ada di sana juga.
Bayu, di pintu Pondok Indah, melihat rumah besar dengan paviliun dan kebun mangga, dan menelan ludah.
"Asti..."
"Bayu, tenang."
"Asti, rumah kau seperti istana."
"Itu rumah orang tua aku. Aku tidak tinggal di sini lagi."
"Tapi orang tua kau—"
"Bayu, dengar." Asti memegang tangannya. "Papa Razka dan Mama Aira adalah dua orang paling sederhana yang aku kenal. Iya, rumahnya besar. Tapi mereka pakai kaus oblong di rumah. Papa membaca buku murah dari toko buku bekas. Mama Aira masih masak sendiri kadang. Mereka bukan orang-orang yang akan menghakimi kau."
"Asti, kau yakin?"
"Yakin. Dan kalau mereka menghakimi kau — aku akan pergi denganmu."
Bayu menarik napas. Asti menarik dia ke dalam.
Pertemuan berjalan tidak seperti yang Bayu takutkan. Razka, dengan kemeja flanel dan rambut sudah putih, menyambut Bayu dengan jabat tangan yang hangat. Aira menawarkan teh, lalu makanan, lalu kue. Lina dan Pak Dokter bercerita lucu tentang masa kuliah kedokteran.
Tidak ada penghakiman. Tidak ada ujian. Hanya... percakapan.
Saat makan malam, Razka bertanya pada Bayu: "Bayu, kau anak keberapa?"
"Anak ketiga, Pak. Dari empat bersaudara."
"Orang tua kau di Solo?"
"Iya, Pak."
"Mereka tahu kau pacaran dengan Asti?"
"Sudah, Pak."
"Mereka tahu Asti dari keluarga... mampu?"
Bayu menelan. "Iya, Pak. Saya cerita semua."
"Mereka khawatir?"
"Sedikit. Mereka khawatir saya... saya akan tidak diterima karena keluarga saya sederhana."
Razka menatap Bayu lama. Lalu tersenyum kecil.
"Bayu, saya akan cerita sedikit. Keluarga saya dulu juga sederhana. Kakek saya datang ke Jakarta dari kampung kecil di Jawa Barat, tidak punya apa-apa. Bekerja keras seumur hidup. Anak-anaknya — ayah saya, paman-paman saya — berhasil. Lalu generasi saya... beberapa berhasil, beberapa salah jalan. Saya termasuk yang salah jalan untuk lama. Tapi saya kembali ke jalan yang benar karena... karena Mama Aira, dan karena anak-anak."
"Pak..."
"Yang ingin saya katakan, Bayu: keluarga 'mampu' itu bukan karena uang. Itu karena keputusan, kerja keras, dan kebaikan. Kalau kau bekerja keras, kalau kau baik pada Asti, kalau kau jadi suami yang setia dan ayah yang baik kalau nanti ada anak — kau lebih dari mampu. Kau lebih dari kami pernah."
Bayu terharu. Asti memegang tangannya di bawah meja.
"Pak Razka, terima kasih."
"Saya cuma jujur, Nak. Asti, kalau kau pilih Bayu, kau pilih dengan baik."
Asti merah. "Papa..."
"Apa? Aku cuma bilang yang benar."
Aira tertawa. "Razka. Kau membuat mereka malu."
"Aku punya hak. Aku ayah."
Lina menambahkan: "Bayu, satu hal yang harus kau tahu. Asti dibesarkan oleh dua ibu. Saya dan Mbak Aira. Kalau kau mau berbuat tidak baik pada Asti, kau akan menghadapi dua ibu, bukan satu. Empat orang tua. Plus Pak Yudha yang masih jago bela diri meski di kursi roda."
Pak Yudha, dari kursi rodanya di sudut, tertawa keras. "Iya. Tongkat saya bisa jadi senjata yang sangat efektif."
Bayu tertawa, gugup. "Pak, Bu, semua. Saya... saya tidak akan mengecewakan Asti. Saya janji."
"Bagus," kata Razka.
Setahun kemudian, Bayu melamar Asti di Pondok Indah. Di kebun, di bawah pohon mangga lama. Dengan cincin sederhana — bukan berlian besar, hanya emas tipis. Bayu hanya bisa menabung sebanyak itu.
Asti menerima, menangis sambil tertawa.
Razka, yang melihat dari teras dengan Aira, mengusap matanya.
"Razka," kata Aira, "kau sudah hampir nangis sejak Sara lahir. Sekarang lagi."
"Aku tidak nangis. Mata aku cuma kering."
"Bohong."
"Iya, bohong."
Pernikahan Asti dan Bayu berlangsung tiga bulan kemudian. Sederhana. Di Pondok Indah. Hanya keluarga dan teman dekat.
Asti memakai kebaya putih sederhana yang Lina jahit sendiri. Bayu memakai jas hitam yang Razka berikan sebagai hadiah pernikahan.
Pak Yudha, dari kursi rodanya, jadi saksi dari pihak Asti. Air mata mengalir di pipinya yang sudah keriput.
"Saya menjaga keluarga ini selama lima puluh tahun," bisiknya pada Bu Marta yang datang dari kampung. "Sekarang saya melihat generasi ketiga menikah. Saya sudah hidup terlalu lama."
"Pak Yudha, jangan bicara seperti itu," kata Bu Marta. "Anda masih harus melihat Sara kuliah."
"Insya Allah."
Tapi Pak Yudha tahu — dengan kebijaksanaan orang tua yang sudah melihat banyak hal — bahwa waktunya sudah dekat.
Dan dia tersenyum, karena dia bahagia.