Razka dan Aira tiba di Pekalongan jam sembilan malam. Mereka tidak masuk ke rumah Lina langsung — Razka memerintahkan tim mengawasi dulu, ingin tahu apakah Selena atau anak buah lain ada di sekitar.
Tidak ada. Lina sendiri. Hanya Lina dan anak perempuannya.
Pagi berikutnya, jam tujuh, Razka mengetuk pintu rumah Lina sendiri. Aira di belakangnya, dengan dua orang penjaga di mobil seberang jalan.
Pintu dibuka oleh wanita berumur sekitar tiga puluh tiga tahun. Wajahnya cocok dengan sketsa. Rambut sekarang panjang, sederhana. Mata cokelat. Wajah lelah.
Lina melihat Razka. Wajahnya pucat seketika.
"Anda..."
"Razka Adhitama," kata Razka tenang. "Boleh saya masuk?"
Lina berdiri membeku. Lalu mengangguk pelan. Membuka pintu lebih lebar.
Di dalam, di ruang tamu kecil yang sederhana, Razka dan Aira duduk di sofa lusuh. Lina duduk di kursi di seberang, tangannya gemetar di pangkuan.
"Saya tidak melawan," kata Lina. "Saya tahu ini akan datang. Saya tahu sejak Selena bebas dari penjara. Saya... saya tunggu setiap hari."
"Mana anak Anda?" tanya Aira pelan.
"Asti masih tidur. Hari ini libur sekolah."
"Boleh saya melihatnya?"
Lina menelan ludah. Lalu mengangguk. Berdiri. "Ikut saya, Bu."
Aira mengikuti Lina ke kamar belakang. Razka tinggal di ruang tamu, memberi Aira ruang.
Di kamar tidur kecil, di kasur dengan seprai bunga-bunga lusuh, tidur seorang anak perempuan. Rambut hitam. Wajah... wajah yang membuat Aira jatuh ke lutut.
Wajah itu seperti melihat fotonya sendiri waktu kecil. Mata Razka. Hidung Aira. Bibir kecil Aira. Tahi lalat kecil di pipi kanan — sama persis dengan tahi lalat Razka.
Aira menutup mulut dengan tangan. Tidak bisa bernapas.
"Bu," bisik Lina di belakangnya. "Saya minta maaf."
Aira tidak bisa berbicara. Dia hanya menatap anak perempuan yang tidur itu. Anak perempuan yang seharusnya dia gendong selama tujuh tahun. Anak perempuan yang seharusnya tidur di kamar yang Razka cat sendiri di Pondok Indah. Anak perempuan yang...
"Saya akan jelaskan semua, Bu. Tapi tolong, jangan ribut di sini. Asti tidak tahu apa-apa."
Aira mengangguk gemetar. Mereka keluar dari kamar.
Di ruang tamu, Lina mulai bercerita. Suaranya pelan. Air mata mengalir terus.
"Saya bekerja untuk Selena waktu masih muda. Saya bidan, lulus dari sekolah perawat di Bandung. Selena membayar saya banyak. Saya pikir saya cuma membantu mengantarkan bayi di klinik gelap — bayi yang akan diadopsi. Saya tidak tahu... saya tidak tahu kalau Selena mau menukar bayi."
"Bagaimana mulanya?"
"Selena tahu Ibu hamil sejak awal. Dia punya mata-mata di Jakarta. Dia tahu hari Ibu akan melahirkan. Dia bayar saya untuk masuk ke rumah sakit malam itu, berpura-pura jadi perawat pengganti. Tugas saya: bayi Ibu dibawa keluar dari ruang observasi, diganti dengan bayi lain yang sudah Selena siapkan. Bayi yang asli — Ibu punya — saya bawa pulang."
"Bayi yang sudah Selena siapkan — dari mana?"
"Dari klinik gelap di Bandung. Bayi yang lahir dua hari sebelumnya. Ibunya... seorang gadis muda yang tidak ingin anaknya. Selena ambil bayinya. Selena bayar gadis itu juga. Bayi itu — Asha yang Ibu besarkan — adalah bayi sehat, tapi... tapi bukan bayi Ibu."
Aira menutup matanya. Ya Tuhan.
