Mereka tidak langsung membawa Asti ke Pondok Indah. Razka dan Aira menginap di hotel di Pekalongan selama dua minggu, mengunjungi Lina dan Asti setiap hari.
Hari pertama, Asti diperkenalkan pada Aira sebagai "tante Aira dari Jakarta, teman lama Mama." Asti pemalu, tapi sopan. Memanggil Aira "Tante", duduk di sofa di samping Mama-nya.
Hari kedua, Aira membawa boneka untuk Asti. Boneka beruang cokelat. Asti tersenyum kecil, menerima.
Hari ketiga, Aira mengajak Asti ke pasar. Lina ikut, di samping. Asti memegang tangan Mama-nya, tapi sesekali menatap Aira dengan ingin tahu.
Hari ketujuh, Asti mulai memanggil Aira "Tante Aira", bukan hanya "Tante".
Hari kesepuluh, ketika Aira datang dan Asti membuka pintu sendiri, dia berkata: "Tante Aira udah datang! Mama, Tante Aira udah datang!"
Aira menangis di mobil malam itu. "Razka, saya rindu sekali memeluknya. Tapi saya tidak boleh."
"Belum, Aira. Belum waktunya."
"Saya tahu. Saya tahu. Tapi tujuh tahun, Razka. Tujuh tahun rasanya saya hampir tidak tahan."
"Asha juga tujuh tahun bersama kita. Bayangkan bagaimana hatinya kalau kita tiba-tiba membawa Asti pulang dan bilang 'ini adik baru.'"
"Iya. Iya, saya tahu."
Mereka memutuskan: pelan-pelan. Sangat pelan. Asti tetap tinggal dengan Lina di Pekalongan untuk satu tahun lagi. Selama satu tahun itu, Aira dan Razka akan bolak-balik Pekalongan, membangun ikatan dengan Asti sebagai "Tante dan Om". Pelan-pelan, Lina akan mengenalkan Aira sebagai "Mama biologis". Pelan-pelan, Asti akan diajak ke Pondok Indah untuk berkenalan dengan Asha dan Naya — awalnya sebagai "saudara sepupu dari Pekalongan".
Setelah satu tahun, kalau Asti siap, mereka akan menjelaskan semua kebenaran. Asti boleh memilih: tinggal dengan Lina, tinggal dengan Aira-Razka, atau dua-duanya bergiliran. Tidak ada paksaan.
Sementara itu, Lina dipindahkan ke Pondok Indah dalam pengawasan — bukan tahanan, bukan musuh, tapi orang yang harus dilindungi dari Selena. Lina menyerahkan diri ke polisi atas penculikan bayi delapan tahun lalu, tapi Razka mengatur agar dia tidak ditahan — dengan kesaksian Lina, Selena ditambahkan ke daftar buronan internasional.
Asti dan Lina tetap tinggal di Pekalongan, tapi rumah mereka dipindah ke rumah yang lebih aman, dengan pengawalan diskret. Asti tidak tahu — dia hanya tahu Mama-nya berteman dengan "Tante Aira dan Om Razka" dari Jakarta yang sering datang.
Sementara itu, di Pondok Indah, Aira dan Razka memutuskan untuk menjelaskan pada Asha juga. Tidak detail. Tapi pelan-pelan.
Mereka duduk di kebun belakang. Asha dan Naya. Razka dan Aira.
"Asha," kata Aira pelan, "Mama mau cerita."
"Cerita apa, Mama?"
"Cerita tentang... bagaimana anak bisa lahir di dalam keluarga."
Asha mengangguk, mendengarkan.
"Asha, di dunia ini ada banyak cara seseorang jadi anak dari ibu dan ayah. Ada yang lahir dari rahim ibunya sendiri. Ada yang lahir dari rahim ibu lain, tapi dibesarkan oleh ibu dan ayah lain — itu yang namanya adopsi."
"Adopsi?"
"Iya, Sayang. Dan Asha — Asha tahu, Asha sayang Mama dan Papa kan?"
"Sayang sekali."
"Mama dan Papa juga sayang Asha. Sayang setiap detik dari tujuh tahun yang Asha hidup. Dan Mama mau cerita... Asha ya, anak Mama dan Papa. Selalu. Tidak peduli apa pun yang Asha dengar nanti dari orang lain — Asha tetap anak Mama dan Papa."
"Kenapa Mama bilang gitu?"
Aira menelan. "Karena... karena suatu hari, mungkin ada orang yang akan bilang Asha lahir bukan dari rahim Mama. Itu... mungkin benar, Sayang. Mungkin Asha lahir dari rahim ibu lain. Tapi Mama dan Papa yang membesarkan Asha — itu yang penting. Itu yang membuat Mama 'Mama' Asha. Itu yang membuat Asha 'anak Mama'."
Asha berpikir. Tujuh tahun, tapi pintar.
"Mama," akhirnya dia berkata, "Mama menangis."
"Iya, Sayang. Mama menangis karena... karena Mama takut Asha akan sedih. Atau marah pada Mama."
Asha berdiri dari rumput. Berjalan pelan ke Aira. Duduk di pangkuannya. Memeluk lehernya.
"Mama," bisiknya, "kalau Mama yang masak telur dadar Asha, Mama yang pijit kepala Asha kalau pusing, Mama yang bilang 'Mama sayang Asha' tiap malam — siapa pun rahimnya, Mama tetap Mama Asha."
Aira menangis sampai Asha juga menangis. Mereka berpelukan lama di rumput. Razka memegang Naya yang masih kecil dan belum mengerti banyak, dan mereka semua menangis bersama.
Tujuh tahun. Tujuh tahun yang nyata. Itu yang membuat keluarga.
Di Pekalongan, malam yang sama, Lina duduk di tepi tempat tidur Asti.
"Mama," kata Asti, "kenapa Mama menangis terus akhir-akhir ini?"
"Mama cuma rindu sesuatu, Sayang."
"Rindu apa?"
"Rindu... rindu sebuah cerita yang Mama belum bisa ceritakan ke Asti. Tapi suatu hari Mama akan cerita. Janji."
"Cerita apa?"
"Cerita tentang... seorang ibu yang menjaga anak orang lain selama tujuh tahun. Karena dia tahu anak itu harus selamat. Dan suatu hari, dia mengembalikan anak itu pada ibu kandungnya. Karena itu yang benar."
Asti mengernyit. "Mama, Asti tidak ngerti."
"Asti tidak perlu ngerti sekarang, Sayang. Nanti — pelan-pelan. Sekarang Asti tidur saja."
Lina mencium kening Asti. Mengusap rambutnya. Mematikan lampu.
Di luar kamar, dia bersandar di dinding, dan menangis pelan. Karena dia tahu — dengan tahun-tahun yang akan datang, dengan transisi yang pelan, dengan kebaikan Aira dan Razka — bahwa dia akan kehilangan Asti. Tidak hilang sepenuhnya. Tapi tidak akan jadi "Mama satu-satunya" lagi.
Itu yang adil. Itu yang benar. Tapi itu juga yang membuat dadanya sakit.
Karena Lina juga, selama tujuh tahun, sudah jadi Mama. Dan tidak ada yang bisa mencabut tujuh tahun itu dari hatinya.
Bahkan kebenaran.