"Saya akan ke Jakarta," kata Razka pagi-pagi sekali, sambil mengikat dasi. "Saya akan ke rumah sakit. Saya akan tanya setiap perawat yang masih bekerja di sana waktu itu."
"Razka." Aira berdiri di pintu kamar. "Saya ikut."
"Aira—"
"Kalau ada anak perempuan saya yang lain di luar sana, saya yang harus mencari. Saya yang melahirkannya. Saya yang berhak bertanya."
Razka memandangnya. Lalu mengangguk. "Baik. Tapi Asha dan Naya tinggal di sini dengan Bu Marta."
Mereka berangkat siang itu. Pesawat ke Jakarta. Hotel di dekat rumah sakit. Razka punya kontak di rumah sakit — direktur lama yang sudah pensiun, tapi masih kenal banyak orang.
Direktur itu menemui mereka di sebuah kafe di lantai bawah hotel.
"Pak Razka, Bu Aira," katanya, "saya sudah mendengar dari Bapak. Saya... saya ingin minta maaf. Kalau ini benar terjadi di rumah sakit kami, saya bertanggung jawab."
"Saya tidak butuh maaf, Dokter," kata Razka. "Saya butuh nama. Perawat shift malam tanggal lima belas April delapan tahun lalu, di ruang observasi neonatal."
"Ada... empat orang yang biasanya shift malam waktu itu. Tiga masih bekerja, satu sudah pindah ke Surabaya."
"Tiga yang masih kerja — tolong kita bicara dengan mereka satu per satu. Hari ini."
Hari itu, di ruang rapat rumah sakit, Razka dan Aira bertemu tiga perawat. Dua tidak ingat apa pun — terlalu banyak bayi, terlalu banyak shift. Yang ketiga, perawat bernama Bu Indah, berhenti di tengah kalimat ketika Razka menyebut nama Aira.
"Ibu... Aira Saraswati?" Bu Indah menatap Aira. "Yang melahirkan jam tiga pagi tanggal lima belas April... bayinya perempuan, berat tiga koma satu kilo, rambut hitam tebal?"
Aira mengangguk. Tenggorokannya kering.
"Ibu... saya ingat ibu," kata Bu Indah pelan. "Karena... karena malam itu ada hal yang aneh."
"Hal apa?"
"Setelah saya bawa bayi ibu ke ruang observasi, ada perawat lain yang datang. Saya tidak kenal — kata dia pengganti shift karena ada yang sakit. Dia bilang dia yang akan mengawasi bayi-bayi malam itu. Saya pikir aneh, karena biasanya saya tidak digantikan tanpa pemberitahuan. Tapi dia membawa surat tugas, dan saya sedang capek, jadi saya keluar dari ruang observasi untuk istirahat dua puluh menit."
"Dua puluh menit."
"Iya. Saya kembali tepat waktu, perawat itu memberikan bayi ibu — bayi yang sama, atau saya pikir bayi yang sama — dan dia pulang. Saya tidak pernah melihatnya lagi setelah itu. Saya bertanya ke kepala perawat keesokan harinya, dan tidak ada catatan pengganti shift malam itu. Saya melapor, tapi karena bayi-bayi semua sehat dan aman, kasus ditutup."
Razka menggenggam tangan Aira di bawah meja.
"Bu Indah, perawat itu — Ibu ingat wajahnya?"
"Sedikit. Wanita muda, sekitar dua puluh lima. Rambut pendek. Tinggi sedang. Saya tidak ingat lebih dari itu — sudah delapan tahun."
"Bisa Ibu deskripsikan ke sketsa polisi?"
"Bisa, Pak."
Hari itu juga, sketsa wajah dibuat. Wajah perawat misterius. Razka menatap sketsa itu lama. Lalu menunjukkan ke Pak Yudha lewat WhatsApp.
Pak Yudha menjawab dalam tiga menit: 'Tuan, wajah ini... ini Lina Mahendra. Anak buah Selena waktu masih di Bogor. Sudah lama hilang. Dipikir mati.'
Razka menutup ponsel. Menatap Aira.
"Lina Mahendra. Orang Selena."
Aira menggigit bibir bawahnya sampai berdarah.
"Berarti Selena... merencanakan ini delapan tahun lalu."
"Iya."
"Kenapa? Saya bahkan belum kau bawa ke Bogor waktu itu. Saya... saya cuma istri kau yang baru beberapa bulan."
"Selena selalu pintar memprediksi. Mungkin dia sudah tahu kau hamil, sudah tahu rumah sakit, sudah merencanakan sebelum dia sendiri yang akhirnya menculik kau lagi."
"Tapi kenapa?"
"Mungkin... untuk satu hari seperti hari ini. Untuk bisa menelepon saya dan menghancurkan keluarga kami dengan satu kalimat."
Aira menutup matanya. "Asha yang asli. Di mana?"
"Saya akan cari Lina Mahendra. Hari ini juga."
Razka mengaktifkan jaringan. Setiap mata-mata yang dia punya di Indonesia diperintahkan untuk mencari Lina Mahendra — wanita yang sudah dipikir mati selama bertahun-tahun.
Tiga hari kemudian — di Pekalongan, kota kecil di Jawa Tengah, kota tempat Aira besar — mereka menemukan Lina.
Lina hidup sederhana. Rumah kontrakan kecil. Bekerja sebagai bidan di puskesmas. Tidak menikah. Punya... satu anak perempuan.
Anak perempuan berumur tujuh tahun.
Bernama Asti.