"Anda gila."
Kata-kata itu lolos dari bibir Aira sebelum dia sempat mengontrolnya. Dia langsung menggigit lidah, menunggu reaksi.
Razka tidak marah. Dia hanya menoleh perlahan, dan untuk pertama kalinya sejak Aira masuk mobil, sudut bibirnya naik tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya.
"Mungkin," jawabnya. "Tapi aku gila yang efisien."
"Saya tidak akan menikah dengan Anda. Saya tidak mengenal Anda. Kita baru—"
"Aira." Razka memotongnya, suaranya pelan tapi tegas. "Aku akan menjelaskan satu kali. Dengarkan baik-baik."
Aira menelan ludah dan diam.
"Kau adalah saksi mata pembunuhan. Dalam dunia normal, aku punya tiga pilihan: bunuh kau, sogok kau, atau intimidasi kau. Pilihan pertama tidak kuambil karena alasan pribadi yang tidak akan kujelaskan. Pilihan kedua tidak cukup karena uang bisa habis, dan kau bisa berubah pikiran. Pilihan ketiga juga tidak cukup karena ketakutan adalah motivator yang lemah jangka panjang."
Dia mengetuk dokumen di pangkuan Aira dengan jari telunjuk.
"Pernikahan adalah pilihan keempat. Setelah ini, kau adalah istriku — secara hukum, secara agama, di mata semua orang yang penting. Itu artinya kau di bawah perlindunganku. Tidak ada yang berani menyentuhmu. Tapi itu juga artinya kau tidak bisa bersaksi melawanku — istri tidak bisa diminta bersaksi memberatkan suami di pengadilan. Ini saling menguntungkan."
"Saling menguntungkan?" suara Aira meninggi. "Anda menculik saya!"
"Aku menyelamatkanmu," Razka mengoreksi tanpa emosi. "Ada tiga keluarga lain yang sudah tahu kau menyaksikan apa yang terjadi malam itu. Mereka tidak akan se-sopan aku. Salah satu dari mereka sudah mengirim orang ke rumah ibumu kemarin pagi. Untungnya, orangku lebih dulu sampai."
Wajah Aira memucat. "I — ibu saya?"
"Ibumu aman. Adikmu juga. Aku sudah memindahkan mereka ke rumah aman semalam, atas namaku. Mereka diberi tahu bahwa kau mendapat beasiswa mendadak ke luar negeri — itu cerita yang akan mereka percaya untuk sementara. Kalau kau menolak proposal ini..." Dia menarik napas tipis. "Aku tidak bisa menjamin apa-apa lagi tentang mereka. Bukan karena aku akan menyakiti mereka — aku tidak menyakiti orang yang tidak berdosa. Tapi karena aku akan menarik perlindunganku, dan keluarga lain itu masih ada."
Aira menggenggam dokumen di pangkuannya sampai kertasnya kusut. Dia ingin berteriak. Ingin memukul wajah pria itu. Ingin lompat dari mobil yang berlari di kecepatan delapan puluh kilometer per jam.
Tapi dia melihat foto di lembar kedua dokumen — foto rumahnya di Pekalongan, dengan ibunya yang sedang menyiram tanaman di teras. Foto itu diambil hari ini. Dengan zoom tele.
Air mata Aira jatuh menetes ke kertas.
"Kenapa saya?" bisiknya. "Kenapa harus seperti ini? Saya bukan siapa-siapa."
"Justru karena kau bukan siapa-siapa." Razka menatapnya untuk pertama kalinya dengan sesuatu yang hampir mirip kelembutan — atau mungkin Aira hanya berhalusinasi. "Tidak ada keluarga politik yang akan terganggu. Tidak ada perusahaan saingan yang akan curiga. Tidak ada yang akan menggunakan pernikahan ini sebagai senjata. Kau sempurna."
"Sempurna untuk dipakai."
"Sempurna untuk dilindungi," dia mengoreksi.
Aira tidak menjawab lagi. Dia hanya menatap keluar jendela, ke jalanan Jakarta yang basah, dan merasa hidupnya — hidup yang dia rencanakan, hidup yang dia mimpikan — runtuh diam-diam.
Setelah keheningan panjang, Razka berbicara lagi, lebih pelan.
"Aku tahu ini tidak adil. Aku tidak akan berpura-pura. Tapi aku berjanji satu hal: aku tidak akan menyentuhmu. Tidak sampai kau memintanya. Pernikahan ini di atas kertas, kalau itu yang kau mau. Kau dapat kamar sendiri, hidup sendiri, kebebasan dalam batas keamanan. Tapi di luar rumah, kita pasangan. Jelas?"
Aira menutup matanya. Air mata mengalir di pipinya tanpa henti.
"Saya bisa menemui ibu saya?"
"Kapan saja. Dengan pengawalan."
"Saya bisa lulus kuliah?"
"Aku bahkan akan membayar biaya semester yang masih tersisa."
"Saya bisa... pergi suatu hari?"
Razka diam lama sebelum menjawab.
"Suatu hari," akhirnya dia berkata, "kalau bahaya sudah lewat, kalau aku sudah tahu kau akan aman tanpa namaku — ya. Kau bebas pergi."
Aira tahu pria itu berbohong. Atau setidaknya, tidak mengatakan seluruh kebenaran.
Tapi dia membuka matanya, mengusap pipi dengan punggung tangan, dan menandatangani dokumen di halaman terakhir dengan tangan yang gemetar.
"Saya tanda tangan," katanya. "Tapi saya tidak pernah memilih ini. Dan saya tidak akan pernah mencintai Anda."
Razka mengambil dokumen itu, menatap tanda tangannya, lalu memasukkannya kembali ke map.
"Aku tidak meminta cintamu, Aira," katanya tenang. "Aku hanya meminta kau hidup."
Dan mobil itu terus melaju, membawa Aira ke kehidupan baru yang tidak pernah dia inginkan.
(bersambung...)