Tiga tahun setelah Aksara lahir.
Razka enam puluh tiga tahun. Aira lima puluh tahun. Pondok Indah, yang dulu jadi penjara Aira di hari-hari pertama pernikahan, sekarang jadi rumah bermain untuk anak tiga tahun yang berlarian tanpa henti.
Aksara — semua memanggilnya "Sara" — adalah ledakan energi yang tidak pernah berhenti dari pagi sampai malam. Rambut ikal seperti Damar, mata seperti Asha, dan tahi lalat kecil di pipi kanan persis seperti Razka. Garis darah yang berputar lewat banyak rahim akhirnya sampai pada anak ini yang tidak tahu apa-apa tentang sejarah keluarganya — dan untuk sekarang, lebih baik begitu.
Asha dan Damar masih tinggal di Bandung, tapi setiap hari Jumat mereka datang ke Pondok Indah dan menginap sampai Minggu malam. Bagi Sara, akhir pekan adalah surga.
"Kakek Razka!" Sara berlari di koridor pagi itu. "Bangun! Bangun!"
Razka, yang sebenarnya sudah bangun sejak jam lima dan sedang membaca koran di teras, pura-pura mendengkur di kursi. "Hmmm... kakek tidur..."
"Bangun!" Sara memanjat ke pangkuannya, menarik kumis Razka yang masih hitam meski sudah bercampur uban. "Ayo main!"
"Main apa hari ini, Sayang?"
"Sara mau jadi mafia kayak Kakek!"
Razka tersedak kopinya. "Sara! Siapa yang bilang Kakek mafia?"
"Mama Asha bilang Kakek dulu mafia."
"Aduh." Razka mengusap wajah. "Mama Asha terlalu jujur."
Aira muncul di pintu, tertawa. "Sara, Mama Asha cuma bercanda. Kakek tidak pernah mafia."
"Tapi Mama Asha bilang—"
"Mama Asha sering bercanda."
Sara berpikir tujuh detik (waktu maksimal yang dia bisa diam), lalu kembali pada Razka. "Kakek, kita main pohon mangga!"
"Sara, Kakek tidak bisa panjat pohon lagi. Kakek sudah tua."
"Sara saja yang panjat. Kakek nemenin di bawah."
"Boleh."
Mereka turun ke kebun. Pohon mangga lama — yang sudah ada sejak zaman ayah Razka, yang menyaksikan Asha-Asti memanjatnya pertama kali tiga belas tahun lalu — masih berdiri. Sara, tiga tahun, terlalu kecil untuk benar-benar memanjat, tapi Razka mengangkatnya ke cabang terendah.
"Sara duduk sini ya. Pegangan."
"Iya, Kakek!"
Razka duduk di rumput, menatap cucunya. Sara di cabang, bernyanyi lagu tidak jelas tentang "kakek-kakek lucu".
Aira datang membawa dua cangkir kopi. Duduk di sebelah Razka.
"Razka."
"Hm?"
"Suatu hari Sara akan tanya tentang masa lalu kita."
"Iya."
"Bagaimana kita akan jawab?"
Razka menatap pohon. Menatap Sara. Menarik napas.
"Pelan-pelan. Jujur. Tidak menyembunyikan, tapi juga tidak menjelaskan terlalu dini. Seperti kita dulu dengan Asha tentang Asti."
"Iya."
"Dia akan tahu semua suatu hari. Tentang aku. Tentang kau diculik. Tentang Selena. Tentang Lina. Tentang Asti dan Asha. Tentang semua."
"Dia akan menghakimi kita?"
"Mungkin. Mungkin tidak. Tapi yang penting, ketika dia menghakimi, dia juga akan mengerti — bahwa orang-orang yang membesarkan dia, yang menggendong dia waktu kecil, yang menjaganya — adalah orang-orang yang sudah belajar dari kesalahan-kesalahan mereka, dan memilih jadi lebih baik. Itu yang penting."
"Razka."
"Iya?"
"Kau pernah berpikir — kalau kau tidak menarik aku ke mobilmu malam itu, sekarang bagaimana?"
"Sering. Setiap tahun, di tanggal yang sama."
"Setiap tanggal lima belas Februari."
"Iya."
"Aku juga."
"Apa yang kau pikirkan, Aira?"
"Saya pikir... saya pikir mungkin saya akan jadi guru SD di Pekalongan. Saya akan menikah dengan pria baik. Saya akan punya dua atau tiga anak. Saya akan punya kafe kecil suatu hari. Hidup saya akan baik."
"Tapi?"
"Tapi saya tidak akan punya Sara." Aira menatap cucu mereka di cabang pohon. "Saya tidak akan punya Asha. Saya tidak akan punya Asti. Saya tidak akan punya kau."
"Kalau kau punya pilihan — kembali ke malam itu, dan memilih lain — kau akan?"
Aira berpikir. Lama. Lalu menggeleng.
"Tidak. Bukan karena saya menyukai apa yang kau lakukan padaku — itu tetap salah. Tapi karena saya tidak bisa membayangkan dunia tanpa apa yang akhirnya tumbuh dari malam itu."
"Aku menyesalinya, Aira. Aku menyesali bahwa aku menarikmu paksa. Aku menyesalinya setiap hari."
"Saya tahu, Razka. Saya tahu kau menyesalinya. Itu yang membuat saya bisa bersamamu — karena kau tidak pernah berpura-pura itu romantis. Kau selalu jujur bahwa itu adalah hal terburuk yang pernah kau lakukan pada saya, tapi juga hal yang akhirnya berubah jadi sesuatu yang lain."
"Setiap aksara, sebuah dunia."
"Iya."
"Termasuk huruf-huruf yang salah ditulis di awal."
Aira menggenggam tangan suaminya. Mereka duduk di kebun, melihat Sara di pohon, sampai Asha datang membawa Sara turun karena waktunya makan siang.
Hidup. Berlanjut. Pelan. Dalam.
Penuh.