Razka pulang dari Jakarta jam delapan malam. Dia langsung tahu ada yang salah — Aira menunggu di pintu, masih dengan Asha di pelukannya, padahal jam segitu biasanya Asha sudah tidur di kamar bayi.
Mata Aira merah. Tapi tegar.
"Razka. Kita perlu bicara. Tentang... seseorang baru."
Mereka pindah ke ruang kerja. Sri Lestari sudah pamit kembali ke hotel — tidak mau menginap, terlalu trauma dengan lingkungan ini. Bujang Pratama yang menemani.
Razka mendengarkan semua tanpa menyela. Wajahnya berubah pelan-pelan dari lelah, ke tegang, ke dingin yang Aira kenal — dingin yang berarti dia sudah memetakan sesuatu di kepalanya.
Setelah Aira selesai, Razka diam lama.
"Rizal Hartono."
"Iya. Itu nama yang Bujang dapat."
"Aku akan urus."
"Razka." Aira mendekat, memegang lengan suaminya. "Kamu sudah keluar dari ini. Kamu janji. Kita janji."
"Aira. Anak yang kau gendong itu adalah cucu Hartono — di matanya. Itu artinya dia akan datang untuk Asha juga. Aku tidak punya pilihan lain."
"Kita lapor polisi. Kita pakai cara legal—"
"Aira. Saraswati Lama tidak takut polisi. Mereka melewati polisi. Kalau aku tidak menghentikan Rizal sebelum dia siap, dia akan mengirim orang untuk mengambil Asha. Kau tahu itu."
Aira tahu. Sangat tahu. Tapi dia masih ingin punya pilihan lain.
"Satu kali lagi," akhirnya dia berkata pelan. "Satu kali lagi, Razka. Hanya ini. Setelah ini — selesai. Permanen. Janji."
"Janji."
Razka mengeluarkan ponselnya. Menelpon Pak Yudha. Memerintahkan tracking Rizal Hartono yang baru masuk Indonesia tiga hari lalu lewat Medan.
Dua hari kemudian, Pak Yudha melaporkan: Rizal di Bali. Villa di Canggu. Bersama lima orang. Mempersiapkan sesuatu — bertemu dengan sisa-sisa kontak Hartono yang masih hidup di Indonesia.
"Aku berangkat besok," kata Razka pada Aira di kamar tidur, sambil mengemas tas.
"Kamu jangan sendiri."
"Tim lengkap. Sepuluh orang. Pak Yudha pimpin operasinya."
"Kamu nggak ikut?"
Razka berhenti mengemas. Menoleh.
"Ikut. Tapi cuma observer. Aku berjanji ke kamu — tidak ikut menembak kecuali harus. Selesaikan dengan cepat."
Aira mengangguk pelan. Dia tahu Razka tidak akan benar-benar diam di belakang ketika tembak-tembakan dimulai. Tapi setidaknya, dia berusaha.
Mereka tidur malam itu dengan Asha di antara mereka. Razka tidak bisa tidur — Aira tahu dari napasnya yang tidak teratur. Sekitar jam tiga pagi, Razka berbisik:
"Aira."
"Iya?"
"Kalau aku tidak kembali—"
"Razka, jangan."
"Dengarkan. Kalau aku tidak kembali, semua aset sudah di nama kau. Surat wasiat di brankas, kombinasi 8341 — sama dengan yang aku berikan kau tahun lalu. Pak Yudha tahu apa yang harus dilakukan. Bu Marta tahu apa yang harus dilakukan. Pak Mahendra juga."
"Kamu akan kembali."
"Iya. Aku akan. Tapi kalau tidak — kau dan Asha aman. Itu hal yang paling penting. Promise me kau akan menerima itu kalau itu yang terjadi. Kau tidak hancur. Kau hidup. Untuk Asha."
Aira menutup matanya. Air mata jatuh.
"Saya janji. Tapi kamu juga janji. Kembali."
"Iya."
Mereka tertidur dengan Asha di antara mereka, tangan saling memegang di atas tubuh kecil yang tidak tahu apa-apa.
Pagi datang. Razka berangkat ke Bali.
Tiga hari berikutnya adalah yang terberat dalam hidup Aira sejak diculik dulu. Dia tidak tidur. Dia tidak makan dengan benar. Dia hanya menggendong Asha — terus menerus — dan menunggu telepon.
Hari ketiga, jam tujuh malam, ponsel Aira berbunyi.
Razka.
Aira menjawab sebelum dering kedua. "Razka?"
"Selesai." Suara pria itu lelah, tapi normal. "Rizal hidup. Aku tidak membunuhnya. Pak Yudha menangkapnya. Kita serahkan ke teman-teman kita di Bareskrim. Dia punya banyak kasus lama di Malaysia yang Interpol incar."
"Kamu? Kamu baik-baik saja?"
"Baik. Tidak satu peluru pun mengenaiku. Dua orang Rizal tertembak — tapi tidak fatal. Tiga ditangkap. Selesai bersih."
Aira menangis. Mendekap Asha. Menangis lagi.
"Razka. Pulang. Sekarang. Tolong."
"Pesawat berangkat jam sepuluh. Aku di rumah jam dua pagi."
"Saya tunggu."
Mereka mengakhiri telepon. Aira berdiri di taman, dengan Asha di dadanya, dan dia menatap pohon mangga tua di sudut — pohon yang menjadi saksi semua ini, dari awal sampai sekarang.
Dia berbisik pada Asha, "Ayah pulang, sayang. Akhirnya pulang. Beneran kali ini."
Dan Asha — yang baru berumur empat bulan dan tidak mengerti apa-apa — tertawa kecil dalam tidurnya, dan Aira menganggapnya tanda.
(bersambung...)