Asha berumur empat bulan ketika bayangan dari masa lalu kembali.
Aira sedang di taman, menyusui Asha di kursi goyang di bawah pohon mangga — pohon yang sama di mana pertama kali dia melihat bayangan misterius bertahun-tahun lalu. Razka di Jakarta, urusan terakhir untuk menyelesaikan penjualan bagian operasional ke pesaing yang sudah disepakati.
Pak Yudha mendekat. Wajahnya berhati-hati.
"Bu Aira. Ada seseorang di pos depan. Minta bicara dengan Anda. Sendiri."
"Siapa?"
"Mengaku nama Sri Lestari."
Aira berhenti menyusui. Asha protes pelan dengan suara kecil. Aira menyesuaikan dia kembali ke posisi, tapi tangannya gemetar.
"Ibu? Ibu saya datang?"
"Beliau bilang harus bicara dengan Bu Aira. Tentang Bujang Pratama."
Aira berpikir cepat. Selama satu tahun terakhir, dia memberitahu ibunya bahwa dia menikah dengan pengusaha dan tinggal di Jakarta. Bahwa dia kuliahnya sudah selesai (Razka mengurus, plus tugas akhir dia kerjakan dari villa di Ubud). Bahwa hidup baik. Foto Asha sudah dikirim — ibunya menangis di video call.
Tapi ibu Aira belum pernah ke Pondok Indah. Aira berkali-kali mau menjemputnya, tapi ibunya menolak — "Mama tidak suka kota besar." Dan Aira menerima.
Kenapa sekarang? Kenapa mendadak?
"Bawa beliau masuk, Pak. Tolong."
Sepuluh menit kemudian, Sri Lestari — wanita berusia lima puluhan, berkerudung beige sederhana, dengan tas anyaman — masuk ke taman. Wajahnya tegang.
Dia melihat Aira dengan Asha di lengannya, dan untuk sesaat ekspresinya melembut — wajah seorang nenek yang bertemu cucu pertamanya untuk pertama kalinya secara langsung.
"Aira, Nak..."
"Ibu." Aira berdiri, mendekati, memeluk ibunya dengan satu lengan (lengan yang lain memegang Asha). Mereka berpelukan lama.
"Cucu Mama..." bisik Sri, menyentuh pipi Asha yang sedang tidur. Air mata.
"Iya, Bu. Asha Saraswati."
Sri berhenti. Tangannya tertahan di pipi cucunya.
"Saraswati?"
"Iya. Bu — Ibu tahu, kan, tentang ayah?"
Sri memejamkan mata. "Iya. Bujang sudah memberitahu Ibu, beberapa minggu lalu. Lewat surat."
"Bujang... menulis ke Ibu?"
"Tiga kali. Dua tahun terakhir. Ibu tidak pernah membalas. Sampai surat terakhir minggu lalu — dia bilang dia tinggal di sini, dengan kamu, dan dia sangat ingin bertemu Ibu untuk memberitahu sesuatu yang penting."
Aira menarik napas. "Apa yang dia mau katakan, Bu?"
Sri menatap putrinya. Mata Sri — mata yang Aira selalu ingat sebagai mata yang lembut dan tenang — sekarang tampak gelisah.
"Aira, Ibu harus jujur sekarang. Tentang ayahmu. Tentang siapa Ibu sebenarnya."
Aira merasa dingin merayap.
"Ibu?"
"Ayahmu — Aditya Saraswati — adalah orang baik. Tapi dia bukan satu-satunya pria di hidup Ibu, Aira. Sebelum Aditya, Ibu menikah satu kali. Pernikahan singkat. Pernikahan yang Ibu tidak pernah ceritakan padamu karena... karena cerita itu berbahaya."
"Berbahaya bagaimana?"
Sri duduk di kursi taman, lelah. Aira duduk di sebelahnya, Asha masih di lengannya.
"Pernikahan pertama Ibu dengan pria yang namanya Hartono Saraswati."
Aira menjatuhkan botol susu yang dia siapkan.
"Hartono..."
"Iya. Paman dari Aditya. Ibu menikah dengan Hartono ketika Ibu berumur sembilan belas. Pernikahan diatur oleh keluarga Ibu — keluarga Lestari, yang waktu itu adalah aliansi kecil Saraswati. Pernikahan tidak bahagia. Hartono kasar. Ibu kabur setelah satu tahun. Saat itu Aditya — keponakannya — yang membantu Ibu kabur. Dia menjaga Ibu. Akhirnya, kami jatuh cinta. Kami kabur bersama, ganti nama, menjauh dari semua orang Saraswati."
"Jadi Hartono..."
"Iya. Hartono yang dibunuh suamimu di Lembang setahun lalu — itu mantan suami Ibu."
Aira menatap ibunya dengan mata yang tidak bisa berkedip.
"Bu... apakah... apakah Hartono..."
"Bukan ayahmu, Aira. Tidak. Itu yang Ibu mau pastikan. Aditya ayahmu. Hari kelahiranmu, Ibu sudah dua tahun bersama Aditya. Kau anak Aditya. Tidak ada keraguan."
Aira bernapas lega.
"Tapi," lanjut Sri pelan, "ada satu hal yang Ibu harus katakan. Hartono tidak pernah menerima Ibu pergi. Dia selalu menganggap Ibu istrinya. Bahkan setelah Aditya meninggal, dia masih mencari Ibu. Ibu sembunyi karena dia. Hartono tidak pernah punya anak — dengan Ibu, atau dengan istri-istri lainnya. Dia obsesif tentang keturunan. Ketika dia tahu Ibu punya anak — kamu — dia... dia mengklaim kamu sebagai anaknya."
"Apa?"
"Di mata Saraswati Lama, sebagian dari mereka percaya kau adalah anak Hartono — bukan anak Aditya. Itu sebabnya mereka begitu ingin kau. Bukan hanya sebagai jaminan. Tapi sebagai 'pewaris sah' Hartono."
Aira merasa kepalanya berputar. Asha menggeliat dalam pelukannya, mungkin merasakan kegelisahan ibunya.
"Sekarang... sekarang Hartono sudah mati. Tidak ada yang mengklaim lagi—"
"Aira." Sri menggenggam tangan putrinya. "Hartono punya satu putra. Bukan dari Ibu. Dari istri keempatnya, di Malaysia. Namanya Rizal. Umurnya hampir sama dengan kamu. Dia tinggal di Penang. Tapi minggu lalu... minggu lalu Bujang dapat info — Rizal sudah masuk Indonesia. Tiga hari lalu. Lewat Medan."
"Dia datang untuk apa?"
"Untuk mengklaim semua yang dia anggap haknya. Termasuk kau, Aira. Termasuk Asha."
Aira mengangkat Asha — yang sekarang sedang tidur lelap, tidak tahu apa-apa — dan memeluknya erat.
(bersambung...)