Hari pertama setelah telepon Selena.
Pak Yudha datang ke ruang baca jam delapan pagi, sebelum anak-anak bangun. Dia membawa folder tebal — catatan harian dari hari kelahiran Asha sampai minggu pertama Asha di rumah.
"Tuan," katanya, "saya selalu mencatat semua. Kebiasaan lama dari ayah Anda."
Razka membuka folder. Foto-foto. Aira di rumah sakit, perut besar. Aira saat persalinan (dari luar ruang bersalin). Razka menggendong Asha pertama kali. Asha tiga hari, tujuh hari, dua minggu. Setiap hari ada foto, ada catatan jam tidur, jam menyusui, berat badan.
"Pak Yudha. Apakah ada momen — kapan pun — ketika Asha lepas dari pengawasan saya atau Aira?"
Pak Yudha berpikir keras. "Hanya... ya, hanya satu kali. Saat persalinan. Setelah Aira melahirkan, Asha dibawa ke ruang observasi neonatal untuk pemeriksaan awal, sekitar dua puluh menit. Aira masih dijahit, Tuan tidak diperbolehkan masuk. Saya menunggu di koridor, dan perawat membawa Asha keluar setelah dua puluh menit."
"Dua puluh menit."
"Iya, Tuan."
"Pak Yudha, perawat yang membawa Asha keluar — sama dengan yang membawanya masuk?"
Pak Yudha mengernyitkan dahi. Lama. Lalu wajahnya pucat.
"Tuan... saya tidak ingat. Saya... saya tidak memperhatikan wajah perawat itu. Saya hanya memperhatikan bayinya. Tuan, saya... maafkan saya."
"Tidak apa-apa, Pak Yudha. Anda tidak bisa memperhatikan semua."
"Tapi kalau Tuan curiga—"
"Saya akan cek rumah sakit. Pasti ada CCTV waktu itu."
Sayangnya, rumah sakit menyimpan rekaman CCTV maksimal lima tahun. Sudah delapan tahun. Tidak ada apa pun yang bisa dicek.
Razka menutup folder. Tangannya gemetar.
"Pak Yudha, satu hal lagi. Selena. Bagaimana dia bisa menelepon dari luar negeri?"
Pak Yudha menelan ludah. "Tuan, ini kabar yang lebih buruk. Saya baru tahu pagi ini. Selena dibebaskan tiga bulan lalu. Sidang banding berhasil — pengacara baru, hakim baru, putusan baru. Hukumannya dipotong jadi delapan tahun, dan dengan masa tahanan plus remisi, dia bebas Februari kemarin. Dia keluar negeri April."
"Tiga bulan." Razka mengepalkan tangan. "Dia bebas tiga bulan dan menungu sampai sekarang untuk menelepon?"
"Mungkin dia mengumpulkan informasi dulu. Mungkin dia menunggu momentum."
"Atau mungkin dia menunggu sampai anak kami cukup besar untuk mengerti, kalau dia memberitahu langsung."
Pak Yudha terdiam. Lalu mengangguk pelan.
"Iya, Tuan. Itu sangat mungkin."
Hari kedua.
Aira berusaha berperilaku normal. Memasak telur dadar Asha. Memandikan Naya. Membaca buku cerita sebelum tidur siang. Tapi setiap kali dia menatap Asha, matanya berkaca-kaca.
Asha, yang tajam, tahu ada sesuatu yang salah.
"Mama, kenapa?"
"Mama tidak apa-apa, Sayang."
"Mama nangis lagi."
"Mama hanya... sangat sayang sama Asha hari ini. Lebih dari biasanya."
Asha memeluk leher Mama-nya. "Asha juga sayang sama Mama. Lebih dari segala-galanya."
Aira menangis di rambut Asha. Tidak bisa berhenti.
Malam itu, Razka mendapat informasi lebih lanjut. Selena terlihat di Bangkok dua minggu lalu, lalu Tokyo seminggu lalu. Sekarang... tidak ada yang tahu. Dia bergerak cepat, pintar, dan mungkin punya tim baru yang membantu.
"Razka," kata Aira di tempat tidur, "kalau Selena yang menukar Asha — kalau benar — kenapa dia melakukannya?"
"Saya tidak tahu. Mungkin dia rencanakan dari sebelum dia diculik di Bogor. Mungkin dia menyuap perawat. Mungkin Asha — Asha asli — dia bawa entah ke mana."
"Asha asli?" Aira terisak. "Bagaimana saya bisa menyebut anak saya 'Asha asli' atau 'Asha bukan asli'? Asha cuma Asha."
"Saya tahu, sayang. Saya tahu."
Hari ketiga.
Email datang dari Singapura jam sebelas malam. Razka dan Aira duduk berdua di ruang baca. Pak Yudha menunggu di luar, jaga-jaga kalau Aira pingsan.
Razka membuka email dengan tangan gemetar.
Hasil tes DNA:
- Sampel A (laki-laki dewasa) vs Sampel C (anak perempuan): hubungan ayah-anak — TIDAK COCOK
- Sampel B (perempuan dewasa) vs Sampel C (anak perempuan): hubungan ibu-anak — TIDAK COCOK
Aira menutup mulut dengan tangan. Tidak bersuara.
Razka membaca tiga kali. Empat kali. Lima kali. Berharap huruf-huruf itu berubah.
Mereka tidak berubah.
Asha — Asha mereka — bukan anak kandung mereka.
Aira tidak menangis. Bukan langsung. Dia hanya menatap layar laptop, lalu menatap suaminya, lalu menatap ke arah tangga — ke arah kamar tempat Asha sedang tidur memeluk boneka pandanya.
"Razka," bisiknya akhirnya.
"Iya."
"Asha asli — di mana?"
Razka menutup matanya. Air mata pertama jatuh.
"Saya tidak tahu, Aira. Tapi saya bersumpah — kita akan cari."
Aira mengangguk pelan. Lalu, perlahan, akhirnya, dia menangis. Tidak histeris. Tidak meraung. Hanya air mata yang mengalir tenang, seperti hujan yang tidak akan berhenti.
Karena dia tidak hanya kehilangan anak yang dia lahirkan. Dia juga tidak benar-benar kehilangan anak yang dia besarkan. Dia hanya tahu sekarang — dengan kepastian biologis yang dingin — bahwa hidup mereka jauh lebih rumit daripada yang pernah mereka bayangkan.
Dan di suatu tempat di dunia, ada seorang anak perempuan tujuh tahun lainnya — yang seharusnya jadi Asha mereka — yang tidak tahu siapa orang tua sebenarnya.