Razka pulang jam dua pagi seperti dijanjikan. Aira menunggu di teras dengan Asha di gendongannya — meski Pak Yudha sudah berkali-kali memintanya tidur, dia bertahan.
Mobil masuk gerbang. Razka turun. Dia berlari ke teras — pincang sedikit, tapi cepat — dan memeluk istrinya dan anaknya sekaligus.
"Aku pulang," bisiknya. "Permanen kali ini."
Aira tertawa di antara tangisnya. "Kamu sudah bilang itu sebelumnya."
"Kali ini sungguhan. Tidak ada lagi yang harus diselesaikan. Tidak ada lagi musuh. Tidak ada lagi keluarga lama. Tidak ada lagi."
Mereka masuk rumah bersama. Asha tertidur. Aira meletakkan dia di tempat tidur bayi di kamar mereka. Lalu kembali ke pelukan Razka di ruang tamu, di sofa, dengan lampu temaram.
"Bagaimana?" tanya Aira pelan.
Razka bercerita. Operasi di Canggu cepat — Rizal tidak siap untuk profesional sekelas tim Razka. Pak Yudha sudah bekerja sama dengan Bareskrim untuk membuatnya tampak seperti penangkapan resmi. Rizal akan dideportasi ke Malaysia, lalu menghadapi pengadilan untuk kasus-kasus lama. Beberapa puluh tahun, kemungkinan besar.
"Aku tidak menembak siapa pun," kata Razka, dan Aira bisa merasakan kelegaan di suaranya. "Pertama kalinya dalam hidupku, operasi yang aku pimpin tidak ada darah di tanganku."
"Bagaimana rasanya?"
"Aneh. Tapi... ringan. Sangat ringan."
Mereka tidur sampai pagi. Asha bangun jam tujuh dengan suara tangisnya yang khas. Aira bangun otomatis, tapi Razka menahan.
"Aku ambil," katanya. "Tidur lagi."
Aira tidur lagi. Razka mengambil Asha, mengganti popoknya, menyusukan susu botol (Aira sudah memerah malam sebelumnya). Dia duduk di kursi goyang dengan Asha di pelukannya, menyanyikan lagu pengantar tidur yang dia ingat dari ibunya bertahun-tahun lalu.
Asha menatapnya dengan mata gelap yang sama. Lalu, untuk pertama kalinya, dia tersenyum.
Bukan refleks. Senyum nyata. Senyum yang membuat Razka — bos mafia berdarah dingin, pria yang menarik pelatuk di gang malam itu — menangis di kursi goyang kamar bayi di pagi hari.
Aira melihatnya dari pintu, tidak ingin mengganggu, tersenyum.
Hidup baru ini sudah dimulai.
Tahun-tahun berlalu damai.
Razka sepenuhnya keluar dari bisnis lama. Dia membuka kafe kecil di kawasan Senopati — bukan karena perlu uang, tapi karena Aira selalu bercita-cita punya kafe. Mereka membuatnya bersama. Aira yang merancang menu. Razka yang mengurus bisnisnya. Nama kafenya: "Sudut Mangga" — dari pohon mangga tua di Pondok Indah.
Pak Mahendra pensiun penuh, pindah ke Bandung, dan menjadi tukang kayu amatir yang membuat mainan untuk Asha dan — dua tahun kemudian — Arsa, adik laki-laki Asha.
Daksa, setelah lima tahun pengasingan dengan terapi panjang, akhirnya dilepaskan oleh Razka. Dia menjadi penjual buku kecil di Aceh, tidak pernah kembali ke bisnis lama. Razka tidak memaafkan sepenuhnya, tapi Asha — yang sudah berumur enam tahun — pernah bertanya, "Pamanku itu siapa?" dan Razka tidak bisa menjawab dengan kebencian lagi.
Selena hilang di Belanda. Tidak ada yang tahu di mana dia, dan tidak ada yang mencari.
Bujang Pratama hidup sampai akhir di Pondok Indah, jadi semacam kakek angkat untuk Asha dan Arsa. Dia meninggal dengan damai di usia tujuh puluh delapan, dalam tidur, dengan tangan masih memegang gambar yang Asha (umur sembilan) buat untuknya.
Sri Lestari akhirnya pindah ke Jakarta, ke sebuah rumah kecil yang Razka belikan untuknya, di kompleks yang lebih sederhana dari Pondok Indah. Dia datang setiap akhir pekan, membawa kue tradisional, menggendong cucu-cucunya.
Aira menyelesaikan kuliahnya. Dia jadi sarjana ekonomi syariah. Dia mengelola sisi keuangan Sudut Mangga, dan beberapa cabang kafe yang akhirnya mereka buka di Bandung dan Surabaya.
Razka tidak pernah benar-benar kehilangan ketegasannya — dia masih bos di rumah, kalau ada yang kurang ajar pada Aira atau anak-anaknya, mata gelapnya masih bisa membekukan orang. Tapi dia tidak pernah lagi memegang pistol sejak hari di Canggu.
Pada anniversary mereka yang kesepuluh, Razka menyelipkan undangan kecil di meja sarapan untuk Aira.
PERNIKAHAN ULANG
RAZKA & AIRA ADHITAMA
Di kebun belakang Pondok Indah. Sore. Hanya keluarga.
RSVP wajib: senyum istri saya.
Aira tertawa. "Pernikahan ulang? Kita kan udah menikah sepuluh tahun."
"Kita menikah karena terpaksa, Aira. Kau tidak pernah jadi pengantin sungguhan. Kau pakai kebaya yang aku pilih, di rumah aku, di akad yang aku atur, dalam waktu lima belas detik."
"Itu cukup untuk saya."
"Tidak cukup untuk aku."
Aira menatap suaminya — pria yang sudah tidak muda lagi, dengan beberapa uban di pelipisnya, dengan luka-luka lama yang tidak akan pernah hilang sepenuhnya — dan dia tersenyum.
"Iya. Saya mau menikah ulang dengan kamu."
(bersambung...)