Sebelas tahun setelah peresmian Kafe Aksara Pekalongan.
Asha dua puluh satu tahun. Mahasiswa Sastra di Universitas Padjajaran. Sudah menulis tiga novel pendek, dua di antaranya diterbitkan oleh penerbit independen di Bandung. Tinggal di kos di Bandung, datang ke rumah setiap akhir pekan.
Asti dua puluh satu setengah tahun. Mahasiswa Kedokteran di Universitas Indonesia. Cita-cita: jadi bidan seperti Mama Lina, tapi versi modern dengan gelar dokter. Tinggal di kos di Jakarta.
Naya delapan belas tahun. Baru lulus SMA. Sedang bingung mau kuliah jurusan apa — antara DKV (karena dari kecil suka gambar) dan Manajemen Bisnis (karena dia "pengen jadi bos kayak Papa, tapi yang baik").
Aira empat puluh dua tahun. Pemilik tujuh cabang Kafe Aksara di lima kota. Juga menulis kolom mingguan di majalah perempuan. Rambut sudah ada uban di beberapa tempat, tapi senyumnya masih sama.
Razka lima puluh lima tahun. Sudah pensiun dari semua pekerjaan operasional. Hanya menjadi penasehat. Habiskan waktu di rumah, kebun, membaca, dan mengantar Naya ke mana-mana karena Naya manja pada Papa.
Lina empat puluh lima tahun. Menikah dengan Pak Dokter sepuluh tahun lalu. Punya seorang anak laki-laki, Wijaya, sembilan tahun. Tinggal di rumah dekat Pondok Indah. Bekerja di rumah sakit Razka sebagai konsultan bidan senior.
Pak Yudha tujuh puluh tahun. Pensiun dari pengawalan, tapi tetap tinggal di paviliun Pondok Indah, mengasuh Wijaya seperti anak sendiri.
Bu Marta enam puluh lima tahun. Masih kepala rumah tangga. Masih membuat makanan favorit semua orang.
Pondok Indah masih berdiri. Tidak banyak berubah. Hanya lebih banyak foto di dinding — foto keluarga, foto anak-anak tumbuh besar, foto Kafe Aksara, foto Asti pertama kali memanggil "Mama Aira", foto pernikahan Lina, foto Wijaya bayi.
Pagi itu — Sabtu di bulan November — Pondok Indah penuh. Asha pulang dari Bandung. Asti dari Jakarta. Naya turun dari kamarnya. Lina, Pak Dokter, dan Wijaya datang dari rumah sebelah. Pak Yudha dan Bu Marta menyiapkan sarapan untuk dua belas orang.
Aira berdiri di dapur, memotong buah. Razka membantu di sebelahnya, mengupas mangga.
"Aira."
"Hm?"
"Tiga puluh tahun lagi kita seperti ini?"
Aira tertawa. "Saya tujuh puluh dua, kau delapan puluh lima? Kita akan berebut kursi goyang."
"Saya menyerah duluan padamu. Saya pasti yang lebih senile."
"Tidak. Kau akan tetap tampan dan tajam. Saya akan jadi nenek-nenek bawel."
"Saya akan suka nenek-nenek bawel itu."
Aira menoleh. Mencium pipi Razka. "Saya juga suka kakek-kakek senile itu."
Sarapan dihidangkan. Dua belas orang duduk mengelilingi meja makan panjang. Ribut. Asha berdebat dengan Asti tentang siapa yang dapat warisan apa dari kakek-nenek. Naya bertanya kakak-kakaknya tentang kuliah. Wijaya, sembilan tahun, menumpahkan jus jeruk dan Bu Marta marah-marah lembut.
Di tengah keributan, Razka mengetuk gelas dengan sendok. Semua menoleh.
"Aku mau bilang sesuatu," katanya.
"Papa mau pidato?" tanya Naya.
"Ya. Sedikit."
"Aduh, Papa pidato lagi," gerutu Asha. "Pasti panjang."
"Tidak panjang."
Razka berdiri. Memandang meja. Dua puluh lima tahun sejak dia menarik Aira ke mobil hitam di gang Jakarta. Sepuluh tahun sejak Selena dipenjara seumur hidup. Tiga belas tahun sejak Asti ditemukan. Sebelas tahun Lina jadi keluarga.
"Aku cuma ingin bilang... terima kasih."
"Pada siapa, Papa?" tanya Asti.
"Pada semuanya. Pada kalian semua. Pada hidup. Pada... kebetulan yang membuat aku menarik Aira ke mobilku malam itu. Kalau aku tidak menarik dia, kalian semua tidak akan ada di meja ini hari ini."
"Papa, kau sok romantis sekarang," kata Asha.
"Aku selalu romantis. Kalian saja yang tidak pernah perhatikan."
"Papa, gak gitu juga," kata Naya, tertawa.
Aira tertawa. Memegang tangan Razka. "Lanjut."
"Aku cuma... aku bersyukur. Itu saja. Bersyukur ada Aira yang membuka kuncinya hatiku. Bersyukur ada Lina yang menyelamatkan Asti. Bersyukur ada Pak Yudha dan Bu Marta yang menjaga rumah ini. Bersyukur ada Asha, Asti, Naya — tiga anak perempuan yang membuat hidupku lengkap. Bersyukur ada Wijaya — saudara kecil mereka. Bersyukur ada Pak Dokter — kakak ipar yang baik."
Pak Dokter tersenyum. "Sama-sama, Pak Razka."
"Dan aku bersyukur pada diriku sendiri — yang dulu jadi orang buruk, tapi diberi kesempatan kedua. Kesempatan ketiga. Kesempatan keempat. Sampai aku jadi orang yang sekarang."
"Papa nangis lagi," bisik Naya pada Asha.
"Pst! Jangan ganggu."
Razka mengangkat gelas. "Untuk keluarga. Untuk aksara. Untuk dunia-dunia kecil yang kita bangun bersama."
"Untuk keluarga!" balas semuanya.
Gelas-gelas berdenting. Anak-anak meminum jus jeruk. Orang dewasa meminum kopi. Wijaya minum susu cokelat. Pak Yudha minum teh tubruk.
Sarapan berlanjut. Tertawa. Ribut. Damai.
Di luar jendela dapur, di taman, pohon mangga lama masih berdiri. Yang sama, yang Asha dan Asti panjat pertama kali tiga belas tahun lalu. Yang menyaksikan semua — pernikahan, kelahiran, kepulangan, perpisahan, dan pertemuan kembali.
Pohon itu, kalau bisa bicara, akan bercerita tentang gadis muda yang takut suatu malam di hujan, dan pria muda yang tidak bisa menghentikan tangannya menariknya ke mobil hitam. Tentang lima belas tahun perubahan. Tentang dua puluh enam tahun cinta.
Tapi pohon itu tidak bicara. Dia hanya menjatuhkan daun-daun kuning di rumput, dan menyambut musim baru, dan menyaksikan keluarga yang dia kenal sejak hari pertama, terus tumbuh.