Dua tahun berlalu setelah pertemuan pertama dengan Asti.
Asha sekarang sembilan tahun. Asti sembilan setengah (dia lebih tua tiga hari, fakta yang dia banggakan). Naya tujuh tahun. Mereka tinggal antara Pondok Indah dan Pekalongan — Asti dan Lina menghabiskan setengah waktu di Jakarta sekarang, dengan apartemen yang Razka siapkan dekat sekolah.
Lina sudah jadi bagian dari keluarga. Bukan saingan, bukan musuh — saudara. Aira dan Lina saling mengirim pesan setiap hari tentang anak-anak. Razka memperlakukan Lina seperti adik. Asha memanggil Lina "Tante Lina"; Asti memanggil Aira "Mama Aira". Tidak ada konflik. Hanya cinta yang aneh, kompleks, tapi tulus.
Dan Selena masih buronan.
Sampai hari Selasa di bulan Oktober, tahun ke-dua sejak penemuan Asti.
Pak Yudha datang ke ruang baca pagi-pagi. Tidak biasanya. Razka tahu sebelum Pak Yudha berbicara.
"Selena?"
"Ditangkap, Tuan. Di Manila kemarin malam. Tim Interpol bekerja sama dengan otoritas Filipina."
Razka menutup matanya. Dua tahun pemburuan akhirnya selesai.
"Bawa pulang. Sidang di Indonesia."
"Sudah, Tuan. Pesawat berangkat hari ini. Sampai Jakarta besok pagi."
Aira mendengar berita itu di dapur, sambil membuat sarapan. Tangannya berhenti memotong tomat. Pisau di tangan, ditatap lama.
"Razka."
"Iya."
"Saya... saya ingin bicara dengannya."
"Aira, kau tidak perlu—"
"Saya perlu, Razka. Setelah dua tahun. Setelah semua yang dia coba lakukan pada anak-anak kita. Saya perlu melihat matanya. Sekali. Lalu saya akan biarkan dia menghilang dari hidup saya selamanya."
Razka memandangnya. Lalu mengangguk.
"Baik. Tapi saya ikut."
Dua hari kemudian, di rumah aman di pinggir Jakarta, Selena dibawa ke ruang tertutup. Tangan diborgol di belakang. Wajah lebih tua dari yang Razka ingat — sepuluh tahun memang berlalu sejak terakhir Razka melihatnya di sidang. Rambut sudah ada uban. Mata masih tajam, masih dingin.
Selena tersenyum ketika Razka dan Aira masuk.
"Sepasang sejoli yang bahagia," katanya. "Akhirnya datang menjengukku."
"Selena," kata Razka tenang. "Diam."
"Kau membawa istrimu yang asli? Atau istri yang dipalsukan? Aku pernah bingung — yang mana yang Aira asli, yang dulu mahasiswi yang ku culik ke Bogor, atau yang sekarang?"
Aira maju selangkah. Razka memegang tangannya, menahan.
"Aira-chan." Selena tersenyum manis-pahit. "Aku dengar kau menemukan Asti. Dan Asha tetap di rumahmu. Dua anak perempuan. Pintar. Cantik. Beruntung sekali kau."
"Aku tidak datang untuk debat denganmu, Selena."
"Lalu kenapa kau datang?"
Aira menatap mata wanita yang pernah menculiknya, yang menukar bayinya, yang mencoba menghancurkan keluarganya — dan menemukan, dengan keterkejutan tenang, bahwa dia tidak benci. Tidak lagi. Hanya kosong.
"Aku datang untuk satu hal saja," kata Aira pelan. "Untuk bilang: aku tidak benci kau."
Selena terdiam. Pertama kalinya senyumnya hilang.
"Apa?"
"Aku tidak benci kau, Selena. Aku pernah, dulu. Aku ingin kau mati, dulu. Tapi setelah dua tahun ini — setelah aku menemukan Asti, setelah aku punya dua anak perempuan yang baik, setelah aku punya Lina sebagai keluarga — aku tidak punya ruang lagi untuk benci kau. Hidupku terlalu penuh dengan cinta."
"Aira—"
"Kau berusaha menghancurkan keluargaku dengan menelepon dua tahun lalu. Kau berharap aku dan Razka akan saling salahkan, atau aku akan menolak Asha karena tidak biologis. Tapi kau salah. Karena kau tidak mengerti — cinta tidak begitu. Cinta tidak berhenti karena DNA tidak cocok."
Selena menatap Aira. Wajahnya tegang.
"Aku punya dua anak perempuan sekarang, Selena," lanjut Aira. "Asha yang dibesarkan dengan cintaku selama sembilan tahun. Asti yang lahir dari rahimku dan dipertemukan dua tahun lalu. Dan aku punya Lina — wanita yang membesarkan Asti selama tujuh tahun, yang menyelamatkannya dari kau, yang sekarang saudara perempuanku."
"Lina yang berkhianat padaku."
"Lina yang melakukan hal yang benar."
"Romantis sekali."
"Bukan romantis. Hanya kenyataan. Dan satu hal lagi — kau di penjara selamanya kali ini, Selena. Pasal penculikan anak, pemalsuan dokumen, percobaan pembunuhan, organisasi kriminal. Pengacara terbaik di Asia Tenggara tidak akan menyelamatkanmu. Kau akan tua di Sukamiskin. Atau di penjara mana pun yang Razka pilih untukmu."
Selena tersenyum dingin. "Razka selalu suka memilih hukuman."
"Iya," kata Razka. "Dan kali ini, hukumanmu adalah hidup. Hidup yang panjang. Di sel yang sempit. Sampai kau tua. Sampai kau mengerti."
"Mengerti apa?"
"Mengerti bahwa orang yang kau coba hancurkan akhirnya hidup lebih bahagia tanpa kau."
Selena menatap mereka. Lama.
Lalu — untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun yang Razka kenal dia — Selena terlihat lelah. Bukan sombong. Bukan dingin. Hanya lelah.
"Bawa aku pergi," katanya pada penjaga.
Aira tidak berkata apa-apa lagi. Razka menggenggam tangannya. Mereka keluar dari ruangan itu, dan tidak pernah melihat Selena lagi seumur hidup.
Sidang berlangsung empat bulan. Selena dijatuhi hukuman seumur hidup, tidak bisa diajukan banding. Dia akan tua di penjara Lapas Pondok Bambu, Jakarta.
Razka dan Aira tidak datang ke sidang putusan. Mereka sedang di Pekalongan, makan malam bersama Lina, Asti, Asha, dan Naya, di kebun yang Lina rawat sendiri — pohon mangga yang sama, yang dulu Asti panjat pertama kali bersama Asha.
Ketika berita putusan datang lewat telepon, Razka membaca pesan, lalu mengantongi ponsel.
"Bagaimana?" tanya Aira pelan.
"Seumur hidup."
Aira mengangguk. Lalu meneruskan menyendok nasi untuk Naya.
Selena selesai. Untuk mereka, dia sudah selesai sejak lama.