Hari pernikahan ulang.
Kebun belakang Pondok Indah dihias dengan bunga melati dan lampu tumblr putih yang menggantung di pohon-pohon. Pohon mangga tua di sudut, sekarang sudah lebih tua sepuluh tahun, jadi pusat upacara. Di bawahnya, sebuah meja kecil dengan dua kursi.
Tamu tidak banyak. Pak Mahendra duduk di baris depan dengan kursi rodanya yang baru — dia jatuh tahun lalu, tidak bisa berjalan jauh lagi. Sri Lestari di sebelahnya, sudah berkerudung putih untuk acara. Pak Yudha dan Bu Marta — yang akhirnya menikah lima tahun lalu (Aira yang menyatukan mereka). Beberapa kerabat jauh. Dr. Wira yang sudah pensiun tapi masih datang.
Asha, sekarang sepuluh tahun, jadi flower girl. Dia mengenakan dress putih sederhana dan kerudung kecil, melempar kelopak melati dengan serius. Arsa, delapan tahun, jadi ring bearer. Dia membawa bantal kecil dengan cincin — bukan cincin emas, tapi cincin kayu yang Pak Mahendra buat khusus.
Aira berjalan ke arah pohon mangga dengan kebaya putih panjang. Tidak ada pengiring. Tidak butuh. Asha dan Arsa berjalan di depannya.
Razka menunggu di bawah pohon mangga. Mengenakan baju koko putih sederhana — sama seperti hari pertama mereka menikah dulu, sepuluh tahun lalu, di ruang tamu rumah ini. Rambut hitamnya sudah banyak yang putih. Tapi mata gelapnya — mata yang sama yang Aira lihat pertama kali di gang malam itu — sekarang penuh sesuatu yang tidak pernah Aira lihat di sana dulu: kedamaian.
Aira mendekat. Razka mengulurkan tangannya. Aira meraihnya.
Penghulu yang ini bukan penghulu yang dulu. Tapi kata-katanya sama.
"Apakah Saudara Razka Adhitama mau menerima Saudari Aira sebagai istri..."
Razka menjawab tegas. Tidak ada keraguan.
"...dan apakah Saudari Aira mau menerima Saudara Razka sebagai suami..."
Aira menjawab. Suaranya pelan tapi jelas.
"Sah?" tanya penghulu pada saksi.
"Sah!" mereka semua menjawab.
Aira menangis. Tertawa. Razka memeluknya — di hadapan semua orang, di hadapan anak-anak mereka — dan menciumnya. Asha menutup mata, malu, tapi Arsa hanya tertawa keras dan bertepuk tangan.
Mereka pesta sederhana setelahnya. Aira memasak sendiri — Bu Marta protes tapi Aira bersikeras. Pak Yudha memimpin doa makan. Pak Mahendra bercerita lelucon yang sudah tua tapi tetap lucu. Asha menyanyikan lagu yang dia belajar di sekolah. Arsa makan terlalu banyak es krim dan muntah kemudian — Razka yang mengurusnya, sambil mengomel pelan tapi sabar.
Malam datang.
Setelah anak-anak tidur, setelah tamu pulang, setelah Bu Marta dan Pak Yudha kembali ke paviliun mereka, Aira dan Razka duduk di ayunan di taman. Lampu masih menyala di sebagian pohon — bekas dekorasi pernikahan.
"Aira," kata Razka pelan.
"Hm?"
"Kau pernah menyesal?"
"Menyesal apa?"
"Menyesal saya menculik kau. Menikahi kau secara paksa. Menarik kau ke dunia ini."
Aira diam lama. Dia menatap pohon mangga di sudut. Pohon yang menyaksikan semua — dari malam pertama dia melihat Razka di taman ini, sampai sekarang.
"Tidak," akhirnya dia berkata.
"Sungguh?"
"Sungguh."
"Kenapa?"
Aira menoleh, menatap suaminya — yang sudah memiliki uban, yang sudah jadi ayah, yang sudah jadi pria yang sangat berbeda dari yang pertama kali dia takuti.
"Karena tanpa kamu menculik saya," katanya pelan, "saya akan tetap jadi mahasiswi yang takut bus terakhir tidak lewat. Saya akan punya kafe kecil, mungkin, suatu hari. Saya akan menikah dengan seseorang yang baik. Saya akan punya anak. Hidup saya akan bagus. Tapi saya tidak akan pernah tahu — sungguh-sungguh tahu — apa artinya seseorang akan mati untuk saya. Apa artinya seseorang menyimpan saya di matanya sebagai sesuatu yang lebih berharga dari hidupnya sendiri."
Razka menutup matanya.
"Saya tidak menyesal," lanjut Aira, "karena saya tahu — saya benar-benar tahu — bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang seharusnya tidak bisa mencintai. Bagaimana rasanya membuka kunci di hati seseorang yang sudah lama dikunci. Bagaimana rasanya... menjadi cahaya untuk seseorang yang hidup di kegelapan."
Razka menarik napas dalam. Dia memeluk Aira, kepalanya di puncak kepalanya.
"Aira."
"Iya?"
"Setiap aksara, sebuah dunia."
"Apa?"
"Slogan kafe kita. Aku selalu suka. Setiap aksara — setiap huruf, setiap kata, setiap orang — adalah dunia. Aku tidak pernah punya duniaku sendiri sampai kau."
Aira tersenyum di pelukan suaminya. Air mata jatuh, tapi senyum tetap.
"Saya juga, Razka. Saya juga."
Mereka duduk di ayunan, dalam diam, dalam damai, dalam kebahagiaan yang dibangun di atas darah dan air mata dan pilihan-pilihan yang sulit. Hujan tidak turun malam itu — tapi Aira mengingatnya, hujan pertama di gang malam itu, sepuluh tahun lalu, yang mengubah semua.
Dan dia tahu, dengan kepastian yang sangat tenang, bahwa dia tidak akan menukar satu menit pun.
Tidak satu menit pun.
Tapi malam itu — ketika Aira sudah tidur di kamar mereka, dan Razka turun ke dapur untuk minum air — ponselnya bergetar di meja. Nomor tidak dikenal. Dari luar negeri.
Razka menatap layar. Sesuatu di tengkuknya terasa dingin. Naluri lama yang dia kira sudah mati selama bertahun-tahun.
Dia menjawab.
"Razka Adhitama," kata suara di seberang. Suara wanita. Tenang. Dingin. Sangat familiar — tapi sudah lama sekali tidak terdengar. "Sudah lama kita tidak bicara."
Razka membeku.
"Selena?"
"Aku punya satu hal yang harus kau tahu. Tentang Asha. Tentang siapa dia sebenarnya — bukan anak kandung kamu dan Aira."
Telepon ditutup.
Razka berdiri di dapur sendirian, ponsel mati di tangannya, dan menatap tangga ke kamar tempat anaknya tidur.
(bersambung...)