"Lalu — kenapa Ibu... kenapa Ibu menyimpan bayi saya? Selena pasti memerintah Ibu untuk membawanya ke tempat lain. Untuk membunuhnya, mungkin, atau menjualnya."
Lina menangis sekarang. Tidak bisa menahan diri.
"Bu," bisiknya, "saya tidak bisa. Saya membawa bayi Ibu keluar dari rumah sakit, dan di mobil, dia menangis. Tangisnya... saya tidak bisa. Saya seorang bidan. Saya menyentuh ratusan bayi seumur hidup saya, tapi bayi ini — bayi Ibu — saya tidak bisa membawanya ke Selena. Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan Selena lakukan padanya. Jadi saya... saya kabur."
"Kabur?"
"Saya berpura-pura pada Selena bahwa saya akan membawa bayi ke tempat yang dia tunjuk. Tapi malam itu juga, saya naik bus ke Pekalongan. Kota kecil, jauh dari Jakarta dan Bandung. Saya ganti nama. Saya bilang ke tetangga bahwa Asti anak biologis saya, lahir di rumah dengan bantuan dukun. Tidak ada akta lahir resmi. Saya hidup sembunyi-sembunyi selama tujuh tahun."
"Selena tidak mengejar Ibu?"
"Dia mencari. Tapi tidak menemukan. Karena saya benar-benar menghilang — saya potong rambut, ganti penampilan, tidak punya media sosial. Selena pikir saya mati, atau lari ke luar negeri. Dia tidak pernah mengira saya tetap di Jawa, tinggal di kota kecil, membesarkan bayi Ibu sebagai anak sendiri."
Aira menatap Lina. Wanita yang menculik anaknya. Wanita yang juga, di saat yang sama, menyelamatkan anaknya.
"Bu Aira," kata Lina, "saya tahu saya bersalah. Saya tahu saya menyebabkan Ibu kehilangan tujuh tahun bersama Asti. Saya tahu saya pantas dihukum. Tapi... tapi tolong, izinkan saya pamit pada Asti dengan baik. Dia... dia tidak tahu saya bukan ibu kandungnya. Hatinya akan hancur kalau dia tahu mendadak."
Aira menggeleng. Air mata terus mengalir.
"Bu Lina," bisiknya, "Ibu tidak akan dihukum. Setidaknya... setidaknya bukan oleh saya. Karena Ibu... Ibu yang membesarkan anak saya. Ibu yang menjaganya hidup. Ibu yang melarikannya dari Selena."
"Bu..."
"Tapi tolong — Asti harus tahu kebenaran. Bukan sekarang, mungkin. Tapi pelan-pelan. Dan saya... saya ingin dia tahu saya. Saya ibu kandungnya. Saya tidak akan mengambilnya paksa dari Ibu — tapi saya ingin jadi bagian dari hidupnya."
Lina menangis terbata. "Iya, Bu. Iya. Apa pun yang Ibu mau."
Razka, yang telah mendengarkan dari sofa, akhirnya berbicara. "Bu Lina. Ada lagi yang harus kita pikirkan. Anak yang kami besarkan — Asha — juga anak. Dia bukan anak kandung kami, tapi dia anak kami selama tujuh tahun. Kami tidak akan mengembalikannya pada Selena, atau pada gadis muda di Bandung yang tidak menginginkannya. Asha tetap anak kami."
"Iya, Pak."
"Jadi kita punya dua anak perempuan tujuh tahun yang harus mengerti banyak hal pelan-pelan. Dan kita... kita harus jadi orang dewasa yang bijaksana untuk mereka berdua."
Lina mengangguk. Aira mengangguk. Tiga orang dewasa di ruang tamu kecil di kota kecil di Jawa Tengah, mengikat diri pada janji yang akan menentukan masa depan dua anak yang belum tahu apa-apa.
Dari kamar belakang, terdengar suara kecil. "Mama? Mama, Asti haus."
Lina berdiri. "Iya, Sayang. Mama bawakan air."
Aira menatap pintu kamar itu. Tujuh tahun. Tujuh tahun anaknya memanggil orang lain "Mama".
Tapi paling tidak, anaknya hidup. Anaknya dibesarkan dengan kasih sayang. Anaknya... ada.
Itu sudah cukup. Untuk sekarang.