Lima tahun setelah sarapan di Pondok Indah.
Asha dua puluh enam tahun. Sudah jadi penulis novel best-seller di Indonesia. Empat novel dewasa muda, dua kumpulan cerita pendek, satu buku non-fiksi tentang "membesarkan diri sendiri ketika orang tua sudah membesarkanmu dengan baik". Menikah dengan Damar — pemuda asli Bandung, lulusan Filsafat, pengelola toko buku indie. Tinggal di rumah kecil di Bandung. Belum punya anak, tapi ada dua kucing dan seekor anjing.
Asti dua puluh enam setengah tahun. Sudah jadi dokter umum di rumah sakit Razka, dengan spesialisasi sedang dikejar di obstetri-ginekologi. Belum menikah. Tinggal di apartemen di Jakarta. Sering pulang ke Pondok Indah akhir pekan.
Naya dua puluh tiga tahun. Memilih DKV pada akhirnya, lulus dengan pujian. Sekarang ilustrator buku anak. Pacaran sama anak teman Aira waktu kuliah, tapi belum serius. Tinggal di studio kecil di Jakarta yang ditempati bersama dua teman kuliahnya.
Wijaya empat belas tahun. SMP kelas tiga. Suka basket. Mau jadi atlet.
Razka enam puluh tahun. Rambut sudah putih. Punggung sedikit bungkuk. Tapi mata masih tajam. Membaca empat buku per minggu. Suka mengantar cucu — eh, belum ada cucu, tapi mengantar Wijaya ke latihan basket.
Aira empat puluh tujuh tahun. Masih cantik, dengan rambut yang dia biarkan beruban tanpa cat. Kafe Aksara sudah 22 cabang di seluruh Indonesia. Aira sudah menyerahkan operasional pada manajer profesional. Sekarang dia menulis. Tiga buku non-fiksi sudah terbit. Sedang menulis memoar — yang dia janjikan akan ditahan sampai dia meninggal, agar tidak menghancurkan kehidupan banyak orang.
Lina lima puluh tahun. Sudah jadi nenek — anak laki-lakinya dari pernikahan pertama (yang dia tidak pernah ceritakan, dari masa muda yang sulit) ternyata muncul setelah bertahun-tahun, dan punya anak perempuan kecil yang sekarang menetap dengan Lina. Pak Dokter sayang pada cucu itu seperti cucu sendiri.
Pak Yudha tujuh puluh lima tahun. Masih hidup. Masih di paviliun. Tapi sudah pakai kursi roda, karena lutut tidak kuat lagi.
Bu Marta tujuh puluh tahun. Pensiun. Tinggal di kampung di Jawa Tengah dengan anak-anaknya. Pondok Indah punya kepala rumah tangga baru — anak Bu Marta sendiri.
Pondok Indah masih berdiri. Pohon mangga masih hidup.
Sabtu pagi di bulan Mei. Pondok Indah penuh lagi.
Asha datang dengan suaminya. Asti datang dengan teman dokter dari rumah sakit (yang Aira dan Razka curiga adalah lebih dari teman, tapi belum mau bertanya). Naya datang dengan pacarnya yang akhirnya serius. Lina, Pak Dokter, Wijaya, dan cucu Lina datang dari rumah sebelah.
Sarapan dengan tujuh belas orang.
Di tengah sarapan, Asha mengangkat sendok.
"Saya mau cerita."
Semua menoleh.
"Mama Aira, Papa Razka — saya..." Asha tersenyum, menunduk, lalu menatap Damar di sebelahnya. Damar mengangguk. "Saya hamil."
Hening sebentar.
Lalu Aira menjerit. Berdiri. Memeluk Asha dari belakang.
"Asha! Sayang!"
"Mama!"
Razka membuka mulut, lalu menutupnya, lalu membuka lagi. "Asha. Anakku."
"Iya, Papa?"
"Aku akan jadi kakek?"
"Iya, Papa."
Razka menutup mulut dengan tangan. Mata berair seketika.
"Papa, jangan nangis di sarapan," kata Naya.
"Papa nangis dimanapun Papa mau."
Asti melompat dari kursinya, memeluk Asha. "Kakak! Aku akan jadi bibi!"
