Persalinan butuh sebelas jam.
Razka tidak meninggalkan ruangan sekali pun. Dia memegang tangan Aira selama setiap kontraksi. Mengusap punggungnya. Bercerita lelucon yang tidak lucu untuk mengalihkan. Memarahi perawat yang tidak cukup cepat. Memarahi dirinya sendiri ketika Aira berteriak.
Pada kontraksi keempat puluh tiga — Razka menghitungnya, tidak tahu kenapa — dokter berkata, "Sekali lagi, Bu Aira. Sekali lagi, kuat. Saya lihat kepalanya."
Aira mengerahkan tenaga terakhir.
Dan kemudian — suara tangisan pertama. Tinggi, marah, hidup.
Razka membeku.
Dr. Wira mengangkat sesuatu yang kecil dan basah dan berwarna merah jambu. "Perempuan, Pak. Sehat."
Perempuan. Asha.
Razka menatap bayi itu, lalu menatap Aira. Aira menangis dan tertawa dalam waktu yang sama. Razka tidak tahu wajah mana yang harus dia lihat — bayinya atau istrinya — jadi dia hanya menangis sendiri.
Perawat menyerahkan Asha — sudah dibersihkan, dibungkus selimut merah jambu — ke Aira. Aira menatap wajah anaknya untuk pertama kalinya.
Mata gelap. Mata Razka. Mata Adhitama. Mata Asha-yang-meninggal.
"Halo," bisik Aira. "Halo, sayang. Mama akhirnya bertemu kamu."
Razka berlutut di samping tempat tidur. Tangannya menyentuh pipi Asha dengan ujung jari. Sangat hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang akan pecah.
"Asha," bisiknya. "Asha Saraswati. Selamat datang."
Pak Mahendra menunggu di lorong. Ketika Razka keluar untuk mengabarkan, pria tua itu berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar.
"Cucu?"
"Perempuan, Ayah. Sehat. Aira juga sehat."
Pak Mahendra menutup matanya. Dia berdiri seperti itu lama. Lalu dia memeluk Razka — pelukan yang kaku, canggung, tapi nyata. Pelukan yang seharusnya sudah lama terjadi.
"Boleh aku masuk?"
"Tentu."
Pak Mahendra masuk ke kamar Aira. Dia menatap cucu pertamanya dengan mata yang basah. Bujang Pratama juga ada di ruangan — Aira menginginkannya, dia satu-satunya orang yang masih hidup dari sisi keluarganya. Dia menangis pelan di sudut, melihat keturunan terakhir Aditya Saraswati lahir dengan damai.
Bu Marta masuk dengan jus. Pak Yudha berdiri di pintu, tersenyum lebar yang Aira jarang lihat.
Kamar itu penuh dengan orang — orang yang bukan keluarga darah Aira, tapi keluarga yang dia pilih (atau yang memilihnya). Dan di tengah semua itu, bayi mungil yang baru bernapas selama satu jam, tidur dalam pelukan ibunya.
Asha tumbuh cepat di bulan-bulan pertama. Razka jadi ayah yang surprising — meskipun di bulan pertama dia panik tiap kali Asha menangis, di bulan ketiga dia sudah jago mengganti popok dengan satu tangan sambil menelpon dengan tangan lainnya. Aira sering memergokinya tertidur di kursi goyang sambil memegang Asha di dadanya.
Pak Mahendra menjadi kakek yang luar biasa. Dia datang ke Pondok Indah setiap hari Minggu, membawa boneka kayu yang dibuatnya sendiri di workshop kecilnya di Bandung. Asha — bahkan ketika masih bayi — selalu tenang di pangkuannya.
Daksa, di pengasingannya — Razka tidak membunuhnya, tapi mengirimnya ke sebuah villa di Aceh dengan pengawasan ketat — menerima foto Asha dari Razka, dengan satu kalimat: "Ini keponakanmu. Kalau suatu hari kau sudah benar-benar berubah, kau bisa kenal dia."
Selena dikirim ke Belanda dengan identitas baru dan instruksi tidak pernah kembali. Razka tidak ingin membunuhnya — Aira yang memintanya. "Hukum mati itu mudah," kata Aira. "Hidup dengan menjadi orang baru itu yang sulit."
Bujang Pratama tetap tinggal di Pondok Indah, sebagai penasihat keluarga. Dia juga sering menggendong Asha.
Kehidupan menjadi normal.
Bukan sempurna. Tidak ada keluarga yang pernah normal sempurna. Tapi cukup normal untuk bayi tumbuh tanpa pernah tahu bahwa ayahnya pernah bos mafia, atau ibunya pernah diculik.
Cukup normal untuk berani bermimpi tentang masa depan.
(bersambung...)