Satu tahun berlalu.
Tahun yang panjang. Tahun yang penuh perjalanan bolak-balik Jakarta-Pekalongan. Tahun yang penuh pertemuan pelan antara dua keluarga, dua ibu, dua anak perempuan.
Asha pertama kali bertemu Asti pada bulan ke-empat. Razka membawa Asha (saja, tanpa Naya yang masih terlalu kecil) ke Pekalongan untuk akhir pekan. Asha diperkenalkan pada "Asti, adik sepupu dari Pekalongan, anak dari teman Mama."
Dua anak perempuan tujuh setengah tahun itu menatap satu sama lain dengan ingin tahu yang dalam.
"Aku Asha."
"Aku Asti."
"Nama kita mirip."
"Iya."
"Kakak suka boneka?"
"Asti suka pohon."
"Pohon?"
"Iya. Pohon mangga di belakang rumah Asti. Asti suka panjat."
Asha terbelalak. "Kamu bisa panjat pohon?"
"Bisa! Mau ku ajarin?"
Dua jam kemudian, dua anak perempuan duduk di cabang pohon mangga di kebun Lina, tertawa, makan mangga muda dengan garam. Aira menonton dari teras, menangis pelan, dan tertawa di saat yang sama.
"Razka," bisiknya, "mereka cocok."
"Iya."
"Mereka... mirip dalam beberapa hal. Padahal dibesarkan beda."
"Itu karena... mungkin sebagian besar diri seseorang ya begitu. Dasar. Bukan didikan."
Asha pulang ke Pondok Indah memuja "Adik Sepupu Asti". Setiap hari menanyakan kapan Asti datang. Aira berjanji: "Liburan sekolah depan, Asti dan Tante Lina akan ke Jakarta."
Bulan ke-enam, Lina mulai menyebut Aira "Mama Aira" di hadapan Asti — dalam konteks yang santai, alami. "Mama Aira yang masak ayam goreng ini, Sayang. Enak ya?"
Bulan ke-delapan, Asti sendiri yang bertanya. Di kamar, malam, sebelum tidur.
"Mama, kenapa Mama Aira selalu menatap Asti kayak Mama menatap Asti?"
Lina menarik napas. Sudah waktunya.
"Asti, Mama mau cerita yang Mama janjikan dulu. Tentang ibu yang menjaga anak orang lain. Asti mau dengar?"
"Iya."
Lina bercerita. Pelan. Tanpa drama. Tanpa kebencian pada Selena. Hanya... apa yang terjadi. Bayi yang ditukar. Lina yang menyelamatkan. Tujuh tahun bersembunyi. Aira yang akhirnya menemukan.
Asti mendengarkan tanpa bersuara. Mata terbelalak.
"Jadi... Asti bukan anak Mama beneran?"
"Asti anak Mama. Selalu. Selama tujuh tahun ini. Selamanya. Tapi Asti juga anak Mama Aira — yang melahirkan Asti dari rahimnya. Asti punya dua Mama, Sayang. Itu bukan hal yang buruk. Itu... hadiah, dengan caranya sendiri."
Asti diam lama. Lalu bertanya: "Asti harus tinggal dengan Mama Aira sekarang?"
"Tidak, Sayang. Asti boleh pilih. Asti boleh tetap di sini dengan Mama. Atau Asti boleh tinggal di Jakarta dengan Mama Aira dan Papa Razka. Atau Asti boleh bagi waktu — kadang sini, kadang sana. Tidak ada yang akan paksa Asti."
Asti berpikir. Tujuh setengah tahun. Wajah serius.
"Mama," akhirnya dia berkata, "Asti tidak mau pisah dari Mama."
"Mama juga tidak mau pisah dari Asti."
"Tapi Asti... Asti juga mau lebih kenal Mama Aira. Dan Asha. Asha jadi kakak Asti, kan?"
"Iya, Sayang. Asha kakak Asti."
"Asti boleh tinggal di Jakarta kadang-kadang? Sebulan sekali?"
"Boleh, Sayang. Atau dua kali sebulan. Atau seberapa Asti mau."
"Tapi Mama Aira tidak akan marah kalau Asti tetap panggil Mama-Mama?"
Lina memeluk Asti erat. "Tidak, Sayang. Tidak. Mama Aira sangat-sangat tidak akan marah. Justru Mama Aira akan senang kalau Asti memanggil dia juga 'Mama' suatu hari — kalau Asti mau. Tapi tidak ada paksaan."
"Asti masih takut."
"Tidak apa-apa, Sayang. Pelan-pelan."
Beberapa hari kemudian, ketika Aira datang ke Pekalongan, Asti — di pelukan Mama-nya — menatap Aira dengan tatapan baru. Lebih lama. Lebih dalam.
"Tante Aira," katanya pelan.
"Iya, Sayang?"
"Asti... Asti tahu sekarang."
Aira menahan napas. Lina di sebelahnya, mengangguk pelan.
"Asti tahu apa?" tanya Aira hati-hati.
"Asti tahu Tante Aira ibu Asti juga."
Aira tidak bisa menahan air mata. Dia berlutut di hadapan Asti, membuat dirinya sama tinggi dengan anak perempuan tujuh setengah tahun itu.
"Asti, Tante — atau Mama Aira, kalau Asti mau — tidak ingin paksa apa-apa. Asti boleh panggil Tante terus. Tidak apa-apa."
"Tapi..." Asti melihat Lina. Lina mengangguk lembut. Asti menatap Aira lagi. "Tapi Asti pengen coba panggil... Mama Aira."
"Boleh, Sayang. Sangat boleh."
Asti maju. Memeluk Aira. Pertama kalinya.
Pelukan kecil. Hati-hati. Tapi nyata.
"Mama Aira."
"Iya, Sayang. Iya."
Aira menangis. Lina menangis. Razka, yang berdiri di pintu, juga menangis.
Tujuh tahun terlewat, tapi seumur hidup masih ada.
Sepuluh bulan sejak penemuan, Asti pertama kali tidur di Pondok Indah. Satu malam saja. Di kamar yang Aira dan Razka siapkan — dengan tirai pink, dengan lampu bintang di langit-langit, dengan boneka beruang yang sama dengan yang Aira berikan setahun lalu.
Asha tidur di kasur sebelah, di kamar yang sama. Karena dua adik kakak ingin "pesta tidur".
Aira berdiri di pintu, melihat dua anak perempuannya tidur — satu yang dia besarkan tujuh tahun, satu yang dia lahirkan tujuh tahun lalu — dan menyadari, dengan rasa damai yang sangat dalam, bahwa cinta tidak punya batas. Tidak punya hierarki. Tidak punya satu-bisa-satu-tidak.
Cinta untuk Asha tidak berkurang ketika Asti datang. Cinta untuk Asti tidak diukur dengan apakah dia "biologis" atau tidak.
Mereka berdua anaknya. Sederhana.
Razka memeluk istrinya dari belakang. "Aira."
"Hm?"
"Kita beruntung."
"Iya. Kita sangat beruntung."
Mereka berdiri di sana, melihat anak-anak mereka tidur, lama. Sampai matahari mulai terbenam di balik genteng Pondok Indah.