"Kamu juga seusiaku, dasar."
"Aku tetap bibi."
Lina menangis. Memeluk Aira. "Selamat, Mbak."
"Selamat juga, Lin. Kita akan jadi nenek."
"Saya sudah nenek dari cucu sebelah, Mbak. Tapi cucu baru selalu disambut."
Pak Yudha, dari kursi roda di sudut, tertawa. "Astaga. Saya sudah hidup terlalu lama. Sudah lihat cucu juga."
Damar — suami Asha — bicara untuk pertama kalinya. "Pak Razka, Bu Aira. Saya tahu saya cuma penulis dan pengelola toko buku, gak banyak harta. Tapi saya berjanji menjaga Asha dan anak kami baik-baik."
Razka berdiri. Memeluk Damar. "Damar. Anak. Kau sudah jadi keluarga sejak hari kau bawa Asha pulang untuk pertama kalinya dan kau dengan sopan menolak wine yang aku sodorkan padamu karena kau tidak minum. Kau sudah cukup. Lebih dari cukup."
Damar terharu. "Pak..."
"Diam. Jangan menangis. Kalau kau menangis aku juga menangis lagi."
Tujuh bulan kemudian — di Pondok Indah, di kamar Asha lama yang sudah disulap jadi kamar tamu — Asha melahirkan anak perempuan dengan bantuan Asti (dokter ob-gyn junior, dia minta tugas ini sendiri) dan Lina (bidan senior konsultan).
Anak perempuan itu diberi nama Aksara Permata Pratama.
Aksara — dari kafe yang Mama Aira bangun.
Permata — karena anak ini, kata Asha, "permata pertama dari generasi baru".
Pratama — marga keluarga.
Aksara lahir sehat. Berat tiga koma dua kilo. Rambut hitam tebal. Mata cokelat — warisan dari Aira, dari Asha (atau Damar?), dari sebuah garis darah yang berputar lewat banyak rahim dan banyak hati.
Razka menggendong Aksara pertama kali, dan dia tidak bisa berhenti menangis selama dua puluh menit. Aira tertawa, dan Lina tertawa, dan Naya merekam video buat dikirim ke teman-temannya dengan caption "Kakek mafia menangis pada bayi cucu, mood is everything."
Malam itu, ketika Aksara sudah tidur di pelukan Asha, dan Damar duduk di sebelah tempat tidur memegangi tangan istrinya, dan Aira-Razka pulang ke kamar mereka sendiri, Razka berdiri di dekat jendela kamar.
"Aira."
"Hm?"
"Apakah hidup selalu seperti ini?"
"Seperti apa?"
"Penuh."
Aira tersenyum di bantal. "Tidak. Cuma kalau kita beruntung. Atau kalau kita sangat-sangat berani."
"Berani apa?"
"Berani buka pintu. Berani bilang 'iya' pada hal yang menakutkan. Berani memilih cinta meskipun masa lalu kita gelap."
Razka berbalik. Menatap istrinya. Mendekat. Berbaring di sampingnya.
"Aira."
"Iya?"
"Saya tidak pernah membayangkan ini. Waktu saya menarik kau ke mobil hitam itu, saya tidak pernah... saya tidak pernah membayangkan ada cucu yang lahir dari kau dan saya. Ada Kafe Aksara. Ada Lina. Ada... semuanya."
"Saya juga tidak membayangkan."
"Tapi sekarang... saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa ini."
"Saya juga tidak bisa."
Mereka tidur dengan tangan saling memegang. Di kamar sebelah, Asha tidur dengan Aksara di dadanya. Di rumah sebelah, Lina tidur dengan Pak Dokter dan cucu mereka. Di Pondok Indah, dua belas hati berdetak di malam yang sama.
Generasi berikutnya sudah dimulai.
Dan generasi sebelumnya — Razka dan Aira, Lina dan Pak Dokter, Pak Yudha dengan kursi rodanya — bisa istirahat sedikit sekarang. Bisa membiarkan yang muda mengambil alih. Bisa duduk di teras Kafe Aksara di sore hari, dan menonton aksara baru tumbuh di tangan-tangan baru.
Bisa.
Akhirnya, bisa.
(bersambung...)