Tahun ke-tiga sejak penemuan Asti.
Razka berusia empat puluh empat tahun. Sudah bukan "Bos Mafia" lagi. Sudah lima tahun dia memutus semua koneksi gelap, menyerahkan jaringan lama pada otoritas, mengubah semua bisnis keluarganya jadi legal — properti, restoran, sekolah, rumah sakit.
Tapi satu bisnis yang paling membuatnya bangga adalah Kafe Aksara.
Mimpi Aira sejak masih mahasiswa. Mimpi yang dia simpan diam-diam selama tahun-tahun pertama pernikahan, ketika hidup terlalu liar untuk mimpi semacam itu.
Kafe Aksara dibuka di Bandung dua tahun lalu. Toko pertama. Lalu cabang Jakarta. Lalu Bogor. Lalu Pekalongan.
Sekarang lima cabang. Aira pemilik dan kepala kreatif. Lina pemilik bersama dan kepala operasi. Razka pengelola keuangan, di balik layar.
Slogan kafe, dicat di setiap dinding: "Setiap aksara, sebuah dunia."
Cabang Pekalongan baru dibuka bulan lalu. Aira, Razka, Lina, dan tiga anak perempuan datang ke peresmian.
Asha sekarang sepuluh tahun, suka menulis cerita pendek dan menjualnya ke teman-temannya seharga seribu rupiah per copy. Asti sepuluh setengah tahun, suka membantu di kafe — mengantar pesanan ke meja dengan serius. Naya delapan tahun, suka menggambar di tisu meja dan menghadiahkannya pada pelanggan.
Peresmian sederhana. Hanya pita biru yang dipotong oleh ketiga anak perempuan bersama-sama. Lalu kue dibagi pada semua tetangga.
Sore itu, setelah semua tamu pulang, keluarga Pratama-Saraswati duduk di teras kafe. Matahari terbenam di balik genteng kota tua Pekalongan. Lampu jalan mulai menyala.
"Aira," kata Razka pelan, "kau ingat?"
"Apa?"
"Mahasiswi takut yang ku lihat di gang lima belas tahun lalu."
Aira tersenyum. "Bagaimana saya bisa lupa?"
"Sudah lima belas tahun, Aira."
"Sudah lima belas tahun, Razka."
Lina, di kursi sebelah, mendengarkan. "Kalian dulu bagaimana ketemu? Saya cuma tahu sedikit-sedikit."
Aira tertawa. "Cerita yang panjang."
"Cerita yang aneh," tambah Razka. "Cerita yang seharusnya berakhir buruk."
"Tapi berakhir indah," kata Lina.
"Berakhir... seperti ini," kata Aira, melihat tiga anak perempuannya yang sedang mencoba membangun istana dari sendok dan garpu di meja sebelah.
Lina tersenyum. "Aku sering bertanya pada diriku, dua tahun ini — apakah Selena akan mengerti kalau dia melihat kalian sekarang? Kalau dia melihat apa yang dia coba hancurkan, malah jadi sesuatu yang lebih besar dan lebih indah?"
"Mungkin tidak," kata Razka. "Selena tidak pernah mengerti cinta."
"Mungkin itu yang membuatnya jadi Selena," kata Aira pelan.
Mereka diam sebentar. Naya berlari ke meja mereka dengan tisu yang dia gambar.
"Mama Aira! Tante Lina! Papa! Ini gambar kita!"
Naya menunjukkan tisu. Gambar krayon — tiga wanita (Aira, Lina, ada juga Bu Marta), satu pria (Razka), dan empat anak (Asha, Asti, Naya, dan... siapa anak keempat?).
"Naya, ini anak keempat siapa?"
"Anak kita yang nanti, Mama!"
Razka tertawa. Aira pura-pura panik. "Naya! Mama tidak mau punya anak lagi, capek!"
"Tapi Mama bilang Mama sayang anak-anak."
"Sayang, tapi tiga sudah cukup."
"Pak Yudha tadi bilang Mama Lina mungkin punya bayi suatu hari."
Lina merah. "Naya!"
"Apa? Pak Yudha yang bilang tadi pagi waktu sarapan."
Aira menatap Lina dengan senyum kecil. "Lina, apa ada yang harus kau ceritakan?"
Lina tertawa malu. "Tidak ada apa-apa. Cuma... ada yang mengirimi saya bunga."
"Siapa?"
"Pak dokter di puskesmas tempat saya dulu kerja. Dia tahu saya pindah ke Jakarta, dia... yah, dia datang menjenguk beberapa kali."
"Lina!" Aira terkejut. "Kenapa tidak cerita?"
"Karena... karena saya tidak siap. Saya merasa dosa karena saya pernah... yah, saya tidak layak."
Aira memegang tangan Lina. "Lina. Kau layak. Sangat layak. Kau menyelamatkan Asti. Kau jadi keluarga kami. Kau berhak punya cinta sendiri."
"Aira..."
"Bawa dia ke Jakarta. Kami mau bertemu."
"Iya, Mbak."
Asha dan Asti berlari ke meja. "Mama Aira! Mama Lina! Asti bilang Asha gak boleh ikut nonton bola besok!"
"Aku bilang gitu karena Asha kalau nonton bola tidur!"
"Aku gak tidur! Aku merem-merem aja."
"Itu tidur!"
Aira tertawa. Mereka semua tertawa. Naya bergabung dengan dua kakaknya, mengaku-ngaku ingin nonton bola juga padahal dia tidak tahu apa-apa tentang sepak bola.
Razka memegang tangan Aira di bawah meja.
"Setiap aksara, sebuah dunia," bisiknya.
"Iya," kata Aira. "Setiap aksara."
Mereka duduk di teras Kafe Aksara Pekalongan sampai bintang-bintang muncul, dan anak-anak akhirnya kelelahan, dan Lina ditelepon oleh "Pak Dokter" yang ditanya dengan godaan oleh Aira sampai Lina merah lagi.
Hidup berlanjut. Hidup yang bukan hanya bahagia, tapi penuh.
Penuh cinta. Penuh keluarga. Penuh aksara — kata-kata, cerita, dunia kecil.
Penuh.