Razka tidak tidur malam itu. Dia duduk di kursi di sudut kamar Asha — anak perempuan tujuh tahun yang tidur memeluk bonekanya, rambut berantakan di bantal — dan menatap wajahnya sampai matahari terbit di balik tirai.
Asha. Anak yang lahir di rumah sakit di Jakarta delapan tahun lalu. Anak yang Aira lahirkan setelah dua belas jam persalinan yang hampir membunuhnya. Anak yang Razka peluk pertama kali ketika dia masih merah, masih basah, masih menangis dengan tangis yang terdengar seperti permulaan dunia.
"Tentang Asha. Tentang siapa dia sebenarnya — bukan anak kandung kamu dan Aira."
Razka memejamkan mata.
Selena bohong. Pasti bohong. Wanita itu sudah menghancurkan hidupnya selama bertahun-tahun — pertama sebagai sepupu yang berkhianat, kedua sebagai musuh yang menculik Aira, ketiga sebagai tahanan yang berhasil dipenjara di Sukamiskin. Bagaimana dia bebas? Bagaimana dia bisa menelepon dari luar negeri?
Dan dari mana dia mendapatkan informasi tentang Asha?
"Papa?"
Razka membuka mata. Asha sudah duduk di tempat tidur, mengucek mata.
"Kenapa Papa di sini?"
"Papa cuma lihat Asha tidur."
"Papa nangis?"
Razka menyentuh pipinya sendiri. Basah. Kapan air matanya jatuh, dia tidak tahu.
"Tidak, Sayang. Mata Papa cuma capek."
Asha turun dari tempat tidur dan memanjat ke pangkuan Razka. Tujuh tahun, kurus tapi tinggi, dengan rambut hitam yang sama persis dengan Aira. Mata cokelat tua. Hidung kecil. Senyum yang membuat hati Razka pecah setiap kali dia melihatnya — sejak hari pertama anak ini lahir.
"Papa, kalau capek, Asha pijit ya." Tangan kecilnya mulai memencet bahu Razka dengan sangat tidak terampil.
Razka tertawa, suara serak. Dia memeluk Asha erat, menyembunyikan wajahnya di rambut anak itu.
"Papa sayang Asha. Sayang banget."
"Asha juga sayang Papa. Sayang Mama. Sayang Adik Naya. Sayang sama semuanya."
Naya adalah adik perempuan Asha, lima tahun. Lahir tiga tahun setelah Asha, persalinan yang lebih mudah, anak yang lebih tenang. Aira ingin punya anak ketiga tapi dokter menyarankan berhenti — rahim Aira terlalu lemah setelah dua persalinan.
"Asha," kata Razka pelan, "kalau suatu hari ada orang bilang Papa bukan Papa Asha, atau Mama bukan Mama Asha, Asha akan bilang apa?"
Asha mengangkat wajah, mengernyit. "Pertanyaan aneh."
"Iya, Papa tahu. Tapi coba jawab."
"Asha akan bilang... orang itu bohong. Karena Papa ya Papa. Mama ya Mama. Kan Papa yang gendong Asha kalau Asha sakit. Mama yang masak telur dadar Asha. Itu Papa-Mama Asha."
Razka mencium puncak kepala anaknya. Mata berair lagi.
"Iya, Sayang. Itu benar."
Pagi itu, sebelum sarapan, Razka membawa Aira ke ruang baca dan menutup pintu. Dia menceritakan telepon semalam. Tentang Selena. Tentang klaim itu.
Aira tidak menangis. Tidak pingsan. Tidak berteriak.
Dia hanya duduk diam, tangan terlipat di pangkuan, menatap karpet.
"Aira?"
"Saya melahirkan dia, Razka."
"Saya tahu."
"Saya merasakan dia dua belas jam. Saya... saya melihat wajahnya pertama kali. Saya tahu rasanya dia berat di dadaku waktu pertama disusui. Tidak ada bayi lain yang bisa menggantikan ingatan itu."
"Saya tahu."
"Tapi..." suara Aira pecah, "...tapi kenapa Selena bilang begitu?"
"Karena dia masih ingin menghancurkan kita."
"Bagaimana cara—"
"Saya akan cari tahu. Saya akan tanya Pak Yudha bagaimana dia bisa keluar, dari mana dia menelepon. Saya akan urus."
"Razka. Saya... saya ingin tes DNA."
Razka membeku. "Aira, tidak perlu—"
"Saya ingin tes DNA. Bukan karena saya ragu. Karena saya ingin punya bukti yang bisa saya tunjukkan ke wajah Selena ketika kita menangkapnya lagi. Saya ingin bilang 'lihat ini, Selena, dan diamlah selamanya.'"
Razka memandangi istrinya. Aira yang dulu mahasiswi takut, sekarang istri mafia yang berbicara tentang menutup mulut musuh dengan bukti DNA.
Dia mengangguk. "Baik. Hari ini juga."
Sore itu, sampel rambut Razka, Aira, dan Asha (diambil tanpa Asha tahu, dari sikat rambutnya) dikirim ke laboratorium milik teman Razka di Singapura. Hasil dijanjikan tiga hari.
Tiga hari yang akan menjadi tiga hari terpanjang dalam hidup Aira dan Razka.
Pada malam pertama, Aira tidak bisa tidur. Dia berdiri di pintu kamar Asha, melihat anaknya tidur, menghitung kemungkinan-kemungkinan yang tidak mungkin.
"Aira."
Razka berdiri di belakangnya. Memeluknya dari belakang. Dagu di pundaknya.
"Apapun hasilnya," bisik Razka, "Asha tetap anak kita. Bukan karena DNA. Karena tujuh tahun terakhir. Karena setiap malam dia tidur di rumah ini. Karena setiap pagi dia bilang 'Papa, Mama' sambil minta sarapan. Itu yang membuat seseorang jadi anak."
Aira menutup matanya. "Saya tahu, Razka. Saya tahu. Tapi saya... saya takut."
"Apa yang kau takutkan?"
"Saya takut, kalau ternyata Selena tidak bohong, ada orang tua lain yang juga mencari anak mereka. Dan saya... saya mengambil anak mereka tanpa tahu."
Razka memutar tubuh Aira, menghadapkan padanya. "Aira. Lihat Papa Yudha."
"Apa?"
"Pak Yudha. Dia bekerja untuk Papa saya selama tiga puluh tahun. Pak Yudha tahu setiap bayi yang pernah dilahirkan di sekitar keluarga ini. Kalau ada bayi yang ditukar, Pak Yudha akan tahu. Saya akan tanya dia besok pagi."
"Iya."
"Tapi sekarang — kita tidur. Karena Asha akan bangun jam enam minta sarapan, dan dia akan tahu kalau Mama-nya tidak tidur."
Aira mengangguk. Mereka kembali ke kamar.
Tapi malam masih panjang.
Dan di suatu tempat di luar sana — di Bangkok, di Tokyo, di mana pun Selena bersembunyi sekarang — wanita itu mungkin sedang tertawa, mengetahui betapa satu kalimat di telepon bisa menghancurkan dunia yang dibangun selama satu dekade.