Tiga hari. Tiga hari Aira tidak tidur lebih dari dua jam berturut-turut.
Dia tidak melapor ke polisi. Dia bukan bodoh. Dia menonton cukup banyak berita untuk tahu bahwa nama "Razka" yang disebut pria tua itu sebelum mati bukan nama sembarangan. Razka Adhitama. Putra tunggal Keluarga Adhitama. Pewaris kerajaan bisnis yang menurut media adalah perusahaan ekspor-impor terbesar di Asia Tenggara — dan yang menurut bisik-bisik di media sosial adalah cangkang dari bisnis lain yang jauh lebih gelap.
Polisi tidak akan menyelamatkannya. Polisi mungkin justru bagian dari masalah.
Aira mengunci pintu kosnya, menutup tirai, dan tidak berani menyalakan lampu di malam hari. Setiap suara langkah di lorong membuatnya terlonjak. Setiap notifikasi di ponselnya terasa seperti ancaman. Dia tidak masuk kuliah. Dia tidak ke kafe. Dia hidup dari mie instan dan air mineral.
Pada hari keempat, ponselnya berbunyi. Nomor tidak dikenal.
Aira menatap layar. Tangannya gemetar. Akhirnya dia menjawab — dia tidak tahu kenapa.
"Aira Saraswati."
Bukan pertanyaan. Pernyataan. Suara pria itu — dalam, tenang, sedikit serak. Suara yang sama dengan yang dia dengar di gang.
Aira tidak bisa berbicara. Tenggorokannya tertutup.
"Tidak perlu menjawab. Aku tahu kau di sana." Jeda. "Aku ingin kita bertemu."
"Tidak," akhirnya Aira berhasil mengeluarkan satu kata. Suaranya pecah.
"Kau pikir kau punya pilihan, Sayang?" Nada pria itu hampir terdengar geli. "Aku sudah tahu kos-kosanmu. Aku tahu kampusmu. Aku tahu nama ibumu — Sri Lestari, tinggal di Pekalongan, RT 03 RW 05. Aku tahu adikmu Niko masih SMP, kelas dua, suka main futsal Sabtu sore."
Air mata Aira jatuh tanpa suara. Dia merosot di lantai kamar.
"Apa mau Anda?" suaranya hampir tidak terdengar.
"Sederhana. Aku ingin kau hidup. Tapi aku juga tidak boleh punya saksi yang berkeliaran. Jadi aku punya proposal untukmu."
"Pro... posal?"
"Mobil hitam akan menjemputmu di depan kos sepuluh menit lagi. Bawa dokumenmu — KTP, ijazah, akta. Tidak perlu pakaian, semua sudah disiapkan."
"Saya — saya tidak akan—"
"Aira." Suaranya melembut, dan justru karena melembut itu jadi seribu kali lebih menakutkan. "Kalau kau tidak naik mobil itu, dalam dua jam ibumu di Pekalongan akan menerima kabar bahwa adikmu mengalami kecelakaan. Bukan ancaman. Pernyataan logistik. Apa kau mengerti?"
Aira menutup mulutnya untuk menahan isak.
"Saya mengerti."
"Bagus." Nada pria itu kembali datar. "Sampai bertemu."
Telepon ditutup.
Aira tidak ingat bagaimana dia berkemas. Yang dia ingat hanyalah tangannya yang seperti milik orang lain, memasukkan KTP, ijazah, foto keluarga ke dalam tas. Dia mencium foto ibunya di meja, lalu menyimpannya di saku jaket.
Sepuluh menit kemudian, dia berdiri di depan kos. Hujan rintik. Sebuah Range Rover hitam dengan kaca gelap berhenti tepat di depannya. Pintu belakang terbuka dari dalam.
Aira menahan napas dan melangkah masuk.
Di dalam, di kursi belakang, duduk pria yang dia takuti. Razka Adhitama.
Dia memakai kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka. Rambutnya hitam, sedikit basah. Wajahnya — lebih muda dari yang Aira kira, mungkin tiga puluh tiga atau tiga puluh empat. Tampan dengan cara yang dingin dan berbahaya, seperti pisau yang sangat tajam yang dipoles dengan baik.
Mata gelap itu menyapu Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tidak nafsu. Tidak apa-apa. Hanya... evaluasi.
"Duduk," katanya pelan.
Aira duduk. Pintu tertutup otomatis. Mobil mulai bergerak.
"Anda mau bawa saya ke mana?" suaranya gemetar.
Razka tidak menjawab langsung. Dia mengeluarkan map kulit dari saku jasnya yang tergantung di sandaran. Dia membukanya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, dan meletakkannya di pangkuan Aira.
Aira menatap. Dia membaca judul di halaman pertama.
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN PERNIKAHAN
Tangannya mati rasa. Dia mengangkat wajah, menatap Razka dengan mata yang tidak bisa percaya.
"Anda — Anda mau menikahi saya?"
"Tidak," Razka menjawab tenang, menatap lurus ke depan. "Aku sudah menikahi kau. Akadnya nanti malam. Surat-surat sudah jalan."
Aira merasa dunianya berputar.
(bersambung...)